Gen Z Ramai-Ramai Nikah di KUA, Efeknya Terasa Sampai ke Pengusaha WO

20 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Ramainya Gen Z memilih menikah di KUA alias menggelar intimate wedding mulai mengubah peta industri pernikahan. Di satu sisi, tren ini dianggap sebagai corak efisiensi pasangan muda nan enggan menghamburkan biaya untuk pesta besar. Namun di sisi lain, pelaku upaya wedding organizer (WO), dekorasi, hingga catering dipaksa memutar strategi agar tetap memperkuat di tengah pergeseran selera pasar.

Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Dekorasi Indonesia (Aspedi) DKI Jakarta sekaligus owner Garda Dekorasi, Warsono, mengatakan perlambatan di upaya wedding memang mulai terasa jika dibandingkan masa pemulihan pasca pandemi pada 2022-2023. Menurut dia, calon pengantin sekarang lebih selektif, menekan anggaran, dan mengambil keputusan dalam waktu nan jauh lebih singkat.

"Terkait dengan kondisi upaya di bagian Wedding Organization (WO), dekorasi, dan pendukung lainnya secara umum saat ini ada perlambatan dibanding sebelumnya pasca pandemi 2022-2023. Calon pengantin sekarang sudah bergeser, mereka lebih selektif dan tekan budget, serta mepet waktu untuk ambil keputusan di H-4 bulan. Beda banget sama sebelumnya, mereka sudah booking (pesan) di satu tahun sebelum hari H," kata Warsono kepada CNBC Indonesia.

Ia memperkirakan, dibanding tahun lampau penurunan permintaan berada di kisaran 25%-35%, terutama untuk pesta pernikahan skala besar.

"Kalau berbanding di tahun lampau untuk penurunan permintaan kisaran 25%-35%, nyaris di semua industri wedding. Hanya saja ini bukan nomor pasti," ujarnya.

Menurut Warsono, penurunan paling terasa di segmen menengah atas, khususnya pesta besar dengan tamu 800-1.000 orang. Sebaliknya, pernikahan intimate justru tumbuh.

"Penurunan order paling terasa di segmen menengah atas untuk pesta besar 800-1.000 tamu ke atas. Untuk nan intimate justru sangat tumbuh berkembang," ungkap dia.

Owner SatSet Wedding Organizer Adi Rahzalafna juga memandang indikasi serupa. Ia menyebut tren nikah di KUA dan intimate wedding telah mengubah permintaan di beragam lini upaya wedding. Ada sektor nan turun, ada pula nan tetap, apalagi menguat.

Sejumlah penduduk mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tebet, Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Sejumlah penduduk mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tebet, Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Sejumlah penduduk mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tebet, Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

"Timbul beragam akibat lantaran tren Nikah di KUA ini. Penurunan order umumnya terjadi pada aktivitas berskala besar dan pada beragam bagian seperti dekorasi, katering, MC dan Crew WO on the Day, entertainment. Tapi condong tetap di fotografer, videografer, dan MUA (make-up artist). Dan terjadi peningkatan pada bagian pendukung, nan mana ini pendatang baru, seperti jasa asisten pengantin, stand stall/jajanan kekinian," ujar Adi.

Menurut dia, pergeseran itu tidak berfaedah industri wedding kehilangan pasar sepenuhnya. Permintaan tetap ada, hanya bentuknya berubah.

"Permintaan jasa tetap ada, hanya lebih kepada perubahan style dan jumlah pesanan," katanya.

Di tengah perubahan itu, lanjut dia, sektor pengarsipan seperti foto dan video justru relatif bertahan.

"Fotografer alias videografer nan style baru itu terus berkembang, order condong tetap. Bisa paket bundling prewed, akad, resepsi. Sehingga lebih hemat," jelas dia.

Kenapa Banyak Gen Z Pilih Nikah di KUA?

Warsono menilai pergeseran ini tak bisa dilepaskan dari dua aspek sekaligus, ialah tekanan ekonomi dan perubahan karakter generasi muda. Menurut dia, calon pengantin sekarang, terutama di segmen menengah, lebih memilih paket efisien dan venue nan lebih sederhana.

"Ini betul banget, terlepas mereka di KUA alias venue kecil, memang sekarang mereka lebih ke efisiensi untuk menekan budget, dan pemain nan di segmen itu semakin ramai. Sebaliknya, segmen menengah atas sangat berdampak," kata Warsono.

Ia juga menekankan, tren ini bukan sekadar pengaruh sesaat. Warsono menilai, jangka pendek dari kejadian ini lantaran akibat ekonomi dan daya beli masyarakat nan menurun. Tetapi untuk jangka panjangnya, lantaran terjadi perubahan pola pikir di kalangan masyarakat generasi Z.

