ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Pertemuan puncak (KTT) NATO nan berjalan selama 48 jam di Turki menjadi panggung nan memperlihatkan besarnya pengaruh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap dinamika diplomasi global.
Di tengah ketegangan akibat perang Ukraina, bentrok Iran, hingga perdebatan soal shopping militer, suasana KTT berubah drastis dari penuh konfrontasi menjadi jauh lebih bersahabat.
Awalnya, banyak pemimpin NATO datang dengan kekhawatiran menghadapi Trump nan sebelumnya kembali mengkritik negara-negara personil lantaran dinilai belum memenuhi komitmen shopping pertahanan. Namun, suasana berubah setelah pertemuan tertutup antar pemimpin berlangsung. Trump apalagi mengungkapkan atmosfer obrolan jauh lebih positif dari nan diperkirakan.
"Persatuan itu luar biasa. Kasih sayang di ruangan itu sangat luar biasa," kata Trump dalam konvensi pers penutupan KTT, seperti dikutip CNBC International, Jumat (10/7/2026).
Perubahan sikap tersebut mengejutkan banyak pihak. Beberapa pemimpin bumi nan mengikuti pertemuan secara tertutup menyebut Trump mendengarkan seluruh pandangan para pemimpin NATO dan meninggalkan forum dengan suasana hati nan baik. Hal itu berbanding terbalik dengan kritik keras nan dia lontarkan kepada sejumlah sekutu hanya beberapa jam sebelumnya.
Selama KTT, beragam rumor besar bertumpuk dalam satu forum, mulai dari perang Rusia-Ukraina, ancaman Iran, sengketa Greenland dengan Denmark, hingga penolakan Spanyol memenuhi sasaran shopping pertahanan NATO. Trump dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kembali menekan personil NATO agar meningkatkan anggaran pertahanan serta menegaskan komitmen terhadap keamanan bersama.
Di tengah rangkaian agenda tersebut, Trump juga membikin pasar finansial sempat bergolak setelah menyatakan dirinya telah selesai membahas nota kesepahaman maupun gencatan senjata dengan Iran. Pernyataan itu sempat memicu kekhawatiran investor, mendorong nilai minyak naik dan menekan pasar saham sebelum akhirnya perhatian kembali tertuju pada hasil KTT.
KTT ini juga menjadi momentum positif bagi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Hubungannya dengan Trump dinilai membaik setelah Ukraina bisa mempertahankan posisi di medan perang. Zelenskyy apalagi disebut berkesempatan memperoleh support lebih besar, termasuk kesempatan kerja sama produksi sistem rudal Patriot nan selama ini menjadi kebutuhan utama Kyiv.
Di sisi lain, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan keluar sebagai salah satu pemenang setelah sukses menjadi tuan rumah penyelenggaraan KTT. Posisi Ankara dinilai semakin kuat, termasuk kesempatan memperoleh restu Washington mengenai pengadaan jet tempur F-35. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte juga dipandang sukses menjaga hubungan baik antara aliansi dengan pemerintahan Trump.
Sebaliknya, Rusia diperkirakan menjadi pihak nan paling dirugikan. Demonstrasi persatuan NATO, komitmen peningkatan shopping pertahanan, serta membaiknya hubungan Trump dengan Ukraina menjadi perkembangan nan tidak menguntungkan bagi Presiden Vladimir Putin. Sementara itu, masa depan hubungan AS dengan Iran tetap menyisakan tanda tanya besar.
Ketika ditanya mengenai langkah Washington selanjutnya terhadap Iran andaikan betul-betul meninggalkan jalur gencatan senjata, Trump tidak memberikan jawaban rinci. Ia hanya menegaskan bahwa Iran tidak bakal pernah mempunyai senjata nuklir selama dirinya memimpin AS.
(tfa/tfa)
Addsource on Google

1 hari yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·