Lokasi kecelakaan sepeda motor ditumpangi 3 orang tertemper kereta api nan sedang melintas di Jalan Kokrosono Kota Semarang, Senin (20/7).(Dok Istimewa)
TERJADI dua kejadian kecelakaan kereta api dalam waktu nyaris berbarengan ialah di Kota Semarang dan Batang, 2 orang meninggal bumi serta 2 lainnya kritis dan sekarang tetap menjalani menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Pemantauan Media Indonesia Senin (20/7) pagi di tengah kepadatan arus lampau lintas di Kota Semarang, tiba-tiba dikejutkan dengan adanya bunyi tumbukan cukup keras di perlintasan kereta api Jalan Kokrosono, Kecamatan Semarang Tengah, ketika sebuah sepeda motor ditumpangi tiga orang tertabrak kereta api.
Dalam peristiwa tersebut, seorang anak merupakan merupakan siswa sekolah dasar ZIA (12), penduduk Kaliasin, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang meninggal dunia, sedangkan dua penumpang sepeda motor lainnya HRA (9) dan Rujito (45), om korban mengalami luka serius dan dilarikan ke RSUP Dr Kariadi Semarang.
"Pada peristiwa tersebut, korban diduga nekad menerobos palang pintu dan menyeberangi perlintasan kereta api, " kata Kepala Unit Penegakan Hukum Satuan Lalulintas Polrestabes Semarang AKP Untung.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 07.00 WIB, lanjut Untung, berawal ketika kondisi lalulintas Jalan Kokrosono, Kota Semarang cukup padat, di tengah kepadatan arus kendaraan tersebut, sebuah sepeda motor dikendarai korban Rujito dengan membonceng dua anak berseragam sekolah dasar tiba-tiba menerobos palang pintu rel kereta api.
Pada saat itu ada sebuah kereta api nan sedang melintas, ungkap Untung, apalagi petugas penjaga palang pintu rel kereta api sudah berteriak memperingatkan agar berhenti, tetapi korban tetap nekad menerobos hingga tertemper kereta api itu. "Kita mendapatkan info itu langsung ke letak kejadian dan lakukan pemindahan terhadap para korban, " tambahnya.
Sementara itu di Kabupaten Batang sekitar pukul 18.18 WIB, seorang pejalan kaki tewas tertemper Kereta Api (KA) 182A Kamandaka rute Tegal–Semarang di perlintasan sebidang petak di KM 79+3/4 jalur hulu antara Stasiun Pekalongan dan Stasiun Batang alias tepatnya belakang pasar Batang,
Korban merupakan penduduk Kelurahan Karangasem Selatan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang itu diduga mengalami gangguan pendengaran, lantaran meskipun telah banyak diteriaki penduduk saat nelibtasi rel dan klakson kereta api nan terus bersuara namun tetap menyeberangi perlintasan nan sudah ditutup oleh penjaga.
"Warga sudah berteriak-teriak memperingatkan agar tidak melintas, apalagi kereta api bakal melintas juga membunyikan klakson, tetapi korban tetap melangkah jalan kaki nyeberang di perlintasan nan telah ditutup, " ujar Mustofa, seorang saksi mata.
Kepala Seksi Bina Keselamatan Jalan dan Perlintasan Kereta Api Dinas Perhubungan Kabupaten Batang Bambang Pitono mengatakan saksi mata telah berupaya maksimal mencegah korban, apalagi palang pintu sudah tertutup semua tetapi kirban terap melangkah di atas rel kereta api.
"Diduga korban mengalami gangguan pendengaran, sehingga teriakan penduduk dan juga kereta api teksh berhali-kali membunyikan Semboyan 35 alias klakson lokomotif sebagai tanda ancaman tidak didengarkan" demikian Bambang Pitono.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·