Final Piala Dunia 2026: Ujian Fisik Spanyol Hadapi Karakter Pantang Menyerah Argentina

2 hari yang lalu 3
 Ujian Fisik Spanyol Hadapi Karakter Pantang Menyerah Argentina Argentina berupaya mempertahankan gelar juara bumi melawan Spanyol di final Piala Dunia 2026.(Dok. BBC)

GELARAN akbar Piala Dunia 2026 mencapai puncaknya. Dua kekuatan besar sepak bola, Argentina dan Spanyol, bakal saling berhadapan dalam partai final nan dijadwalkan berjalan di New York New Jersey Stadium pada Senin (20/7). Laga ini bukan sekadar perebutan trofi, melainkan tumbukan antara mentalitas juara memperkuat nan pantang menyerah dengan konsistensi permainan impresif dari wakil Eropa.

Misi Sejarah Argentina dan Ambisi Spanyol

Bagi Argentina, laga final ini merupakan kesempatan emas untuk mengukir sejarah baru. Skuad didikan Lionel Scaloni berkesempatan menjadi negara pertama sejak Brasil pada 1962 nan bisa mempertahankan gelar juara bumi secara berturut-turut, setelah kesuksesan mereka di Qatar 2022. Kemenangan di New York bakal mengukuhkan kekuasaan Albiceleste di panggung global.

Di sisi lain, Spanyol datang dengan ambisi mengakhiri penantian panjang. La Furia Roja mengincar trofi Piala Dunia kedua mereka setelah terakhir kali merasakannya pada jenis 2010 di Afrika Selatan. Tim didikan Luis de la Fuente tampil sangat solid sepanjang turnamen, dengan catatan pertahanan nan luar biasa, ialah hanya kebobolan satu gol dalam tujuh pertandingan hingga babak semifinal.

Tarian Terakhir Lionel Messi

Sorotan utama tentu tertuju pada kapten Argentina, Lionel Messi. Di usianya nan ke-39 tahun, partai puncak ini berpotensi menjadi penampilan terakhir sang megabintang di panggung Piala Dunia. Pelatih Lionel Scaloni pun memberikan pesan emosional kepada para pendukung untuk menghargai setiap detik tindakan Messi di lapangan.

"Dia telah membikin sejarah. Dia adalah seorang legenda," ujar Scaloni sebagaimana dikutip dari AFP. Kehadiran Messi tetap menjadi ruh permainan Argentina, terutama dalam memimpin rekan-rekannya melewati situasi sulit.

Mental Baja vs Konsistensi Taktis

Perjalanan Argentina menuju final diwarnai dengan drama dan ketangguhan mental. Mereka sempat tertinggal 0-2 dari Mesir di babak 16 besar sebelum akhirnya bangkit, serta menyingkirkan Inggris secara dramatis di semifinal. Sebaliknya, Spanyol menunjukkan kekuasaan taktis nan nyaris tanpa cela, termasuk saat meredam perlawanan Prancis di babak empat besar.

Kapten Spanyol, Rodri, menyadari bahwa menghadapi Argentina bakal menuntut ketahanan bentuk nan luar biasa.

"Pertandingan ini bakal melangkah lebih mengandalkan fisik, dan kami kudu siap. Namun saya percaya, tim ini tahu gimana memainkan permainan nan berbeda berasas momennya," tegas gelandang Manchester City tersebut.

Gangguan Kabut Asap dan Kemeriahan Penutupan

Persiapan menjelang laga final sempat terganggu oleh masalah lingkungan. Kebakaran rimba di Kanada menyebabkan kabut asap menyelimuti wilayah timur Amerika Serikat, termasuk New York. Meski kualitas udara sempat memburuk secara signifikan pada Sabtu (18/7), kondisi cuaca diperkirakan bakal membaik tepat saat kick-off dimulai.

Final ini juga bakal menjadi arena berkumpulnya tokoh dunia. Presiden AS Donald Trump, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, dan PM Kanada Mark Carney dijadwalkan hadir. Kemeriahan bakal ditambah dengan penampilan Tom Cruise pada upacara penutupan, serta pagelaran paruh waktu perdana dalam sejarah Piala Dunia nan menampilkan Madonna dan Shakira.

Presiden FIFA Gianni Infantino menyatakan bahwa jenis 48 tim ini telah sukses besar.

"Ini bukan sekadar Piala Dunia terbesar, ini adalah peristiwa kemanusiaan, sosial, dan budaya terbesar nan pernah disaksikan umat manusia," pungkasnya. (Z-10)

Selengkapnya