Diteken Era Habibie, Akhirnya Proyek Gas Raksasa Dibangun Prabowo

5 hari yang lalu 19

Maluku, CNBC Indonesia - Proyek gas raksasa Lapangan Abadi Blok Masela akhirnya resmi memasuki tahap pembangunan fisik. Proyek nan sudah disepakati sejak tahun 1998 ini memasuki babak baru ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada Kamis (16/7/2026).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut proyek nan telah direncanakan selama 28 tahun itu baru bisa dieksekusi pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Pada hari ini tepat pada tanggal 16 Juli kita menandai babak baru proyek Abadi Masela nan sudah dicanangkan 28 tahun lampau sudah 6 Presiden, pak Prabowo Subianto lah nan bisa eksekusi hari ini," kata Bahlil dalam aktivitas groundbreaking PSN Lapangan Abadi Blok Masela, Kamis (16/7/2026).

Bahlil membeberkan, selama bertahun-tahun proyek Lapangan Abadi Blok Masela tersendat lantaran adanya perdebatan panjang mengenai konsep pengembangan kilang ialah antara pembangunan di laut (offshore) alias di darat (onshore).

Namun Prabowo meminta untuk segera mengeksekusi proyek tersebut serta memberikan kepastian terhadap seluruh konsesi dan perizinan migas nan sudah selesai Plan of Development (PoD) nya tetapi belum dilaksanakan.

"Atas dasar itu surat peringatan pertama kepada Inpex kita layangkan dan alhamdulillah hari ini kita lakukan groundbreaking," ujarnya.

Prabowo mengatakan, pembangunan proyek ini sangat krusial dalam perjalanan pembangunan Indonesia. Ia bersyukur, setelah nyaris tiga dasawarsa menunggu, akhirnya Proyek ini mulai dibangun juga.

"Proyek ini nyaris 3 dasawarsa 3 dasawarsa, kita tunggu. 3 dasawarsa 3 dasawarsa rakyat menunggu. Alhamdulillah hari ini kita mulai pembangunan, dan pembangunan tidak boleh terhambat, kudu selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya," ujar Prabowo dalam sambutan peresmian.

Prabowo menguraikan bahwa di Kepulauan Tanimbar di Maluku Indonesia mempunyai persediaan daya nan sangat besar. "Kita sudah sadar ini 28 tahun nan lalu, dan kita menghargai semua unsur, kita apresiasi kita kudu memberi suatu penghargaan sekali lagi kepada semua unsur nan telah memungkinkan proyek ini terwujud," tuturnya.

Prabowo menyebut, ada upaya nan tak mudah dalam pembangunan proyek strategis ini. Membutuhkan sinergi antar kementerian dan lembaga untuk dapat merealisasikannya. Sebagaimana diketahui, sejak pertama kali dikontrak hingga akhirnya memasuki tahap pembangunan fisik, Blok Masela telah melewati beragam perubahan kebijakan, pergantian pemerintahan, hingga tarik-ulur skema pengembangan.

Sementara, CEO Inpex Corporation Takayulo Ueda mengatakan, proyek ini mencerminkan eratnya kerjasama antara Pemerintah Indonesia, seluruh pemangku kepentinga, dan INPEX dalam memperkuat ketahanan daya nasional serta mendorong pembangunan nan berkelanjutan.

"Berkat sinergi nan kuat tersebut, hari ini kita dapat berdiri berbareng dan memulai babak baru dalam perjalanan Proyek Abadi Energy," ucapnya.

Menurutnya, proyek ini bakal menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan menciptakan faedah nan berkepanjangan bagi masyarakat serta generasi mendatang.

Selain itu, melalui pasokan daya nan dihasilkannya, proyek ini mempunyai peran nan sangat krusial dalam mendukung ketahanan daya Jepang maupun area Indo-Pasifik.

