Ilustrasi(Dok Istimewa)
DINAS Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, telah memitigasi upaya antisipasi dan pengendalian akibat kekeringan akibat musim kemarau. Upaya itu menjadi prioritas mengingat tandus nan bertepatan musim tanam April-September ini diprediksi cukup ekstrem.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas TPHP Kabupaten Cianjur, Wahyu Ginanjar, menyebut sejak jauh-jauh hari sudah menginformasikan perkembangan suasana ke semua jejeran hingga ke tingkat di bawahnya. Informasi itu berangkaian Surat Menteri Pertanian RI Nomor: B-73/TI.050/M/03/2026 tanggal 9 Maret 2026 tentang Antisipasi Dampak Kemarau terhadap Produksi Pertanian dan Surat Kepala BMKG No: e.T/KL.00.02/008/DK/III/2026 tanggal 16 Maret 2026 tentang Prediksi Musim Kemarau 2026.
"Sejak April kami sudah open info ke semua UPTD maupun PPL (Petugas Penyuluh Lapangan). Pada prinsipnya, kita sudah memitigasi untuk antisipasi dan pengendalian akibat kekeringan akibat musim kemarau," kata Wahyu didampingi Kepala Bidang Tanaman Pangan Dandan Hendayana dan Jabatan Fungsional Prasarana dan Sarana Pertanian, April, Senin (20/7).
Wahyu mengaku, pihaknya sampai saat ini sudah menerima laporan terjadinya akibat kekeringan terhadap lahan pertanian akibat tandus panjang. Salah satunya di Desa Sindangsari Kecamatan Ciranjang.
Dinas TPHP pun langsung melaksanakan rapat koordinasi dengan mengundang Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum serta komponen mengenai lainnya. Antara lain UPTD, PPL, petugas POPT, dan komponen teknis lainnya.
Wahyu menyebutkan, sebagaimana nan diprediksikan BMKG, musim tandus di wilayah Kabupaten Cianjur terjadi sejak Mei dan puncaknya diperkirakan pada Agustus 2026.
"Pada saat ini, secara aktual telah terjadi akibat kekeringan terhadap pertanian, terutama lahan pesawahan di Daerah Irigasi Cihea nan mengairi lahan sawah di Kecamatan Ciranjang, Kecamatan Bojongpicung, dan Kecamatan Haurwangi. Kekeringan nan terjadi di Desa Sindangsari itu lantaran wilayahnya berada di ujung. Karena itu, wilayah ini masuk kategori golongan III nan berfaedah berada di hilir," ujarnya.
Dampak kekeringan terhadap lahan sawah di wilayah itu dilatarbelakangi penurunan debit air secara drastis di waduk utama Cisuru. Berdasarkan keterangan perwakilan BBWS Citarum, saat ini telah terjadi penurunan debit air secara drastis.
"Pada keadaan normal, debit air di DI Cihea bisa mencapai 7 ribu liter per detik. Sejak memasuki tandus hingga kini, debit air turun drastis menjadi 3.400 liter per detik," terangnya.
Faktor teknis
Wahyu menuturkan, keterangan dari aparatur di wilayah, terhambatnya suplai air tidak hanya akibat menurunnya debit ke jaringan irigasi. Ada beberapa aspek teknis lain nan menghalang pasokan air ke lahan pertanian alias sawah.
"Jadi, penggunaan air irigasi ini banyak juga dipakai keperluan lain seperti untuk perikanan ataupun permukiman. Kemudian terjadi penyumbatan saluran air lantaran sampah plastik dan lainnya sehingga mengganggu aliran," tegas Wahyu.
Saat ini Dinas TPHP maupun pemangku kebijakan seperti BBWS Citarum, UPTD, PPL, dan POPT melakukan beragam langkah agar pasokan air bisa mengalir ke lahan pertanian. Antara lain menyiapkan agenda gilir giring sejak 6 Juli 2026, sosialisasi dengan P3A Mitra Cai, golongan tani, Babinsa, Babinkambtibmas, serta BBWS Citarum.
"Kemudian para PPL telah melakukan pemetaan lahan sawah mana saja nan berpotensi dan tidak berpotensi terhadap akibat kekeringan di wilayah DI Cihea. Termasuk mengoptimalkan penggunaan pompa air dan irigasi perpompaan serta menyesuaikan agenda tanam. Ini sangat krusial diperhatikan agar pengedaran air dapat dimanfaatkan secara optimal," terangnya.
Dinas TPHP sudah meminta agar agenda gilir giring air lebih diprioritaskan untuk lahan sawah nan berada di hilir. Termasuk mengintensifkan pengawasan petugas kontrol di setiap gedung pintu air irigasi agar konsentrasi hanya untuk lahan sawah.
"Sejauh ini ada banyak gedung pintu air nan sudah terkunci sesuai agenda gilir giring rupanya banyak dirusak oknum nan tidak bertanggung jawab. Perlu disosialisasikan juga agar penduduk bergotong royong mengangkat sampah plastik di sepanjang aliran sekunder dan tersier," pungkasnya.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·