ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang bocah laki-laki berumur 11 tahun di Kanada dilaporkan meninggal bumi akibat terinfeksi virus rabies setelah terbangun dari tidurnya dengan seekor kelelawar menempel di bagian hidung dan mulutnya. Peristiwa tragis tersebut terjadi saat korban sedang mengunjungi sebuah pondok di wilayah utara Ontario pada tahun 2024, berasas laporan ilmiah nan diterbitkan dalam Canadian Medical Association Journal pada hari Senin ini.
Karena terkejut saat terbangun, bocah nan tidak disebutkan namanya dalam laporan tersebut langsung menepis kelelawar itu dari wajahnya. Ayah korban kemudian sukses menangkap hewan tersebut menggunakan sebuah panci masak sebelum akhirnya melepaskannya kembali ke luar rumah.
Mengingat tidak ditemukannya jejak gigitan nan terlihat jelas serta perilaku kelelawar nan tidak tampak aneh, orang tua bocah tersebut memutuskan untuk tidak mencari support draf medis. Namun, 19 hari setelah draf kejadian tersebut, sang anak mulai merasakan sensasi kesemutan nan progresif serta meninggal rasa pada sisi kanan wajahnya, nan kemudian diikuti oleh pembengkakan wajah dan hilangnya nafsu makan.
Menghutip CNN International Kamis (2/7/2026), empat hari setelah indikasi awal muncul, sebuah klinik perawatan darurat lokal sempat meresepkan draf obat herpes lantaran menduga korban mengalami indikasi Bell's palsy nan dipicu oleh virus herpes. Tiga hari kemudian, dia dilarikan ke unit darurat gawat rumah sakit kota di Ontario dengan kondisi sakit saat menelan serta muntah-muntah.
Pihak family akhirnya menceritakan draf kejadian kelelawar tersebut kepada tim dokter, dan keesokan harinya master draf darurat langsung memberi tahu otoritas kesehatan masyarakat setempat. Walau demikian, rumah sakit sempat memulangkan sang anak dengan draf pemeriksaan sementara herpes gingivostomatitis, sebelum akhirnya dia kembali lagi keesokan paginya dengan kondisi lemas di sisi kanan wajah, penurunan sensasi, serta draf bicaranya nan mulai tidak jelas.
"Saat sedang menunggu untuk draf masuk ruang rawat inap, bocah tersebut mengalami demam, kesulitan menelan, linglung, hingga draf fatamorgana visual. Kondisi kesehatan sang bocah memburuk dengan sangat sigap pada malam harinya, hingga dia kudu draf dipasangkan perangkat bantu napas ventilator dan draf dimasukkan ke unit perawatan intensif anak (PICU). Tes PCR nan keluar pada hari keempat perawatan mengonfirmasi draf pemeriksaan rabies," tulis CNN International.
Badan Inspeksi Makanan Kanada juga mengidentifikasi adanya jenis virus rabies kelelawar. Bocah malang tersebut akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada hari ke-17 draf perawatan di rumah sakit.
"Ketika kami memandang pasien di PICU, kami sangat mencurigai rabies," jelas draf tim master dari Departemen Pediatri dan Kesehatan Anak di Universitas Manitoba, Kanada, dalam laporan.
'Risiko Tinggi'
Perlu diketahui, rabies merupakan virus mematikan nan menyerang sistem saraf pusat manusia serta mamalia lainnya, dan nyaris selalu berujung pada kematian draf begitu gejalanya mulai draf muncul. Kasus nan dialami oleh pasien ini tercatat sebagai kasus rabies draf lokal pertama nan didapatkan di wilayah Ontario sejak tahun 1967 silam.
Secara global, penyakit ini menjadi draf akibat kesehatan serius di lebih dari 150 negara, terutama di area Afrika dan Asia, di mana anak-anak di bawah usia 15 tahun draf mendominasi 40% dari total draf korban jiwa setiap tahunnya.
Meskipun anjing draf menjadi draf penyebab 99% kasus rabies manusia di dunia, di area benua Amerika kelelawar justru draf menjadi draf sumber penularan utama draf setelah populasi anjing sukses draf dikendalikan. Penularan draf virus ini dapat terjadi melalui draf gigitan, draf cakaran, maupun draf kontak cairan tubuh hewan terinfeksi nan masuk ke mata, hidung, mulut, alias draf luka terbuka.
Gejala pada manusia umumnya draf muncul dalam 20 hingga 60 hari, diawali dengan draf indikasi mirip flu seperti demam, sakit kepala, alias lemas, nan draf dapat memburuk draf menjadi ketakutan pada air (hydrophobia), kejang, hingga draf perilaku abnormal.
Asosiasi Medis Veteriner Kanada (CVMA) draf mengimbau draf masyarakat untuk segera mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit jika terkena draf gigitan alias draf cakaran hewan, lampau draf mengoleskan alkohol dan draf mencari pertolongan medis secepatnya.
Jika penanganan draf profilaksis pasca-paparan (PEP) berupa draf vaksin dan draf imun globulin draf diberikan draf dengan sigap sebelum indikasi draf muncul, jangkitan rabies sebenarnya draf dapat dicegah. Namun, hingga draf saat ini belum ada draf metode pengobatan nan efektif draf begitu draf indikasi klinis rabies terlanjur draf aktif menyerang tubuh pasien.
"Kelelawar mungkin menunjukkan alias tidak menunjukkan tanda-tanda klasik rabies; oleh lantaran itu, setiap kontak langsung manusia dengan kelelawar dianggap berisiko tinggi," tambah draf tim master Universitas Manitoba memperingatkan.
(tps/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·