"Proyek ini diberi nama Abadi dengan angan dapat terus menjalankan peran tersebut selama bertahun-tahun ke depan. Selama bertahun-tahun, orang-orang di Jakarta membicarakan Abadi. Orang-orang di Tokyo juga membicarakan Abadi. Para penanammodal membicarakan Abadi, para kontraktor pun membicarakan Abadi. Hari ini, Abadi kembali ke tempat di mana semuanya betul-betul dimulai, ialah di Saumlaki," sebutnya.

Profil Blok Masela

Lapangan Abadi tercatat mempunyai persediaan gas sekitar 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas. Potensi ini menjadikannya salah satu proyek gas paling strategis di Indonesia.

Proyek ini juga berpotensi menghasilkan 9,5 juta metrik ton per tahun (MMTPA) LNG dan 150 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) gas pipa. Selain itu, Lapangan Abadi diperkirakan dapat menghasilkan produksi kondensat sebesar 35.000 barel per hari.

Kontrak bagi hasil Blok Masela sendiri ditandatangani antara Pemerintah Indonesia dan Inpex Corporation pada 16 November 1998, saat Presiden BJ Habibie tetap memimpin Indonesia. Meski nyaris 30 tahun sejak perjanjian diteken, proyek Blok Masela belum juga memasuki tahap produksi.

Selama rentang waktu itu proyek ini mengalami beragam tantangan. Dimulai dari proses eksplorasi, penyusunan rencana pengembangan (Plan of Development/POD), perubahan kebijakan pemerintah, hingga penyesuaian skema investasi.

Awalnya, perjanjian PSC Blok Masela bertindak selama 30 tahun dan semestinya berhujung pada 2028. Namun, pada Oktober 2017, pemerintah memberikan perpanjangan perjanjian selama 20 tahun hingga 2048. Selain itu, pemerintah juga memberikan tambahan waktu tujuh tahun sehingga masa perjanjian bertindak hingga 2055.

Perpanjangan tersebut diberikan lantaran proyek belum memasuki tahap produksi, sementara Inpex menyatakan komitmennya untuk tetap melanjutkan pengembangan Lapangan Abadi.

Tambahan tujuh tahun juga menjadi corak kompensasi atas perubahan kebijakan pemerintah nan mengharuskan pembangunan akomodasi kilang gas alam cair (LNG) dilakukan di darat (onshore) bukan lagi di laut (offshore) sebagaimana rencana awal.

Operator Blok Masela

Inpex Masela Ltd merupakan pemegang kewenangan partisipasi (Participating Interest/ PI) terbesar di Blok Masela ialah mencapai 65%. Sebelumnya, Inpex ditemani oleh Shell Upstream Overseas Services dengan saham 35%. Namun sayangnya, Shell memutuskan hengkang dari proyek gas kekal nan berlokasi di Maluku itu.

Adapun 35% saham Shell tersebut sejak Juli 2023 lampau telah diambil oleh PT Pertamina Hulu Energi melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) sebesar 20% dan Petronas 15%.

Perjanjian jual beli kewenangan partisipasi dari Shell ke Pertamina dan Petronas ini ditandatangani pada 25 Juli 2023 dan persetujuan Menteri ESDM atas pengalihan PI diperoleh pada 4 Oktober 2023.

Berikut jejak krusial Proyek Gas Lapangan Abadi, Blok Masela:

1998: Kontrak bagi hasil (PSC) ditandatangani oleh Inpex

2000: Penemuan persediaan gas jumbo di Blok Masela

2019: Persetujuan Rencana Pengembangan Pertama (PoD-I) oleh Pemerintah Indonesia, untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas bumi, dan 35.000 bph kondensat.

2023: Shell hengkang, Pertamina dan Petronas masuk memegang kewenangan partispasi masing-masing 20% dan 15%. Kemudian, Revisi 2 POD-I disetujui Pemerintah Indonesia, lantaran memasukkan akomodasi CCS.

2025: FEED OLNG resmi diluncurkan.

2026: Groundbreaking LNG Blok Maslea di Darat Kepulauan Tanimbar, Maluku oleh Prabowo Subianto

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya