Ilustrasi(MI/FAISHOL TASELAN)
KEBAKARAN rimba dan lahan (Karhutla) nan terjadi di sekitar lereng Gunung Cendoro membakar seluas 65,9 hektar rimba dibawah naungan pengawasan Tahura R Soerjo. Hasil pemetaan sistem info penemuan awal Karhutla (Sipongi) tetap terpantau titik panas ( hotspot ) nan terhenti di area lereng pegunungan Cendoro.
“Api dengan sigap merambat dan menghanguskan beragam jenis vegetasi hutan, nan didominasi oleh hamparan semak alang-alang, tumbuhan paku-pakuan, hingga tegakan pohon Cemara Gunung,” kata Kepala Dinas Kehutanan Jatim Jumadi di Surabaya, Minggu (19/7).
Menekan sebaran api, tim campuran telah dikerahkan ke titik-titik rawan. Tercatat sebanyak 37 personel nan terbagi ke dalam lima tim diterjunkan langsung ke garis depan.
Pihak nan terlibat dalam operasi pengendalian ini antara lain personel Dinas Kehutanan, petugas Tahura, BPBD Mojokerto, Kepolisian, serta relawan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Pergerakan tim pemadam kebakaran difokuskan pada dua sasaran utama, Puncak Bukit Cendono: Ditangani oleh Tim 1 (9 personel campuran Tahura & BPBD Mojokerto), Tim 2 (8 personel Tahura), dan Tim 4 (5 personel Tahura).
Selain itu, berada di Gunung Biru (via Sumber Brantas): Ditangani oleh Tim 3 (10 personel campuran Tahura & Relawan) dan Tim 5 (5 personel Tahura).
Dalam operasi tersebut, Tim 3 RKW 04 nan menyisir jalur Sumber Brantas sukses mencapai salah satu titik api utama di Gunung Biru dan langsung melakukan upaya pemadaman.
“Api belum dapat dipadamkan secara menyeluruh lantaran rambatan kobaran mengarah langsung ke area lembah nan sangat terjal. Sebagai langkah pendukung, tim juga telah menerbangkan pesawat nirawak ( drone ) guna memetakan luas sebaran api secara lebih jeli dan aman,” ujarnya.
Topografi Kendala menjadi tantangan terbesar bagi tim campuran di lapangan. Lokasi kejadian sangat susah dijangkau lantaran sebagian besar titik api berada di lereng-lereng curam dan lembah nan dalam. Situasi ini diperparah dengan hembusan angin nan cukup kencang, nan berpotensi memicu loncatan api ke area vegetasi nan tetap kering.
Dijelaskan, posko pengendalian telah memformulasikan pembentukan peraturan pemadaman taktis beranggotakan lima orang. Langkah reorganisasi ini diambil untuk mempermudah koordinasi sistem, menjaga keselamatan personel, dan mengoptimalkan penjadwalan shift pemadaman.(H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·