Ekspatriat Israel Rela Pulang Kampung demi Berikan Suara di Pemilu

4 hari yang lalu 11
Ekspatriat Israel Rela Pulang Kampung demi Berikan Suara di Pemilu Tentara Israel.(Al Jazeera)

HANYA beberapa jam setelah Israel mengumumkan tanggal resmi pemilihan umum mendatang, media sosial dibanjiri unggahan foto tiket pesawat oleh para ekspatriat Israel. Mereka bersiap terbang pulang ke tanah air demi memberikan bunyi pada akhir Oktober mendatang.

Israel merupakan salah satu dari sedikit negara kerakyatan nan tidak mengizinkan penduduk negaranya nan tinggal di luar negeri untuk memberikan bunyi melalui surat alias absentee ballot. Hal ini memaksa sekitar 500.000 penduduk Israel di luar negeri nan mempunyai kewenangan pilih untuk membikin pilihan sulit: mengeluarkan biaya besar untuk terbang ke Israel alias melewatkan pemilu krusial nan bakal menentukan masa depan pemerintahan Benjamin Netanyahu dan Partai Likud.

Motivasi di Tengah Konflik

Pemilu kali ini menjadi nan pertama sejak serangan 7 Oktober dan terjadi setelah nyaris tiga tahun ketegangan perang. Lonjakan emigrasi dalam dua tahun terakhir membikin jumlah pemilih di luar negeri menjadi sangat signifikan. Banyak ekspatriat merasa bahwa meskipun berada ribuan mil jauhnya, mereka tetap menjadi representasi negara dan terdampak langsung oleh dinamika bentrok di Timur Tengah.

"Israel sedang dipertaruhkan saat ini," ujar Josh Drill, seorang aktivis sosial nan sedang menempuh studi di Universitas Columbia. Ia menegaskan bahwa dirinya dan lingkaran terdekatnya melakukan segala upaya agar bisa berada di Israel pada hari pemungutan bunyi guna membantu menentukan arah kepemimpinan negara.

Inisiatif FLY&VOTE

Untuk membantu kepulangan para pemilih, organisasi nirlaba AID Coalition nan berbasis di AS meluncurkan inisiatif berjulukan FLY&VOTE. Program ini membantu ekspatriat mencari tiket pesawat sesuai anggaran dan menavigasi logistik perjalanan, termasuk rencana penyewaan pesawat (charter).

Berdasarkan survei AID Coalition terhadap 4.500 penduduk Israel di luar negeri:

  • 84% menganggap pemilu mendatang sebagai salah satu nan terpenting dalam sejarah Israel.
  • 73% menyatakan kemauan untuk pulang dan memilih.
  • 45% berkomitmen melakukan apa pun demi menggunakan kewenangan bunyi mereka.

Batell Blaish-Sultanik, Direktur Eksekutif AID Coalition, mengungkapkan bahwa lebih dari 25.000 orang telah mendaftar di FLY&VOTE, dengan sasaran membantu hingga 50.000 orang. "Jika kami tidak bisa membawa pemilu kepada mereka, kami bakal membawa mereka ke pemilu," tegasnya.

Tantangan Logistik dan Biaya

Perjalanan pulang ini tidaklah mudah. Selain nilai tiket nan mahal--penerbangan El Al dari New York bisa mencapai Rp23 juta hingga Rp31 juta (kurs estimasi)--ketidakpastian agenda penerbangan menjadi hambatan utama. Banyak maskapai asing menangguhkan jasa ke Israel akibat situasi keamanan, menyisakan El Al sebagai opsi utama nan konsisten beroperasi.

Selain itu, ada kekhawatiran mengenai potensi pemilu putaran kedua jika tidak ada koalisi nan mencapai kebanyakan 61 bangku di Knesset. Hal ini membikin beberapa pemilih ragu apakah kudu menghabiskan tabungan mereka sekarang alias menyimpannya untuk kemungkinan pemilu susulan.

Debat Mengenai Hak Pilih Diaspora

Kebijakan larangan absentee ballot ini telah lama menjadi perdebatan. Ofer Kenig dari Israel Democracy Institute menjelaskan bahwa salah satu alasannya adalah besarnya populasi diaspora. Berdasarkan Hukum Kepulangan (Law of Return), kebangsaan Israel sangat mudah didapat, sehingga muncul kekhawatiran jika orang nan tidak menanggung akibat keamanan sehari-hari di Israel ikut menentukan kebijakan negara.

Namun, bagi para ekspatriat seperti Avia Liberman, pandangan tersebut keliru. Ia beranggapan bahwa apa pun nan terjadi di Israel sangat memengaruhi kehidupan mereka di luar negeri, terutama mengenai persepsi publik dan keamanan organisasi Yahudi dunia usai 7 Oktober.

Dengan info nan menunjukkan bahwa sekitar 36.227 bunyi setara dengan satu bangku di parlemen, kepulangan ribuan ekspatriat ini diprediksi bakal memberikan akibat substansial pada hasil akhir pemilu nan sangat kompetitif tersebut. (The Forward/I-2)

Selengkapnya