"Kita akui generasi Z sudah berubah, mereka mengutamakan medsos dan memandang lebih efisien dibanding kemewahan. Jadi kita sebagai pelaku industri kudu adaptif dan kreatif. nan nggak mau ikut perkembangan bakal cukup berat," ujarnya.

Sementara itu, Staf Wedding Organizer, Arini punya pandangan nan sedikit lebih moderat. Menurut dia, memang ada penurunan order dalam dua tahun terakhir, tetapi belum tentu sepenuhnya dipicu oleh tren nikah di KUA. Meski begitu, dia mengakui pesta besar memang lebih terdampak dibanding intimate wedding.

"Memang jika dibanding beberapa tahun lampau ada penurunan sedikit, tapi belum bisa dipastikan penyebabnya lantaran orang memilih menikah di KUA alias ada aspek lainnya," kata Arini.

"Kalau nan saya lihat dari lingkup pengguna saya sekitar 2 tahun terakhir ya. Persentasenya nggak terlalu banyak sebenarnya," tambahnya.

Meski begitu, dia mengakui booking tahun ini memang lebih lemah dibanding tahun lalu.

"Kalau saya melihatnya agak turun jika dibandingkan tahun lampau khususnya. Misalkan diberi skala 1-10, tahun ini bisa disebut 7, sedangkan tahun lampau 8," ujar dia.

Arini juga memandang tren pasangan nan memilih janji sederhana alias intimate wedding makin nyata.

"Menurut saya, tetap banyak nan memilih untuk melangsungkan intimate wedding sebagai salah satu solusinya, di mana tetap bisa menyelenggarakan pesta namun dengan jumlah tamu minim dan budget nan lebih ramah di kantong. Tapi memang jika memandang tren secara keseluruhan di lapangan, terlihat ada pergeseran sehingga makin banyak pasangan memilih menikah di KUA saja," kata Arini.

Menurut dia, biaya nan tadinya disiapkan untuk resepsi besar sekarang kerap dialihkan ke kebutuhan lain.

"Tidak sedikit nan demikian, lantaran memilih mengalokasikan modal besar untuk pesta pernikahan tersebut ke perihal lain seperti bulan madu di luar negeri, membeli rumah, alias perihal lainnya untuk masa depan pernikahan," ujarnya.

Terjadi PHK?

Meski begitu, belum semua pelaku upaya sampai melakukan pemutusan hubungan kerja. Adi mengaku di bisnisnya justru menambah tenaga kerja. Sementara Warsono menyebut efisiensi dilakukan lewat pengurangan perjanjian pekerja freelance musiman, bukan memangkas tim inti.

"Tetap ada, hanya belum signifikan seperti saat pandemi kita ubah pola kerja, salah satunya tidak perpanjang perjanjian freelance musiman, staf nan ada di maksimalkan untuk efisiensi tanpa mengorbankan SDM nan terampil dan inti, lantaran mereka adalah aset perusahaan," kata Warsono.

Bagaimana Pengusaha Bertahan?

Untuk bertahan, para pelaku upaya sekarang dipaksa beradaptasi. Adi menyebut pihaknya terus mengembangkan kreativitas, menyesuaikan paket, dan menata ulang struktur biaya tanpa mengurangi kualitas layanan.

"Berupaya terus mengikuti tren dan mengembangkan kreativitas. Memperhitungkan dan menyesuaikan kembali paket nan ditawarkan, cost, tanpa mengurangi value," ujarnya.

Arini menyebut langkah serupa dilakukan banyak WO, ialah menawarkan paket all-in nan lebih murah, bekerja sama dengan vendor lain, hingga masuk ke upaya event organizer.

"Menawarkan paket all in dengan nilai lebih murah, bekerjasama dengan vendor lain, diversifikasi ke aktivitas lain juga termasuk. Karena kebetulan kami tidak hanya ada WO, tetapi juga menjalankan EO (event organization) sejak beberapa tahun terakhir sebagai upaya pengembangan bisnis," kata Arini.

Sementara Warsono menilai industri wedding ke depan tak bisa lagi bertumpu pada pola lama. Selain menyesuaikan harga, pelaku upaya juga kudu mengedukasi pengguna dan memperluas pasar ke event lain.

"Untuk bisa bertahan, bikin nilai nan bisa menyesuaikan dengan permintaan, masuk event-event lain nan tetap berkaitan, edukasi ke client agar budaya silaturahmi di Indonesia tetap terjaga," ujar Warsono.

Di mata pelaku usaha, tren nikah di KUA dan intimate wedding bukan semata ancaman, melainkan sinyal bahwa industri wedding sedang masuk fase baru. Pesta besar mungkin tak lagi dominan, tetapi kebutuhan bakal jasa pernikahan tak betul-betul hilang. Ia hanya berubah bentuk: lebih ringkas, lebih hemat, dan lebih dekat dengan selera generasi nan tak lagi memandang kemewahan sebagai ukuran utama sebuah pernikahan.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya