Gen Z Blak-blakan Pilih Nikah di KUA, Tolak Pesta Mewah demi Ini

16 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi banyak orang, pesta pernikahan tetap dianggap sebagai momen sekali seumur hidup nan layak dirayakan semeriah mungkin. Gedung megah, ratusan tamu, hingga hiasan mewah kerap menjadi gambaran ideal sebuah resepsi. Namun, langkah pandang itu perlahan mulai bergeser di kalangan generasi Z.

Alih-alih menghabiskan ratusan juta rupiah untuk pesta, sebagian anak muda sekarang justru memilih menggelar janji nikah sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA). Uang nan semula disiapkan untuk resepsi lebih dipilih dialihkan untuk kehidupan setelah menikah, mulai dari membeli rumah, melanjutkan cicilan, hingga menyiapkan masa depan family kecil.

Cerita itu dialami Seruni Cantika. Perempuan nan memutuskan menikah di KUA itu mengaku pilihannya bukan semata-mata lantaran mau berhemat, tetapi lantaran merasa pernikahan hanyalah awal dari perjalanan panjang berbareng pasangan.

"Alasan utamanya simpel, dan mungkin banyak ya nan sudah berpikiran sama kayak saya: mending uangnya dipakai untuk kehidupan setelah pernikahan," kata Seruni kepada CNBC Indonesia.

"Karena pernikahan itu bukan suatu akhir ya, tapi awal dari perjalanan," sambungnya.

Keputusan itu juga dipengaruhi pengalaman nan dia lihat di lingkungan keluarga. Seruni mengaku sempat menyaksikan salah satu sepupunya menggelar pesta mewah, tetapi kudu dibayar dengan beban utang keluarga.

"Mulanya saya berpikiran untuk menikah di KUA saja itu lantaran saya memandang sepupu saya nan bela-belain gelar pesta mewah tapi orang tuanya kudu terlilit utang. Amit-amit saya, pas tahu itu saya langsung komitmen, nggak deh bikin pesta jika hanya bikin pusing sama utang. In this economy ya," tutur dia.

Bahkan ketika kondisi tabungannya sebenarnya sudah cukup untuk menggelar pesta, Seruni mengaku tetap tak tergoda. Mendengar cerita teman-temannya nan kudu direpotkan dengan beragam urusan persiapan resepsi justru membuatnya semakin mantap memilih janji sederhana.

"Lagipula, meski tabungan sudah kondusif ya, maksudnya kita sudah ada pegangan dan itungan untuk gelar pesta, saya dengar dari teman-teman saya sebelumnya itu, pusing juga mereka ngurusin tetek-bengek persiapan pestanya. Buat saya nan memang nggak mau ribet, udahlah mending KUA saja," katanya.

Sejumlah penduduk mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tebet, Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Sejumlah penduduk mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tebet, Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Sejumlah penduduk mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tebet, Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Meski memilih menikah di KUA, Seruni tetap mau mengabadikan momen bahagianya. Ia menyewa ahli foto dan menggunakan jasa perias agar hari spesialnya tetap terasa istimewa.

"Untungnya pasangan saya juga sependapat. Akhirnya saya pilih sewa ahli foto nan mau diajak ke KUA, terus saya sudah makeup rapih ya, jadi selesai janji di balai nikah, saya langsung foto-foto dengan ahli foto nan disewa itu. Bagaimanapun kita tetap butuh dokumentasi," ucap dia.

Usai akad, Seruni dan family tetap menggelar syukuran sederhana. Namun, tamu nan diundang betul-betul dibatasi.

"Tetap ada (dirayakan), tapi saya hanya order 30 pax di salah satu restoran keluarga. Benar-benar family inti saja," kata Seruni.

Dengan konsep tersebut, dia menuturkan biaya nan dikeluarkan pun jauh lebih ringan dibanding pesta pernikahan pada umumnya.

"Kayaknya waktu itu sekitar Rp6 juta alias Rp7 juta ya, soalnya rumah makan Sunda-an aja sih, nan per pax nya nggak sampai Rp200 ribu," ucapnya.

"Dan KUA nya gratis, paling saya bayar tukang rias, sewa baju dan ahli foto saja. Hemat banget pokoknya," lanjut dia.

Cerita berbeda datang dari Juna. Keputusannya menikah di KUA lebih banyak dipengaruhi kondisi keuangan. Saat itu, dia dan pasangannya tengah mencicil rumah sehingga ruang untuk menyiapkan pesta nyaris tidak ada.

"Kebetulan budgetnya tipis, lantaran udah sembari melangkah KPR rumah, sedangkan penghasilan juga belum 2 digit. Nggak ke-cover jika kita nabung nikah sekaligus KPR rumah," kata Juna.

