Generasi Yamal Berpeluang Ulangi Kejayaan Spanyol 2010

4 hari yang lalu 11
Generasi Yamal Berpeluang Ulangi Kejayaan Spanyol 2010 Timnas Spanyol.(AFP)

TIMNAS Spanyol kembali berdiri di periode sejarah. Enam belas tahun setelah mengangkat trofi Piala Dunia pertama di Afrika Selatan, La Roja kembali menembus partai final. La Roja generasi baru ini berkesempatan mengulang kejayaan generasi emas 2010 saat menghadapi Argentina pada final Piala Dunia 2026, Senin (20/7) awal hari WIB.

Meski tidak dihuni nama-nama sebesar era Xavi Hernandez, Andres Iniesta, alias Iker Casillas, tim racikan Luis de la Fuente saat ini menunjukkan efektivitas nan sama. Mereka datang ke Piala Dunia 2026 dengan status juara Eropa.

Pola itu persis seperti skuad didikan Vicente del Bosque nan menjuarai Euro 2008 sebelum menaklukkan bumi pada 2010. Ada benang merah lain nan menghubungkan kedua generasi tersebut. Pada 2010, hanya tiga pemain di susunan utama nan bukan bagian dari skuad juara Euro 2008. Kini, hanya dua starter saat semifinal melawan Prancis nan tidak ikut mengantar Spanyol menjuarai Euro 2024.

Namun, ada pula perbedaan mencolok. Rata-rata usia skuad Spanyol 2026 sedikit lebih tua dibanding tim 2010 ialah 27,8 tahun berbanding 26,7 tahun. Sebaliknya, pengalaman internasional mereka jauh lebih minim dengan rata-rata 33 caps, sedangkan generasi 2010 mengoleksi rata-rata 56 penampilan berbareng timnas.

Meski demikian, performa tim De la Fuente tak bisa dipandang sebelah mata. Spanyol datang ke final dengan catatan tak terkalahkan dalam 37 pertandingan internasional. Mereka juga menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia nan bisa mencatat enam clean sheet dalam satu jenis turnamen.

Casillas alias Unai Simon?

Di bawah mistar, Unai Simon mulai membangun reputasi nan mengingatkan publik kepada Iker Casillas. Menariknya, usia keduanya saat tampil di final Piala Dunia nyaris identik, sama-sama 29 tahun.

Casillas kala itu sudah mengoleksi 110 caps dan dikenal sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dunia. Simon memang baru mencatat 65 penampilan internasional, tetapi tampil konsisten sepanjang turnamen.

Kiper Athletic Bilbao itu apalagi mencatat enam pertandingan beruntun tanpa kebobolan dalam waktu normal di Piala Dunia, sebuah rekor baru untuk seorang penjaga gawang.

Dulu Puyol, Sekarang Cubarsi

Di sektor bek sayap, Pedro Porro dan Marc Cucurella memang belum mempunyai pengalaman sebesar Sergio Ramos maupun Joan Capdevila pada 2010. Namun, keduanya menjadi bagian krusial dari solidnya pertahanan Spanyol sepanjang turnamen.

Di jantung pertahanan, kombinasi pemain senior dan muda kembali menjadi kekuatan La Roja. Jika dulu Carles Puyol berduet dengan Gerard Pique, sekarang Aymeric Laporte menjadi mentor bagi Pau Cubarsi nan tetap sangat muda.

Cubarsi nan baru berumur 19 tahun tampil matang sepanjang turnamen. Bersama Laporte, dia membantu Spanyol hanya kebobolan satu gol hingga menembus final, apalagi sukses meredam lini depan Prancis nan diperkuat Kylian Mbappe, Michael Olise, dan Ousmane Dembele.

Rodri Mengisi Warisan Xavi

Di lini tengah, duet Sergio Busquets dan Xabi Alonso menjadi fondasi kesuksesan Spanyol pada 2010. Kini peran serupa dijalankan Rodri dan Fabian Ruiz. Rodri kembali memperlihatkan kualitasnya sebagai salah satu gelandang memperkuat terbaik dunia. Pemenang Ballon d'Or 2024 itu menjadi pemain dengan jumlah umpan terbanyak sepanjang turnamen sekaligus termasuk nan paling aktif melakukan tekel.

Di depan mereka, Dani Olmo dan Alex Baena menjadi motor kreativitas. Meski belum mencapai level magis duet Xavi dan Iniesta, keduanya berkedudukan besar menjaga ritme permainan Spanyol.

Xavi dan Iniesta sendiri meninggalkan warisan besar. Xavi mengirim umpan dari sepak pojok nan berujung gol kemenangan Puyol atas Jerman di semifinal 2010, sedangkan Iniesta mencetak gol paling berhistoris dalam sejarah sepak bola Spanyol saat menaklukkan Belanda di final.

Panggung Lamine Yamal

Di lini depan, Lamine Yamal dan Mikel Oyarzabal menjadi tumpuan baru La Roja. Yamal memang baru mencetak satu gol di turnamen ini. Namun, winger Barcelona berumur 19 tahun itu tetap menjadi ancaman berkah kecepatan dan kreativitasnya.

Sementara itu, Oyarzabal tampil lebih produktif dengan lima gol sepanjang Piala Dunia 2026. Enam belas tahun lalu, David Villa juga mengemas lima gol dan menjadi salah satu top skor turnamen.

Generasi baru Spanyol mempunyai kesempatan menyamai pencapaian para seniornya. Jika bisa menaklukkan Argentina, nama Rodri, Yamal, Cubarsi, hingga Oyarzabal bakal resmi sejajar dengan Casillas, Ramos, Xavi, Iniesta, dan Villa dalam lembar sejarah sepak bola Spanyol. (Dhk/P-3)

Selengkapnya