Ilustrasi(Dok Istimewa)
Upaya memperkuat perlindungan anak dari ancaman kekerasan seksual perlu dimulai sejak usia awal melalui edukasi nan mudah dipahami. Pengenalan mengenai batas tubuh, jenis sentuhan nan kondusif dan tidak aman, hingga keberanian melapor kepada orang dewasa nan dipercaya menjadi bekal krusial bagi anak dalam menjaga keselamatan diri.
Kesadaran tersebut menjadi semakin relevan mengingat tetap banyak anak usia sekolah dasar nan belum memahami konsep perlindungan diri dan langkah nan kudu dilakukan ketika menghadapi situasi nan berpotensi membahayakan. Karena itu, kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi aspek krusial dalam menciptakan lingkungan kondusif dan ramah bagi anak.
Berangkat dari kepedulian tersebut, tim mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Mercu Buana (UMB) menggelar Kampanye Stop Child Abuse (SCA) di SDN Kebayoran Lama Utara 09, Jakarta, Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan nan diikuti 35 siswa kelas IV SD itu bermaksud meningkatkan pemahaman peserta soal perlindungan diri melalui pendekatan komunikasi visual nan edukatif dan interaktif.
Tim tersebut terdiri atas Shalsa Hasna Latifah, Raihan Erdiyansyah, Talita Shafhah Syahsiyah, Muhamad Fikriansyah, Muhammad Farrel J S., Ahmad Wasi Fathoni, dan Mochamad Wisnu Inggra Diantoro. Program ini menjadi corak pengabdian kepada masyarakat dan upaya meningkatkan literasi anak mengenai pencegahan kekerasan seksual.
Kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan penyampaian materi oleh Melani Aprianti, pengajar Psikologi UMB. Dalam sesi tersebut, siswa dikenalkan pada pentingnya menjaga privasi tubuh, memahami perbedaan safe touch dan unsafe touch, serta pentingnya segera melapor kepada orang tua, pembimbing alias orang dewasa nan dipercaya jika mengalami tindakan tidak pantas.
Materi disampaikan melalui obrolan interaktif, permainan edukatif, dan sesi tanya jawab agar lebih mudah dipahami oleh peserta.
Melani mengatakan pendidikan tentang perlindungan diri perlu diberikan sejak usia awal agar anak mempunyai pengetahuan serta keberanian untuk menjaga keselamatan dirinya.
"Kegiatan ini bermaksud membekali anak-anak dengan pengetahuan dan keahlian sederhana agar bisa mengenali batas tubuh, memahami perbedaan sentuhan kondusif dan tidak aman, berani mengatakan tidak, serta segera mencari support kepada orang dewasa nan dipercaya ketika menghadapi situasi nan membikin tidak nyaman. Semoga melalui aktivitas ini, anak-anak tumbuh jadi pribadi nan lebih berani, bijaksana, dan bisa menjaga diri dengan baik, sehingga tercipta lingkungan belajar aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang setiap anak," ujar Melani.
Ia menambahkan antusiasme siswa selama aktivitas cukup tinggi. Namun, tetap ditemukan peserta nan belum memahami batas tubuh dan langkah merespons situasi nan berpotensi mengarah pada kekerasan seksual. Karena itu, edukasi serupa perlu dilakukan secara berkepanjangan dengan melibatkan sekolah dan keluarga.
Pihak SDN Kebayoran Lama Utara 09 mengapresiasi kampanye tersebut. Wakil Kepala Sekolah menyebut edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual dan perundungan merupakan bekal krusial bagi siswa SD.
"Alhamdulillah, aktivitas sosialisasi pencegahan kekerasan seksual dan bullying melangkah dengan lancar. Antusiasme siswa sangat luar biasa. Dari sosialisasi ini kita belajar bahwa setiap kata dan tindakan mempunyai dampak. Semoga ini menjadi langkah nyata SDN Kebayoran Lama Utara 09 Pagi menuju Sekolah Zero Bullying dan Zero Kekerasan Seksual. Terima kasih kami sampaikan kepada para pemateri dan seluruh panitia pelaksana atas dedikasi serta pengetahuan nan diberikan," katanya.
Dari pertimbangan kegiatan, para siswa menunjukkan peningkatan pemahaman soal pentingnya menjaga diri, mengenali situasi nan berisiko, serta keberanian melapor andaikan mengalami alias menyaksikan tindakan nan tidak semestinya.
Dengan kampanye SCA itu, penyelenggara berambisi edukasi pencegahan kekerasan seksual terhadap anak dapat terus diperluas di lingkungan sekolah.
"Dengan support seluruh pihak, diharapkan semakin banyak anak nan mempunyai pengetahuan dan keberanian untuk melindungi diri sehingga tercipta lingkungan belajar nan aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang mereka," pungkas Melani. (H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·