Warga merapikan selang di sumber air Dusun Kalidadap, Selopamioro, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta,( ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/Spt.)
KEMARAU panjang membikin sebagian masyarakat di Daerh Istimewa Yogyakarta mengandalkan support air bersih untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari mereka. Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bagian Teknik Keairan dan Lingkungan Ani Hairani mengatakan tandus tahun ini lebih parah lantaran adanya kejadian El Nino.
“Fenomena El Niño alami sekarang menjadi lebih parah akibat pengaruh perubahan suasana global," kata dia.
Musim tandus nan berjalan lebih panjang mengakibatkan penguapan air meningkat.
"Cadangan air pun terus berkurang dan memengaruhi kesiapan air untuk masyarakat serta pertanian,” terang Ani dalam siaran pers dari Humas UMY, Minggu (26/7).
Perubahan suasana ini juga menggeser awal musim. Hal tersebut membikin perencanaan pengelolaan air, seperti waduk dan jaringan irigasi menjadi kurang jeli sehingga meningkatkan akibat kekeringan.
Kesulitan air bersih tersebut sudah terjadi di Kabupaten Bantul, DIY. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul menyampaikan, dari 20 Juni sampai 20 Juli, paling tidak sudah mendistribusikan 250 kiloliter alias 50 truk tangki air bersih di lima kecamatan, ialah Pajangan, Pundong, Imogiri, Dlingo, dan Piyungan.
Kepala Pelaksana BPBD Bantul Mujahid Amrudin menjelaskan, Kecamatan Pajangan paling terdampak kekeringan sehingga telah didistribusikan 19 tangki serta 17 tangki untuk Kecamatan Dlingo.
"Bantuan dikirim lantaran sumber mata air dan sumur sudah kering, terjadi kekurangan air," terang dia. Anggaran sebesar Rp 20 juta sudah disiapkan untuk kebutuhan awal droping air bersih bagi penduduk nan membutuhkan. (H-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·