Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi ekonomi nan sedang tertekan rupanya kerap diiringi munculnya beragam teror misterius nan membikin masyarakat resah. Dalam beberapa periode sejarah Indonesia pun, rumor kemunculan pocong hingga sosok gaib lainnya berulang kali merebak saat situasi ekonomi sulit.
Fenomena teror pocong nan belakangan viral dan meresahkan penduduk di sejumlah wilayah di Jawa Timur pun menyita perhatian publik. Melansir detikcom, jagat media sosial dipenuhi beragam unggahan berisi kesaksian penduduk hingga rekaman video amatir nan diklaim memperlihatkan sosok berbaju kafan muncul di ruang publik pada malam hari.
Kemunculan rumor tersebut bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Catatan sejarah menunjukkan teror pocong pernah beberapa kali membikin penduduk takut keluar rumah pada malam hari, apalagi dalam sejumlah kasus dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk melancarkan aksinya saat situasi sosial dan ekonomi sedang sulit.
Kala itu, sejumlah kemunculan teror pocong terjadi berdekatan dengan masa-masa susah perekonomian nasional, mulai dari perlambatan ekonomi pada akhir 1980-an hingga krisis moneter 1997-1998 nan mengguncang Indonesia.
Dalam studi berjudul Mistisisme Pocong Sebagai Representasi Arwah Gentayangan (2023), pocong dikenal sebagai sosok arwah nan terbungkus kain kafan dan dipercaya belum menemukan ketenangan setelah kematian. Sosok ini dianggap sebagai arwah gentayangan nan tetap mempunyai keterikatan dengan bumi nyata.
Harian Berita Yudha (19 November 1984) pernah memberitakan keresahan penduduk Purwokerto akibat kemunculan hantu tersebut. Pada malam hari hantu pocong meneror rumah penduduk dalam laporan tersebut. Polisi kemudian mengungkap teror itu sebagai langkah baru alias modus pencurian.
Empat tahun setelahnya harian Neraca (31 Oktober 1988) juga menyoroti rumor teror pocong nan meneror rumah penduduk agar takut keluar rumah saat malam. Barulah saat sepi, pocong tersebut melancarkan tindakan kejahatan terhadap gedung usaha. Gudang milik pedagang dibobol, sementara duit jutaan rupiah milik bengkel penduduk dilaporkan hilang.
"Karena rumor bohong itu tersebar luas sampai ke masyarakat, sekarang penduduk dibuat tidak berani keluar rumah jika malam hari," tulis Harian Neraca.
Pada saat nan sama, kondisi ekonomi Indonesia memang sedang mengalami tekanan. Sejarawan Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam kitab Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012) mencatat akhir dasawarsa 1980-an menjadi periode susah bagi perekonomian nasional. RAPBN tahun anggaran 1986/1987 mengalami penurunan sekitar 7% akibat penurunan ekspor migas.
"Pertumbuhan melamban, perdagangan dan investasi menurun tajam, utang meningkat dan pemerintah menghadapi tantangan fiskal nan besar lantaran jatuhnya pendapatan minyak," tulis keduanya.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1997, teror pocong kembali menghebohkan masyarakat. Di Ciamis, Jawa Barat salah satunya. Dalam laporan surat berita Berita Yudha (3 Juli 1997), satu kota disebut dilanda ketakutan akibat kemunculan pocong setiap malam selepas magrib.
Sasaran kemunculan pocong saat itu adalah anak wanita di bawah usia 17 tahun dan anak laki-laki di bawah lima tahun. Bahkan, dalam satu waktu disebut ada 27 pocong berkeliaran.
"Sasaran operasinya anak gadis di bawah usia 17 tahun alias anak laki-laki usia di bawah 5 tahun," tulis laporan surat berita tersebut.
Seorang penduduk berjulukan Arim mengaku memandang langsung kemunculan pocong itu. Menurut ia, sosok-sosok tersebut tidak datang sendiri, melainkan turun dari sebuah mobil Kijang merah.
"Saya memergoki sejumlah setan pocong keluar dari kendaraan Kijang warna merah. Jalannya tidak melangkahkan kaki tapi loncat-loncat seperti pocong dalam sinetron di TV," ungkap Arim.
Isu kemunculan pocong kemudian menyebar hingga ke Banjar dan Pangandaran. Banyak penduduk memilih mengunci rumah rapat-rapat pada malam hari agar anak-anak mereka tidak diganggu.
Setahun berselang, pada 1998, suasana mencekam kembali muncul di Jawa Timur. Kali ini bukan hanya soal pocong, tetapi juga rumor "ninja misterius" nan merebak setelah maraknya pembunuhan dukun santet di Banyuwangi.
Laporan Surabaya Post (17 Oktober 1998) menyebut masyarakat Surabaya, Gresik, hingga Malang dihantui rasa teror terhadap kemunculan ninja nan turun dari mobil boks sebelum menghilang.
Saat itu para ninja diduga kuat membunuh orang-orang nan terafiliasi pengetahuan hitam. Jika dikaitkan dengan konteks ekonomi masa itu, periode 1997-1998 sendiri memang menjadi masa krisis berat bagi Indonesia.
Menurut catatan Jan Luiten van Zanden dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), krisis bermulai ketika nilai tukar rupiah jatuh drastis hingga sekitar Rp10.000-12.000 per dolar AS. Akibatnya, krisis pangan dan daya pun terjadi, sehingga berakibat pada kepanikan masyarakat.
Fenomena-fenomena tersebut memperlihatkan rumor makhluk gaib dan teror misterius kerap muncul di tengah situasi sosial nan tegang. Di Indonesia, cerita soal pocong rupanya bukan sekadar kisah horor, tetapi juga bagian dari dinamika sosial nan berulang dalam sejarah.
(dce)
Addsource on Google

3 hari yang lalu
10







English (US) ·
Indonesian (ID) ·