Fosil Montsecosuchus depereti.(Castillo-Visa)
SEBUAH penelitian terbaru sukses mengungkap perincian luar biasa dari jaringan lunak Montsecosuchus depereti, jenis buaya purba (crocodylomorph) berukuran sekecil kucing rumahan nan hidup 125 juta tahun lampau di Catalonia, Spanyol.
Penelitian dalam Zoological Journal of the Linnean Society ini mengungkap bahwa meski fosil sepanjang 50 sentimeter tersebut sudah ditemukan sejak 1902 di situs Pedrera de Meià oleh geolog Lluís Marià Vidal, rahasia kulitnya baru terungkap sekarang lewat teknologi modern.
Selama satu abad, spesimen berkode MGB-512 ini hanya tersimpan di Museum Ilmu Pengetahuan Alam Barcelona. Kelompok Crocodylomorpha sendiri sebenarnya mempunyai catatan fosil nan sangat luas dari periode Trias Akhir hingga saat ini.
"Namun demikian, jaringan lunak nan memfosil (misalnya kulit dan tulang rawan) nyaris tidak diketahui untuk sebagian besar klade, dengan pengecualian thalattosuchians laut," ujar perwakilan tim peneliti dari Universitat Autònoma de Barcelona, Dr. Oscar Castillo-Visa dan rekan-rekannya. Beruntung, sedimen lembut waduk purba di situs tersebut bisa mengawetkan bagian tubuh nan biasanya mudah hancur.
Titik kembali penemuan ini terjadi saat paleontolog Oscar Castillo dan Jesús Serrano memandang struktur mencurigakan pada fosil ketika menyusun pedoman data. Mereka lampau memindainya menggunakan sinar ultraviolet (UV) untuk membikin jaringan tubuh nan memfosil itu berpendar.
Tim peneliti sukses menjadikan Montsecosuchus depereti sebagai salah satu spesimen dengan kulit tertua dan paling komplit nan pernah ditemukan. Mereka mendokumentasikan sisik epidermal di bagian lengan, dada, kaki, dan ekor. Mereka juga menemukan bintik sensorik mini pada sisik di area leher dan tepi tubuh.
Mengenai fungsinya pada buaya modern, para intelektual memaparkan bahwa organ-organ tersebut berfaedah sebagai reseptor sentuhan, ragam tekanan air, serta bisa merespons rangsangan kimia maupun termal. Keterbatasan posisi organ sensorik ini menunjukkan bahwa perangkat indra tersebut awalnya berevolusi di area lokal sebelum akhirnya menyebar ke seluruh permukaan tubuh pada keturunan buaya selanjutnya.
Selain itu, sinar UV menyingkap proyeksi tulang rawan pada dada nan memperkuat rongga iga demi meningkatkan efisiensi pernapasan. Struktur mirip burung ini membuktikan bahwa meskipun Montsecosuchus merupakan hewan primitif, dia adalah hewan aktif dengan keahlian aerobik tinggi nan sudah beradaptasi sangat baik untuk style hidup semi-akuatik.
Namun, temuan paling mengejutkan adalah bukti pola warna original pada ekornya berupa pita gelap dan terang nan berselang-seling. Pola belang penyamaran ini menjadikannya personil crocodylomorph tertua di bumi dengan warna kulit nan awet memfosil.
Rekan penulis artikel, Dr. Albert Sellés, menambahkan, "Saat ini kami tidak dapat mengatakan dengan pasti apa warna ekor buaya tersebut, tetapi diperkirakan warnanya tidak begitu berbeda dari jenis saat ini, nan juga menunjukkan pola pewarnaan nan berbeda."
Penemuan berbobot dari situs Spanyol ini akhirnya memberikan potongan teka-teki krusial mengenai perkembangan awal kulit, sistem pernapasan, dan biologi luar dari nenek moyang buaya di Bumi.
(Sci.News/Phys/P-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·