Gen Z Ramai-Ramai Pilih Nikah di KUA karena Gratis dan Syaratnya Mudah

21 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) sekarang bukan lagi pilihan nan dipandang sebelah mata. Belakangan, semakin banyak pasangan muda, terutama dari kalangan Gen Z, nan memilih menggelar janji nikah di balai nikah KUA daripada menyewa gedung alias mengadakan pesta besar.

Di kembali tren tersebut, ada satu perihal nan menjadi daya tarik tersendiri: prosesnya relatif sederhana, fasilitasnya tersedia, dan nan paling menarik, tidak dipungut biaya andaikan janji dilaksanakan pada hari kerja dan jam kerja.

Namun, Penghulu di KUA Setiabudi Abdul Hamid mengatakan, menikah di KUA tidak bisa dilakukan secara mendadak. Calon pengantin tetap diwajibkan mendaftarkan rencana pernikahannya terlebih dahulu.

"Kalau pendaftaran kan kita 10 hari kerja. Ya jika lewat dari itu kudu menyiapkan surat pengecualian dari kelurahan alias surat pernyataan, kenapa melangsungkan pernikahan di bawah 10 hari gitu. Jadi kita kudu datang dulu 10 hari sebelumnya," jelas Hamid kepada CNBC Indonesia.

Ia menegaskan, pasangan tidak bisa langsung datang pada hari itu juga untuk menikah.

"Iya daftar dulu. Kalau langsung datang ya otomatis tidak bisa. Kecuali memang komplit dan memang ada surat dispensasi, ya mungkin sehari alias dua hari gitu. Tapi jika datang daftar, terus langsung nikah kayaknya nggak bisa," ujarnya.

Selain pendaftaran, calon pengantin juga kudu menyiapkan sejumlah arsip administrasi. Namun menurut Hamid, persyaratannya tidak rumit.

"Syarat-syaratnya pertama ya surat pengantar dari RT/RW, Kelurahan, Kecamatan, kemudian kelak surat keterangan sehat, KTP, KK, ijazah. Kalau dari polisi kelak ada surat izin polisi, jika dari luar negeri kelak ada surat dari kedutaan," terang dia.

Tak hanya proses manajemen nan mudah, biaya menikah di KUA juga menjadi salah satu argumen banyak pasangan tertarik. Hamid menjelaskan, janji nan digelar di KUA pada hari kerja dan jam kerja sama sekali tidak dikenakan biaya.

"Tidak ada (dikenakan biaya). Kalau di hari dan jam kerja, itu tidak ada biaya sebenarnya. Sewa tempat pun nggak ada. Jadi full cuma-cuma gitu," ujarnya.

Biaya baru dikenakan andaikan janji dilakukan di luar ketentuan tersebut, misalnya pada hari libur alias di luar jam kerja.

"Gratis jika menikah alias waktu janji nikahnya ya di hari kerja di jam kerja. Di luar daripada itu ada PNBP, istilahnya kelak masuk ke kas negara Rp600 ribu ya," kata Hamid.

Sepasang calon pengantin Azril 24 tahun dan Julia 23 tahun menjalani prosesi janji nikah di KUA Tebet, Jakarta, Jumat, (17/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Sepasang calon pengantin Azril 24 tahun dan Julia 23 tahun menjalani prosesi janji nikah di KUA Tebet, Jakarta, Jumat, (17/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Ia menambahkan, biaya tersebut juga bertindak andaikan pasangan memilih menikah di KUA pada hari Sabtu alias hari libur lainnya.

"Kalau mau di KUA pun tapi hari libur, iya misalkan hari Sabtu 'saya mau di KUA aja' hari Sabtu bisa, boleh tapi tetap bayar PNBP ke kas negara," ujarnya.

Soal fasilitas, Hamid menjelaskan KUA memang tidak menyediakan hiasan khusus. Namun balai nikah beserta meja dan bangku sudah tersedia, sementara calon pengantin dipersilakan membawa hiasan sendiri andaikan menginginkan suasana nan lebih menarik.

"Kalau di KUA sebenarnya kita hanya menyediakan tempat. Biasanya mereka buat dekor lagi sendiri. Dia izin, kita mau dekor, silahkan jika nan mau dekor gitu. Bawa dekornya sendiri. Jadi di KUA itu hanya menyediakan tempat saja sih sebenarnya," jelas dia.

Kemudahan proses dan biaya nan ringan inilah nan dinilai ikut mendorong minat pasangan muda untuk menikah di KUA. Menurut Hamid, karakter Gen Z nan menyukai segala sesuatu nan praktis menjadi salah satu penyebabnya.

"Satu mungkin Gen Z ini lebih suka simpel, hal-hal nan simpel.... sehingga hal-hal itu nan memicu 'ah pernikahan mending lebih baik simpel' gitu kan, lantaran kan intinya ijab kabul aja," ujarnya.

Selain itu, pertimbangan ekonomi juga tak bisa diabaikan.

"Yang kedua, mungkin dari ekonomi juga ya, kan ekonomi kayaknya memang agak susah ya sekarang, sehingga memilih untuk di KUA, untuk menghemat ekonomi. Untuk mungkin ke depannya setelah menikah, digunakan untuk seperti mungkin ya honeymoon-nya, alias membangun bisnis, alias rumah, membeli properti nan lain," kata Hamid.

Sementara itu, Kepala KUA Tebet Nasrulloh mengungkapkan untuk menikah di KUA pun katanya cukup simpel. Sesuai regulasi, pasangan wajib melengkapi info seperti surat pengantar dari kelurahan hingga catatan kesehatan dari puskesmas.

"Dan surat rekomendasi nikah jika memang berasal dari luar tempat nikah. KTP KK itu juga wajib," ucapnya.

Dia menambahkan, banyak dari pasangan nan menikah di hari Jumat.

"Untuk nan nikah di KUA biasanya di hari jumat, mungkin pemahaman masyarakat biasanya Jumat hari bagus ya," katanya.

Cerita itu diamini Seruni Cantika, salah satu Gen Z nan memilih menikah di KUA. Menurutnya, janji sederhana justru membikin anggaran pernikahan bisa dialihkan untuk kebutuhan nan lebih penting.

"Alasan utamanya simple, dan mungkin banyak ya nan sudah berpikiran sama kayak saya: mending uangnya dipakai untuk kehidupan setelah pernikahan. Karena pernikahan itu bukan suatu akhir ya, tapi awal dari perjalanan," ujar Seruni.

Ia mengaku hanya menggelar makan berbareng family inti setelah janji dan mengeluarkan biaya sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta.

"Kayaknya waktu itu sekitar Rp6 juta alias Rp7 juta ya, soalnya rumah makan Sunda-an aja sih, nan per pax nya nggak sampai Rp200 ribu. Dan KUA nya gratis, paling saya bayar tukang rias, sewa baju dan ahli foto saja. Hemat banget pokoknya," katanya.

Fenomena tersebut juga diamati pelaku industri pernikahan. Owner SatSet Wedding Organizer Adi Rahzalafna menilai, tren nikah di KUA bukan lagi identik dengan keterbatasan biaya, melainkan menjadi pilihan style hidup baru di kalangan pasangan muda.

Menurut dia, kejadian itu menjadi corak penyegaran style dan pembaharuan perspektif pandang, dan menghapus beragam stereotype negatif tentang 'nikah di KUA'.

Bagi banyak Gen Z, menikah di KUA sekarang bukan sekadar langkah menghemat biaya. Kemudahan proses, akomodasi nan memadai, serta biaya nan cuma-cuma pada hari kerja membikin balai nikah menjadi pengganti nan semakin dilirik sebagai tempat memulai kehidupan baru berbareng pasangan.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya