Gangguan Mental dan Metabolik Perlu Ditangani Bersamaan, Ini Alasannya

2 hari yang lalu 4
Gangguan Mental dan Metabolik Perlu Ditangani Bersamaan, Ini Alasannya ilustrasi(Magnific)

Selama ini, kesehatan mental dan kesehatan metabolik sering dipandang sebagai dua bagian nan berbeda. Gangguan seperti depresi, gangguan bipolar, dan skizofrenia umumnya ditangani secara terpisah dari penyakit metabolik, seperti diabetes, obesitas, dan kolesterol tinggi.

Namun, tinjauan ilmiah terbaru nan diterbitkan dalam Nature Mental Health menunjukkan bahwa kedua kondisi tersebut mempunyai hubungan nan erat dan saling memengaruhi. Para peneliti memperkenalkan konsep metabolic psychiatry, ialah pendekatan nan menggabungkan penanganan kesehatan mental dengan pertimbangan metabolisme tubuh.

Pendekatan ini didasarkan pada bukti bahwa gangguan metabolik dapat memengaruhi kegunaan otak, sementara gangguan mental juga dapat meningkatkan akibat penyakit metabolik.

Hubungan Tubuh dan Otak nan Saling Memengaruhi

Dalam ulasan tersebut dijelaskan bahwa resistensi insulin, gangguan metabolisme lemak, peradangan kronis, serta disfungsi mitokondria sering ditemukan pada pasien dengan gangguan kejiwaan. Kondisi-kondisi ini dapat mengganggu pasokan daya ke otak sehingga memengaruhi keahlian berpikir, suasana hati, dan respons terhadap pengobatan.

Sebaliknya, stres berkepanjangan, kualitas tidur nan buruk, hingga penggunaan beberapa obat psikiatri juga dapat meningkatkan akibat obesitas, glukosuria jenis 2, dan penyakit kardiovaskular. Temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan bentuk dan mental tidak dapat dipisahkan dalam proses pemeriksaan maupun terapi.

Faktor Risiko nan Saling Terkait:

  • Resistensi insulin dan gangguan metabolisme lemak.
  • Peradangan kronis dan disfungsi mitokondria.
  • Efek samping obat psikiatri terhadap berat badan.
  • Stres kronis nan memicu penyakit kardiovaskular.

Pendekatan Terintegrasi untuk Hasil nan Lebih Baik

Peneliti menyarankan agar pasien dengan gangguan mental menjalani pemeriksaan metabolik secara rutin, seperti kadar gula darah, profil lipid, tekanan darah, dan berat badan. Langkah ini dinilai dapat membantu mendeteksi akibat penyakit lebih awal sekaligus menentukan pengobatan nan lebih tepat.

Selain terapi psikologis dan obat-obatan, perubahan style hidup menjadi kunci utama. Beberapa langkah nan disarankan meliputi:

  • Rutin berolahraga secara terukur.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Menjaga kualitas dan lama tidur nan cukup.
  • Mengelola stres secara efektif.

Saat ini, beberapa terapi berbasis metabolik, seperti penggunaan metformin dan agonis GLP-1, juga sedang diteliti sebagai terapi pendamping untuk pasien gangguan jiwa. Melalui konsep metabolic psychiatry, para peneliti berambisi jasa kesehatan dapat mengintegrasikan penanganan bentuk dan mental sehingga kualitas hidup pasien meningkat dan akibat komplikasi penyakit kronis dapat ditekan. (E-3)

Selengkapnya