Fenomena Aliran Gas Kosmik Raksasa yang Memiringkan Orbit Planet di Konstelasi Orion

1 jam yang lalu 3
Fenomena Aliran Gas Kosmik Raksasa nan Memiringkan Orbit Planet di Konstelasi Orion Gambaran artistik ini menyoroti aliran material nan mengalir ke cakram protoplanet, GW Ori, menciptakan cincin debu nan tidak sejajar.(NSF/AUI/NSF NRAO/B.Saxton)

PARA astronom sukses menemukan kejadian menakjubkan sekaligus memecahkan teka-teki lama di jagat raya. Sebuah "sungai" gas kosmik raksasa sepanjang lebih dari 1,6 triliun kilometer (1 triliun mil) ditemukan sedang menghantam dan memiringkan piringan pembentuk planet di sistem bintang GW Orionis. Penemuan ini berpotensi menjelaskan argumen di kembali banyaknya sistem planet asing (exoplanet) nan mempunyai orbit miring dan tidak teratur.

GW Orionis merupakan sistem tiga bintang muda nan berjarak sekitar 1.300 tahun sinar dari Bumi, tepatnya berada di wilayah pembentukan bintang Lambda Orionis pada konstelasi Orion. Sistem ini sangat langka lantaran dikelilingi piringan gas dan debu pembentuk planet nan terbagi menjadi tiga cincin utama. Anehnya, ketiga cincin tersebut tidak berada di satu bagian nan sejajar, melainkan miring dengan perspektif nan berbeda-beda.

Sebelumnya, para intelektual menduga keberadaan planet gas raksasa tersembunyi nan mengukir celah di antara cincin piringan tersebut sebagai penyebab utama kemiringannya. Namun, pengamatan terbaru menggunakan teleskop radio Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) di Cile mengungkap kebenaran nan berbeda.

Berdasarkan info observasi ALMA, gangguan pada cincin terluar GW Orionis rupanya dipicu hempasan aliran gas molekuler nan membentang dari awan molekul di sekitarnya. Aliran gas raksasa ini membentang hingga 0,2 tahun sinar (sekitar 1,9 triliun kilometer). Pertukaran momentum perspektif alias daya putar antara aliran gas dan piringan itulah nan memuntir serta memiringkan piringan pembentuk planet tersebut.

Peneliti utama studi ini, Maria Galloway-Sprietsma, seorang kandidat ahli di University of Florida, menjelaskan keterkaitan arah aliran gas tersebut dengan struktur cincin terluar.

"Ketika tim kami memodelkan jatuhnya aliran gas ini, kami menemukan bahwa perspektif dampaknya terhadap piringan sangat sejajar dengan cincin terluar," kata Galloway-Sprietsma dalam sebuah pernyataan resmi.

Pengamatan menunjukkan aliran gas tersebut telah menyelesaikan sebagian besar proses pemiringan cincin terluar piringan GW Orionis. Peneliti lain dalam tim studi tersebut, Jaehan Bae, menambahkan pada masa lampau aliran gas ini mempunyai daya putar nan lebih besar sehingga bisa mengubah perspektif kemiringan piringan secara signifikan.

Di Sistem Tata Surya kita, seluruh planet mengorbit Matahari pada bagian nan relatif datar dan sejajar dengan garis katulistiwa Matahari. Namun, banyak exoplanet di luar sana nan ditemukan mempunyai orbit sangat miring alias apalagi berlawanan arah dengan rotasi bintang induknya. Temuan pada sistem GW Orionis ini memberikan petunjuk krusial mengenai sistem pembentukan sistem planet nan random tersebut.

"Jika aliran gas seperti ini umum terjadi, kita dapat menjelaskan secara alami kenapa planet-planet tidak selalu berhujung dalam sistem nan sangat teratur. Orientasinya bisa menjadi jauh lebih acak," ujar Jaehan Bae.

Meski demikian, para peneliti menyadari menarik konklusi umum hanya dari satu piringan pembentuk planet tetap memerlukan bukti tambahan. Oleh lantaran itu, tim peneliti berencana melakukan survei lebih lanjut terhadap bintang-bintang muda lainnya.

"Langkah kami selanjutnya adalah melakukan survei sistematis terhadap bintang-bintang muda untuk memandang berapa banyak nan mempunyai aliran gas dan berapa nan tidak," tutur Galloway-Sprietsma. "Hal itu bakal memberi tahu kita seberapa krusial peran aliran gas ini dalam membentuk sistem planet."

Studi mengenai kejadian aliran gas kosmik ini telah resmi dipublikasikan di The Astronomical Journal. (Space/Z-2)

Selengkapnya