"Memang sudah di atas UMR (gajinya), tapi tetap jauh dari kata nutup sih buat bikin pesta gitu. Apalagi saya termasuk sandwich generation ya," sambungnya.

Juna mengaku biaya pernikahannya apalagi jauh lebih kecil. Karena menikah pada hari kerja, janji di KUA tidak dipungut biaya. Dokumentasi pun dibantu oleh sang kakak.

"Jujur, kemarin saya minim banget sih. Kayaknya hanya Rp1 jutaan, itu sudah sama sewa baju. Jasa foto gitu saya minta tolong kakak saya, dia lumayan bisa foto ala-ala. KUA saya di hari kerja makanya gratis, kayaknya kemarin bayar itu hanya bayar buat makelar ngurusin ke RT/RW kelurahan gitu ya," ungkap dia.

Bagi Juna, tren menikah sederhana justru sangat membantu pasangan muda nan sedang berjuang membangun kehidupan rumah tangga.

"Jujur ya, saya sangat terbantu dengan adanya tren gini. Bukan saya nggak ngehargai pasangan, justru ini langkah saya menghargai pasangan saya. Saya mau memastikan family mini kami kelak ke depannya berkecukupan, maksudnya sudah nggak pusing mikir gimana duit sudah lenyap buat pesta," ujarnya.

Ia mengakui sempat mempertimbangkan potensi duit sampulsurat dari tamu andaikan menggelar resepsi pernikahan. Namun setelah dihitung, menurutnya pemasukan tersebut tetap tidak sebanding dengan biaya nan kudu dikeluarkan.

"Iya itu lumayan ya. Tapi menurut saya nggak sebanding dengan biaya nan kita keluarin. Kebetulan saya sudah coba hitung-hitung, rupanya tetap ngepres banget, nggak masuk di budget kami nan memang penghasilan kantoran Jakarta, mepet UMR gini kan," kata Juna.

Sementara itu, Anisa Rayu mempunyai argumen berbeda. Ia menikah di KUA bukan semata lantaran pertimbangan biaya, melainkan lantaran permintaan orang tua nan mau pernikahan segera dilangsungkan.

"Kebetulan kemarin orang tua saya minta segera nikah saja, untuk resepsinya menyusul. Karena kebetulan adik saya sudah mau nikah, takut kelangkahan, ada budaya itu pamali, katanya nggak boleh adik nikahnya ngeduluin kakak. Jadi saya diminta buru-buru nikah duluan, untungnya pacar saya kemarin (sekarang sudah suami) bersedia," kisah Anisa.

Meski begitu, Anisa tidak menutup kemungkinan tetap menggelar resepsi pada waktu mendatang. Hanya saja, konsep nan dipilih kemungkinan jauh lebih sederhana dibanding pesta pernikahan pada umumnya.

"Kayaknya tetap ada, tapi belakangan mempertimbangkan buat aktivitas kecil-kecil intimate wedding saja sih. Tapi itu belum, tetap coba kami atur waktu resepsinya," ucapnya.

pasangan Gen Z lainnya Ade berbareng Intan juga mengatakan perihal nan sama. Pasangan Gen Z nan menikah di KUA Tanjung Priok ini mengungkapkan pilih nikah di KUA lantaran simpel dan tak menghamburkan banyak uang. Mereka berdua sepakat duit mahar pernikahan bakal disimpan untuk kebutuhan di kemudian hari.

"Kami sepakat nikah di KUA dan gelar syukuran kecil-kecilan dengan family di rumah," ucap Ade.

"Makan ala kadarnya. Uang lebihnya disimpan buat kebutuhan masa depan. Masih mikir buat kelak kebutuhan anak, duit kontrakan dan lain-lain," timpal Intan.

Ade dan Intan menghilangkan kata pamor dan omongan tetangga soal tak gelar pesta pada pernikahannya.

"Omongan tetangga biasanya muncul kayak kok gak ada undangan pernikahan, jangan-jangan apa nih. Ya cuekin aja," bebernya.

Pengakuan Gen Z ini menunjukkan bahwa keputusan menikah di KUA lahir dari beragam pertimbangan. Ada nan mau mengalokasikan biaya untuk masa depan rumah tangga, ada nan kudu menyesuaikan keahlian finansial, ada pula nan didorong situasi keluarga. Namun benang merahnya sama: bagi mereka, kemewahan pesta tak lagi menjadi ukuran utama sebuah pernikahan. nan terpenting adalah memulai kehidupan baru tanpa terbebani persoalan nan sebenarnya tetap bisa dihindari.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya