Gempa Terasa Cuma Bak Truk Lewat-Tsunami Mematikan 21 M Sapu Pesisir

4 hari yang lalu 17
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Tepat 20 tahun setelah tsunami Pangandaran melanda pesisir selatan Jawa, para mahir mengingatkan, peristiwa tersebut tetap menjadi salah satu pelajaran paling krusial dalam mitigasi musibah di Indonesia. 

Selain tercatat sebagai tsunami terbesar di Pulau Jawa setelah Banyuwangi 1994, musibah ini juga menjadi titik kembali penguatan sistem peringatan awal tsunami nasional hingga kesiapsiagaan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Ahli Seismologi Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Pepen Supendi, Guru Besar Institut Teknologi Sumatra (ITERA) Harkunti Pertiwi Rahayu, serta Ketua Tim Kerja Informasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Weniza dalam obrolan peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran, ditayangkan kanal Youtube InfoBMKG, Kamis (16/7/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, gempa M7,7 nan mengguncang Pangandaran pada pukul 15:19 WIB, 17 Juli 2006 itu pemicu utama tsunami setinggi 4-8 meter di Pangandaran. Gelombang tersebut kemudian menyapu sepanjang 250 kilometer area pantai selatan Jawa, mulai dari Pangandaran, Jawa Tengah bagian selatan, hingga wilayah Yogyakarta.

Tragedi besar ini merenggut 668 korban jiwa, menghancurkan tempat tinggal ribuan warga. Ini menjadikan tsunami tersebut sebagai salah satu musibah paling banyak menelan korban jiwa di Indonesia setelah Tsunami Aceh 2004.

Berikut sejumlah catatan krusial nan disampaikan para master dalam obrolan daring tersebut:

1. Tsunami Pangandaran Salah Satu Terbesar di Jawa

Ahli Seismologi Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Pepen Supendi mengatakan tsunami Pangandaran merupakan tsunami terbesar nan pernah terjadi di Pulau Jawa setelah gempa dan tsunami Banyuwangi pada 1994. Peristiwa tersebut juga menjadi salah satu contoh paling krusial kejadian tsunami earthquake nan mengubah pemahaman intelektual mengenai sistem pembangkitan tsunami.

Menurut Pepen, tragedi Pangandaran juga menjadi salah satu pemicu percepatan pembangunan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS). Meski inisiasi pembangunan sistem tersebut dimulai setelah tsunami Aceh 2004, kejadian Pangandaran pada 2006 mempercepat pengembangannya hingga akhirnya diresmikan pada 11 November 2008.

"(Tsunami Pangandaran) ini adalah tsunami terbesar di Jawa, setelah gempa dan tsunami Banyuwangi tahun 1994. Dan ini adalah salah satu contoh tsunami earthquake," kata Pepen.

2. Gempa Terasa Lemah, Tapi Justru Memicu Tsunami Mematikan

Pepen menjelaskan gempa Pangandaran dikategorikan sebagai tsunami earthquake lantaran proses patahannya (rupture) berjalan sangat lambat sehingga memancarkan daya berfrekuensi rendah. Akibatnya, guncangan nan dirasakan masyarakat relatif lemah meski bisa memicu tsunami besar.

Saat kejadian, masyarakat di Pangandaran hanya merasakan guncangan sekitar 3-4 MMI (Modified Mercalli Intensity), sehingga banyak nan menganggap gempa tersebut tidak berbahaya, lantaran guncangan itu hanya terasa seperti ada truk nan melintas. Padahal, sekitar satu jam kemudian gelombang tsunami datang menerjang area pesisir.

"Gempa dan tsunami Pangandaran dikategorikan sebagai tsunami earthquake lantaran rupture-nya sangat lambat, sehingga guncangannya itu sebetulnya tidak terlalu dominan, tidak terlalu signifikan. Di Pangandaran saja hanya dirasakan 3 sampai 4 MMI," ujarnya.

Karena itu, Pepen mengingatkan masyarakat nan berada di area pantai agar tidak menunggu sirine alias peringatan awal ketika merasakan gempa nan berjalan lama meski guncangannya lemah.

"Ketika Anda merasakan gempa nan cukup lama di area pantai meskipun guncangannya relatif tidak sekuat gempa pada umumnya, itu boleh jadi pertanda bahwa itu adalah tsunami earthquake. Oleh karenanya segera menjauhi pantai lantaran setiap menit apalagi setiap detik itu bisa menyelamatkan nyawa kita semua," tegas dia.

3. Tsunami Sempat Mencapai 21 Meter, Diduga Ada Faktor Lain Selain Gempa

Pepen menjelaskan, hasil observasi menunjukkan tinggi tsunami di Pangandaran dan pantai selatan Jawa Tengah umumnya berkisar 5-10 meter. Namun, di area Nusa Kambangan, tinggi tsunami tercatat mencapai sekitar 21 meter.

Menurutnya, sejumlah penelitian menyebut ketinggian tersebut kemungkinan tidak hanya disebabkan oleh patahan gempa di megathrust. Ada dugaan longsoran bawah laut lokal, serta kontribusi splay fault nan ikut memperbesar tinggi tsunami.

"Yang menarik di sini adalah pada ketinggian tsunami maksimum di wilayah Nusa Kambangan mencapai 21 meter. Itu salah satu hipotesisnya bahwa ada kemungkinan sumber lain selain dari rupture di megathrust-nya tadi, ialah adanya longsoran bawah laut lokal. Jadi ada aspek lain, ada secondary tsunami source nan ada di situ," jelas Pepen.

4. Ancaman Gempa Serupa di Selatan Jawa Masih Ada?

Pepen mengatakan Pusat Studi Gempa Nasional telah mengidentifikasi dua segmen megathrust di selatan Jawa, ialah Jawa Barat dan Jawa Timur. Berdasarkan penelitian terbaru, terdapat skenario terburuk di mana kedua segmen tersebut dapat mengalami patahan secara bersamaan.

Ia pun menegaskan, gempa berkekuatan sekitar Magnitudo 7,7 seperti Pangandaran saja sudah cukup menimbulkan kerusakan besar sehingga kesiapsiagaan masyarakat tetap menjadi aspek paling penting.

"Saya mau mengingatkan bahwa jangankan magnitudo 8, magnitudo 7,7 saja kasus gempa dan tsunami Pangandaran, magnitudo 7,8 gempa dan tsunami Banyuwangi 1994, itu telah cukup meluluhlantakkan kita semua," katanya.

5. Ketangguhan Industri Pariwisata Pangandaran Masih Jadi PR

Guru Besar Institut Teknologi Sumatra (ITERA) Harkunti Pertiwi Rahayu mengatakan, salah satu pelajaran krusial dari tsunami Pangandaran adalah perlunya memperkuat ketangguhan sektor pariwisata melalui Business Continuity Plan (BCP).

Menurutnya, Pangandaran merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional nan berkembang pesat. Namun tsunami 2006 memperlihatkan sektor pariwisata menjadi salah satu nan paling terdampak dan memerlukan waktu berbulan-bulan untuk pulih.

Berdasarkan hasil kajiannya, tingkat ketangguhan industri pariwisata Pangandaran saat ini tetap relatif rendah.

"Secara keseluruhan, Pangandaran overall resilience (ketangguhan) level-nya hanya 33,51 persen," ujar Harkunti.

Ia menilai pemerintah wilayah berbareng pelaku upaya perlu meningkatkan resiliensi area wisata agar bisa pulih lebih sigap jika kembali diterpa bencana.

"Salah satu langkah untuk menghindari ini tentunya diharapkan stakeholders di Pangandaran, khususnya untuk tourism industry, bisa meningkatkan business resilience level-nya jadi tidak 33,51 persen, bisa naik mungkin ke 50 persen alias lebih dari itu," katanya.

6. Rambu Tsunami Perlu Distandardisasi agar Tidak Membingungkan

Selain itu, Harkunti menyoroti tetap beragamnya rambu pemindahan tsunami di lapangan. Menurutnya, perbedaan kreasi rambu nan berasal dari beragam program dan donor berpotensi membingungkan masyarakat maupun visitor ketika kudu melakukan evakuasi.

Ia mengatakan, Indonesia sebenarnya telah mempunyai standar nasional untuk rambu tsunami. Namun implementasinya di lapangan tetap belum seragam sehingga perlu terus dibenahi.

"Yang saya temui di Pangandaran rupanya Tsunami Signage itu alias rambu-rambu tsunami sangat beragam. Meskipun BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sudah mengeluarkan standar, tetapi tetap ada saya lihat beberapa rambu-rambu tsunami nan sesuai dengan donor," ujarnya.

Menurut Harkunti, persoalan tidak hanya pada corak rambu, tetapi juga arah pemindahan nan di beberapa letak dapat membingungkan pendatang.

"Rambunya nggak salah ya, tetapi di dalam penerapannya tolong perlu ada penjelasan," kata dia.

7. Sistem Peringatan Dini Kini Jauh Lebih Cepat

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Informasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Weniza mengatakan tragedi Pangandaran menjadi salah satu momentum krusial percepatan pengembangan InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System).

Saat ini, BMKG telah bisa menyampaikan info gempa dan peringatan awal tsunami hanya dalam waktu sekitar tiga menit berkah penguatan jaringan seismograf, tide gauge, serta beragam kanal diseminasi informasi.

"Perjalanan waktu di tahun 2008 hingga tahun 2018 kita telah bisa untuk memberikan info gempa bumi dan peringatan awal tsunami pada waktu kurang dari 5 menit. Dan saat ini dengan perkembangan teknologi, dengan penambahan peralatan, kita bisa untuk memberikan info gempa dan tsunami dalam waktu 3 sampai 5 menit," kata Weniza.

Menurutnya, BMKG juga terus mengembangkan teknologi peringatan awal melalui Sistem Garuda, Earthquake Early Warning System (EEWS), serta penguatan kerjasama antar lembaga dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat untuk mengurangi akibat musibah di masa mendatang.

Tragedi Tsunami 2006 di Pangandaran Jawa Barat. (Istimewa)Tragedi Tsunami 2006 di Pangandaran Jawa Barat. (Istimewa) Foto: (Istimewa)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya