Menteri Senior di Kementerian Pengembangan Digital dan Informasi Singapura, Tan Kiat How, memberi pemaparan tentang AI pada aktivitas SAP Now AI Tour Southeast Asia 2026 di Marina Bay Sands Expo & Convention di Singapura, Selasa (4/8).(MI/BUDI ERNANTO)
MENTERI Senior di Kementerian Pengembangan Digital dan Informasi Singapura, Tan Kiat How, menilai perkembangan kepintaran buatan (AI) tidak mengurangi peran dari manusia.
Sebaliknya, kemajuan teknologi membikin penguasaan dasar-dasar teknologi menjadi semakin krusial agar masyarakat bisa beradaptasi dengan perubahan bumi kerja.
Dalam pidatonya pada aktivitas SAP Now AI Tour Southeast Asia 2026 di Marina Bay Sands Expo & Convention di Singapura, Selasa (4/8), Tan mengatakan perdebatan saat ini semestinya tidak lagi berfokus pada keahlian AI, melainkan akibat nan ditimbulkannya terhadap bumi kerja dan kebutuhan keahlian baru.
"Yang lebih krusial bukanlah apa nan dapat dilakukan AI, melainkan apa nan diubah AI," kata Tan.
Menurut dia, setiap revolusi teknologi selalu mengubah langkah bekerja, termasuk keahlian nan paling dibutuhkan. AI memang bisa mempercepat pengembangan perangkat lunak, kajian data, hingga pembuatan konten, tetapi perihal itu tidak membikin skill teknis menjadi kurang penting.
"Keunggulan teknis justru menjadi semakin penting. Ilmu komputer, rekayasa perangkat lunak, pemikiran sistem, keamanan siber, dan arsitektur tetap menjadi fondasi pekerjaan teknologi," ujarnya.
Tan menjelaskan keahlian AI kudu diimbangi dengan pemahaman nan kuat agar manusia dapat mengetahui langkah kerja teknologi tersebut, mengenali keterbatasannya, menguji dugaan nan dihasilkan, serta menentukan kapan penilaian manusia tetap diperlukan.
Ia menambahkan pembeda utama di era AI bukan hanya keahlian teknis, tetapi juga keahlian mengidentifikasi persoalan, memahami kebutuhan pelanggan, bekerja lintas disiplin, serta menggabungkan teknologi dengan pemahaman bisnis.
"Teknologi menentukan apa nan mungkin dilakukan, tetapi manusialah nan menentukan apa nan betul-betul bernilai," katanya.
Tan juga menilai kebutuhan tenaga teknologi tetap terus meningkat di beragam sektor. Di Singapura, sekitar dua pertiga pekerjaan bagian teknologi sekarang berada di luar industri teknologi info dan komunikasi (ICT), seperti jasa kesehatan, manufaktur, jasa keuangan, hingga sektor publik.
"Teknologi bukan lagi sekadar sebuah industri, tetapi telah menjadi keahlian nan dibutuhkan setiap industri," ujarnya.
Menurut Tan, transformasi AI tidak cukup hanya dilakukan dengan mengangkat teknologi baru. Organisasi juga kudu memastikan para pekerja mempunyai keahlian memanfaatkan AI untuk menyelesaikan persoalan nyata.
"Organisasi tidak bakal sukses hanya lantaran menerapkan AI. Mereka sukses lantaran bisa mengembangkan sumber daya manusia nan tahu langkah memanfaatkan AI untuk menyelesaikan masalah nan betul-betul penting," kata Tan.
Karena itu, Singapura memperkuat kerjasama antara pemerintah, perguruan tinggi, bumi usaha, dan perusahaan teknologi melalui beragam program pengembangan keahlian agar tenaga kerja tetap relevan di tengah perubahan nan dipicu AI.
"Pada akhirnya, AI tidak bakal menentukan masa depan kita. Pilihan nan kita ambil dalam memanfaatkan AI-lah nan bakal menentukannya," tutup Tan. (I-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·