Para pemain timnas Argentina membawa spanduk bertuliskan Las Malvinas son Argentinas, nan berfaedah Malvinas adalah milik Argentina usai mengalahkan timnas Inggris di laga semifinal Piala Dunia 2026.(AFP/Thomas COEX)
GEDUNG Putih secara mengejutkan memberikan pembelaan terhadap kewenangan kebebasan berbincang para pemain timnas Argentina. Langkah ini diambil setelah skuad Albiceleste memicu kontroversi dengan membentangkan spanduk berisi klaim teritorial atas Kepulauan Falkland (Malvinas) saat merayakan kemenangan mereka atas timnas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026.
Insiden tersebut terjadi setelah pertandingan semifinal, Kamis (16/7) awal hari WIB. Para pemain Argentina memamerkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" (Falkland adalah milik Argentina). Aksi ini membikin Argentina terancam hukuman disiplin dari FIFA lantaran dianggap melanggar patokan mengenai pernyataan politik dalam sepak bola.
Pembelaan dari Gedung Putih
Andrew Giuliani, kepala gugus tugas FIFA dari Gedung Putih, menyatakan pada Jumat (17/7/2026) bahwa tim Argentina mempunyai kesempatan dan keahlian untuk menyampaikan pernyataan tersebut selama berada di Amerika Serikat. Giuliani merujuk pada perlindungan kebebasan berbincang nan dijamin oleh Amandemen Pertama Konstitusi AS.
"Kami percaya pada hak-hak Amandemen Pertama kami di sini, di Amerika Serikat," ujar Giuliani kepada wartawan.
Pernyataan ini diprediksi bakal semakin memperkeruh perselisihan diplomatik nan melibatkan London, Buenos Aires, dan sekarang Washington.
Reaksi Keras Downing Street
Pemerintah Inggris, melalui Downing Street, bereaksi sigap dengan mendukung dorongan agar FIFA melakukan investigasi menyeluruh. Juru bicara resmi Perdana Menteri Inggris menegaskan posisi teguh mereka terhadap wilayah tersebut.
"Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Kepulauan Falkland sudah pasti milik kami. Komitmen kami terhadap Falkland tidak bakal pernah goyah," tegas ahli bicara tersebut.
Pihak Downing Street No. 10 menambahkan bahwa tindakan disipliner sepenuhnya berada di tangan FIFA, namun mereka sepakat dengan Sekretaris Bisnis Peter Kyle bahwa badan pengatur sepak bola bumi itu kudu bertindak.
Pemerintah Kepulauan Falkland juga menyatakan kekecewaannya. Dalam sebuah pernyataan resmi, mereka berambisi FIFA menjatuhkan hukuman sesuai patokan nan berlaku.
"Kami tidak mau memandang politik dibawa ke dalam olahraga, alias menjadikan masyarakat kepulauan ini sebagai bola politik dalam setiap percakapan antara Inggris dan Argentina," tulis pernyataan tersebut.
Konteks Sejarah dan Ketegangan nan Meningkat
Sengketa kedaulatan atas Kepulauan Falkland telah berjalan lama dan sempat memicu perang singkat namun berdarah pada tahun 1982. Konflik 74 hari itu menewaskan 255 personel militer Inggris, 649 tentara Argentina, dan tiga masyarakat pulau.
Data Referendum 2013:
- Total suara: 1.517
- Mendukung tetap berbareng Inggris: 1.513 suara
- Menolak: 3 suara
- Tingkat partisipasi: Lebih dari 90%
Di Argentina, sentimen nasionalisme tetap tinggi. Wakil Presiden Argentina, Victoria Villarruel, mengunggah video di media sosial X nan menunjukkan tentara Argentina dengan narasi bahwa Falkland ada dalam "darah dan hati" mereka.
Sebelumnya, para pemain Argentina juga dilaporkan menyanyikan yel-yel mengenai Falkland setelah kemenangan dramatis 3-2 atas Mesir di babak 16 besar.
Kini, perhatian tertuju pada FIFA untuk memandang apakah mereka bakal menegakkan patokan ketat mengenai pesan politik di lapangan hijau alias melunak di bawah tekanan narasi kebebasan berbincang nan didorong oleh pihak tuan rumah. (bbc/Z-1)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·