Emigrasi Ideologis: Kisah Hagai Agmon-Snir, Aktivis Toleransi yang Tinggalkan Israel

3 hari yang lalu 10
 Kisah Hagai Agmon-Snir, Aktivis Toleransi nan Tinggalkan Israel Warga Gaza.(Al-Jazeera)

HAGAI Agmon-Snir, seorang mantan peneliti otak nan menghabiskan dua dasawarsa membangun jembatan toleransi di Jerusalem, akhirnya menyerah. Melalui pesan singkat bulan lalu, dia mengonfirmasi keberangkatannya ke Italia dengan visa imigrasi satu kali jalan. Bagi sosok nan selama ini dikenal sebagai simbol optimisme Jerusalem, Israel sekarang menjadi tempat nan tanpa harapan.

Agmon-Snir dan istrinya, Iris Meiri-Snir--seorang wakil kepala sekolah menengah bergengsi di Jerusalem--menjual rumah mereka di Mevasseret Zion. Mereka memilih pindah ke kota Arona, Italia utara. Keputusan ini menandai akhir dari perjalanan panjang Agmon-Snir dalam mengupayakan koeksistensi antara organisasi Yahudi dan Palestina serta golongan LGBTQ dan ultra-Ortodoks.

Jejak Toleransi nan Ditinggalkan

Selama bertahun-tahun, Agmon-Snir memimpin Pusat Antarbudaya Jerusalem (Jerusalem Intercultural Center). Ia bukan sekadar aktivis di kembali meja; dia melatih ribuan polisi dalam metode nonkekerasan, berdebat dengan pemuda sayap kanan radikal di Zion Square untuk mencegah pelecehan terhadap penduduk Palestina, dan menginisiasi proyek bahasa Arab bagi puluhan ribu penduduk Israel.

Ia juga berkedudukan krusial dalam memediasi ketegangan antara organisasi LGBTQ dan pemimpin ultra-Ortodoks agar parade Pride dapat berjalan di Jerusalem. Namun, sekarang pandangannya berubah total. "Saya pikir situasi di sini tidak ada angan dan kita kudu menjauhkan diri dari kejahatan ini," ujarnya. Ia apalagi menyebut gerakannya sebagai emigrasi ideologis.

Kekecewaan terhadap Arah Politik Israel

Kekecewaan Agmon-Snir memuncak jauh sebelum peristiwa 7 Oktober 2023. Titik baliknya terjadi setelah pemilihan umum November 2022, saat dia memandang tingginya support terhadap partai-partai nan dia sebut fasis di permukiman-permukiman Israel. Ia menilai organisasi religius Zionis telah terjebak dalam keserakahan, arogansi, dan rasa puas diri nan berbahaya.

Ia menguraikan tiga skenario masa depan nan semua buntu:

  • Negara untuk semua penduduk negara: Sesuatu nan menurutnya tidak bakal pernah disetujui kebanyakan Yahudi Israel.
  • Solusi dua negara: nan dia anggap sudah meninggal lantaran masifnya pembangunan permukiman.
  • Solusi hibrida (kanton/federasi): nan dia sebut sebagai corak apartheid terselubung.

"Menjadi Patriot Berarti Hidup dengan Rasa Bersalah"

Agmon-Snir menegaskan bahwa dia bukan anti-Zionis. Namun dia merasa tidak bisa lagi menanggung beban moral atas apa nan terjadi di negaranya, terutama mengenai situasi di Gaza. Mengutip sejarawan Carlo Ginzburg, dia menyatakan bahwa bagian dari identitas seorang patriot adalah merasa malu atas kesalahan negaranya.

"Penyangkalan terhadap kejahatan perang di Gaza lebih parah di mata saya daripada penyangkalan Holocaust," tegasnya. Menurutnya, memberikan support moral kepada tentara dengan mengeklaim bahwa kejahatan tersebut tidak terjadi menjadikan seseorang mitra dalam kejahatan tersebut.

Masa Depan di Italia

Meski menyadari bahwa kepindahannya bakal melemahkan mereka nan tetap berjuang di dalam negeri, Agmon-Snir merasa secara mental sudah tidak bisa lagi berdiri melawan kejahatan yang dia rasakan. Di Italia, dia berencana menghabiskan waktu dengan fotografi drone, sementara istrinya mengakui tantangan menjadi penduduk kelas dua di negara asing.

Walaupun dia tidak percaya Israel bakal hancur secara fisik, Agmon-Snir tidak lagi memandang masa depan moral bagi negara tersebut. Baginya, meninggalkan Israel adalah satu-satunya langkah untuk tetap jujur pada prinsip kemanusiaan nan selama ini dia perjuangkan di jalanan Jerusalem. (Haaretz/I-2)

Selengkapnya