Fenomena Baru: Warga RI Rajin ke Mal, Belanja Pilih Barang Harga Murah

58 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengungkapkan, pusat perbelanjaan tetap ramai dikunjungi masyarakat di tengah beragam tantangan ekonomi. Namun, tingginya kunjungan itu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan nilai shopping lantaran daya beli, terutama masyarakat kelas menengah bawah, tetap tertekan.

Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan, berasas catatan asosiasi, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan hingga saat ini tetap relatif stabil. Menurutnya, mal tetap menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat Indonesia untuk berkumpul.

"Kalau tingkat kunjungan relatif stabil ke pusat perbelanjaan. Karena orang Indonesia itu di dalam beragam situasi dan kondisi tetap ke pusat perbelanjaan. Orang Indonesia itu kulturnya suka berkumpul. Salah satu tempat akomodasi berkumpul di Indonesia adalah pusat perbelanjaan" kata Alphonzus saat ditemui di Auditorium Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Kamis (30/7/2026).

"Jadi berasas catatan kami, tingkat kunjungan sampai dengan saat ini relatif stabil. Normal saja dan kita bisa lihat kok, hari libur pusat perbelanjaan banyak nan penuh. Kan ramai sekali," sambungnya.

Meski demikian, dia menilai terjadi perubahan pola shopping masyarakat. Konsumen sekarang lebih berhati-hati membelanjakan uangnya dan condong memilih produk dengan nilai nan lebih murah, alias ukuran nan lebih mini agar tetap sesuai kemampuan.

"Tetapi nan terjadi adalah perubahan pola tren belanja. Jadi condong sekarang, khususnya kelas menengah bawah, condong membeli barang-barang nan relatif nilai satuannya nan unit price-nya mini ataupun murah. Saya kira itu nan terjadi. Tapi tingkat kunjungannya tidak berkurang. Relatif stabil maksudnya," ungkap dia.

Alphonzus juga menyoroti kondisi konsumsi rumah tangga nan secara nominal tetap tumbuh, tetapi jumlah peralatan nan diperoleh masyarakat justru semakin sedikit. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan daya beli nan tertekan di tengah kenaikan harga.

Karena itu, lanjutnya, banyak peritel mulai mengubah strategi agar produk tetap terjangkau, salah satunya dengan menghadirkan bungkusan nan lebih kecil.

"Saya kira salah satu strategi itu kan gimana teman-teman ritel menyiasati begitu. Di tengah kenaikan nan sudah tidak bisa terbendung begitu, gimana langkah mengurangi kemasan-kemasan menjadi lebih mini dan sebagainya. Jadi saya kira itu adalah bagian dari strategi gimana agar peralatan alias produk ini tetap terjangkau oleh masyarakat, khususnya nan di kelas menengah bawah," jelas Alphonzus.

"Kalau misalkan kemasannya selalu dalam bungkusan ukuran besar, tentunya kan susah terjangkau bagi masyarakat nan daya belinya sedang terganggu," lanjutnya.

Di sisi lain, Alphonzus mengatakan tantangan terbesar pusat perbelanjaan saat ini bukan berasal dari sepinya pengunjung, melainkan dari meningkatnya biaya operasional nan tidak diimbangi kenaikan pendapatan.

"Kalau dari tingkat kunjungan saya kira tidak ada masalah. Jadi relatif stabil lah tingkat kunjungan. nan jadi masalah bagi pusat perbelanjaan itu adalah biaya-biaya meningkat, biaya-biaya operasional. Salah satunya adalah biaya energi. Biaya daya kan naik terus, nilai gas dan sebagainya. Jadi ini adalah meningkatkan biaya operasional," jelas dia.

Kendati demikian, katanya, pengelola mal juga tidak bisa begitu saja meningkatkan tarif sewa kepada para penyewa toko, lantaran pelaku ritel sedang menghadapi kondisi penjualan nan belum optimal.

"Tetapi di satu sisi, pusat perbelanjaan tidak bisa meningkatkan nilai sewa secara signifikan. Kenaikannya pasti terbatas. Kenaikan nilai sewa ini terbatas. Kenapa? Karena teman-teman peritel saat ini khususnya di masa low season kan tidak bisa mendapatkan penjualan nan tinggi. Karena memang sekarang ada di masa low season, dan kebetulan di dalam situasi dan kondisi nan penuh tantangan," tuturnya.

"Jadi pusat perbelanjaan mengalami kesulitan. Di satu sisi biaya operasional naik. Tetapi di satu sisi tidak bisa meningkatkan nilai sewa secara signifikan. Saya kira itu nan menjadi tantangan," tambah Alphonzus.

Namun, di tengah tekanan tersebut, tingkat okupansi pusat perbelanjaan secara nasional tetap terjaga.

"Sekarang jika kita bicara di seluruh rata-rata pusat perbelanjaan, itu kan ada kelas-kelasnya. Saya kira secara umum berada di sekitar 85% sampai dengan 90%tingkat okupansinya (keterisian)," ungkapnya.

Adapun tingkat okupansi tertinggi tetap didominasi pusat perbelanjaan nan menyasar segmen menengah atas.

Lebih lanjut, Alphonzus menyebut pihaknya tetap optimistis industri pusat perbelanjaan mencatat pertumbuhan hingga akhir tahun, meski tidak bakal terlalu tinggi.

"Saya kira tetap bakal tumbuh. Tetapi tumbuhnya nyaris dipastikan tidak bakal signifikan. Tapi kemungkinan tetap tetap tumbuh," pungkas dia.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya