Fosil Buaya Purba Berusia 125 Juta Tahun Ungkap Warna Kulit, Pola Sisik, dan Rahasia Evolusinya

5 jam yang lalu 4
Fosil Buaya Purba Berusia 125 Juta Tahun Ungkap Warna Kulit, Pola Sisik, dan Rahasia Evolusinya Fosil Montsecosuchus(Doc Castillo-Visa)

PARA intelektual sukses mengungkap info baru mengenai penampilan seekor buaya purba nan hidup sekitar 125 juta tahun lalu. Tidak hanya menemukan sisa jaringan lunak nan sangat langka, mereka juga memperoleh petunjuk mengenai pola warna kulit, susunan sisik, hingga kemungkinan asal-usul perkembangan pola tubuh golongan buaya modern.

Temuan tersebut berasal dari penelitian terhadap Montsecosuchus, buaya purba berukuran kurang dari satu meter nan fosilnya ditemukan di Formasi La Pedrera de Meià, timur laut Spanyol. Penelitian itu dilaporkan oleh laman IFLScience.

Fosil Montsecosuchus sebenarnya telah ditemukan dan dideskripsikan sejak 1915. Namun, lebih dari seabad kemudian, para peneliti kembali memeriksa spesimen tersebut menggunakan sinar ultraviolet (UV) untuk mencari kemungkinan adanya bagian tubuh nan tetap terawetkan.

Hasilnya, sinar UV memperlihatkan jaringan lunak nan sebelumnya tidak terlihat, termasuk sisa kulit, sisik, hingga struktur tulang rawan nan sangat jarang ditemukan pada fosil buaya purba.

Salah satu penulis penelitian, Óscar Castillo-Visa, mengatakan temuan tersebut sangat krusial lantaran memberikan gambaran nan belum pernah diketahui sebelumnya mengenai perkembangan golongan buaya.

"Di sini kami mempunyai salah satu buaya purba tertua di bumi nan kemungkinan juga menjadi salah satu fosil pertama nan tetap mempertahankan struktur tulang rawan serta sisa-sisa kulit," kata Castillo-Visa.

Pola Sisik hingga Organ Sensorik Terungkap

Jaringan lunak nan sukses terawetkan memungkinkan para peneliti memandang susunan sisik Montsecosuchus secara rinci.

Mereka menemukan bahwa sisik pada bagian lengan berukuran lebih mini dibandingkan sisik di bagian kaki. Selain itu, terdapat struktur nan diduga sebagai organ sensorik pada beberapa sisik fosil tersebut.

Pada buaya modern, organ sensorik berfaedah mendeteksi sentuhan, tekanan air, hingga perubahan suhu dan tersebar nyaris di seluruh tubuh. Namun pada Montsecosuchus, struktur tersebut hanya ditemukan di area leher dan lengan.

Menurut para peneliti, kondisi itu dapat menjadi petunjuk bahwa organ sensorik awalnya hanya berkembang di bagian tubuh tertentu sebelum akhirnya menyebar ke seluruh permukaan kulit selama proses evolusi.

Penelitian ini juga menemukan perbedaan lain dibandingkan buaya masa kini. Montsecosuchus tidak mempunyai tonjolan memanjang di bagian atas ekor nan biasanya membantu buaya modern berenang.

Castillo-Visa mengaku temuan tersebut cukup membingungkan.

"Mengapa buaya mini nan hidup di lingkungan nan nyaris seluruhnya berupa perairan justru tidak mempunyai struktur nan membantu proses berenang? Itulah salah satu perihal nan terasa aneh," ujarnya.

Ia menduga Montsecosuchus mungkin belum sepenuhnya beradaptasi sebagai hewan perenang dan lebih banyak bergerak di daratan. Namun, dugaan tersebut juga bertentangan dengan corak tangan dan kakinya nan mempunyai jari-jari panjang, karakter nan umumnya dimiliki hewan nan hidup di lingkungan perairan.

"Untuk saat ini, perihal tersebut tetap menjadi misteri nan kudu kami jawab melalui penelitian di masa depan," tambah Castillo-Visa.

Jejak Pola Warna Kulit Purba

Selain mengungkap struktur tubuh, penelitian ini juga memberikan gambaran mengenai penampilan Montsecosuchus ketika tetap hidup.

Para peneliti menemukan adanya pola bergaris nan terdiri atas pita berwarna terang dan gelap di sepanjang ekor fosil. Pola tersebut diperkirakan membentuk belang nan menyerupai corak pada anak buaya alias anak aligator modern.

Temuan ini menjadi salah satu bukti paling langka mengenai pola warna tubuh pada buaya purba lantaran jaringan kulit nan bisa memperkuat selama ratusan juta tahun sangat jarang ditemukan dalam catatan fosil.

Castillo-Visa menilai pola tersebut kemungkinan bukan sekadar karakter unik Montsecosuchus, melainkan karakter nan telah diwariskan sejak awal perkembangan golongan buaya.

"Mungkin saja ini merupakan bukti bahwa karakter evolusi buaya berupa garis-garis pada ekor sudah ada sejak awal pohon perkembangan golongan buaya," kata Castillo-Visa.

Meski demikian, dia menegaskan bahwa dugaan tersebut tetap perlu dibuktikan melalui penelitian lanjutan.

Membuka Jendela Baru Evolusi Buaya

Penemuan ini menunjukkan bahwa fosil tidak hanya bisa mengungkap corak tulang hewan purba, tetapi juga menyimpan info mengenai jaringan lunak, pola sisik, warna tubuh, hingga kemungkinan kegunaan biologisnya.

Bagi para paleontolog, keberadaan jaringan lunak nan terawetkan pada Montsecosuchus membuka kesempatan untuk memahami gimana karakter bentuk buaya berevolusi selama jutaan tahun. Mulai dari perkembangan organ sensorik, keahlian beradaptasi dengan lingkungan, hingga munculnya pola warna nan tetap dapat ditemukan pada keturunan buaya modern saat ini.

Dengan kata lain, fosil berumur sekitar 125 juta tahun ini bukan hanya menjadi catatan tentang keberadaan seekor buaya purba, tetapi juga menjadi jendela untuk menelusuri gimana golongan buaya berkembang hingga menjadi jenis nan dikenal saat ini.

Sumber: IFLScience

Selengkapnya