Golo Mori Sunset Run: Race Menantang, UMKM Bergerak, Pariwisata Menggeliat

1 jam yang lalu 4
 Race Menantang, UMKM Bergerak, Pariwisata Menggeliat Ilustrasi(Dok Istimewa)

GOLO MORI Sunset Run (GMSR) 2026 tidak sekadar menawarkan pengalaman berlari sembari menikmati pemandangan mentari terbenam. Event nan bakal digelar pada 22 Agustus 2026 di Kawasan The Golo Mori, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu mulai memperlihatkan wajah lain: sebagai ruang bertemunya olahraga, pariwisata dan ekonomi masyarakat lokal.

GMSR 2026 merupakan kerjasama antara manajemen ITDC The Golo Mori, Golo Mori Convention Center (GMCC), dan organisasi lari lokal Komodo Runners. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas partisipasi masyarakat sekaligus memperkenalkan pengalaman berlari dengan pemandangan perbukitan dan laut unik The Golo Mori.

Mengusung tema Beyond The Limits, Golo Mori Sunset Run tahun ini menghadirkan dua kategori, ialah Fun Run 5K dan Fun Walk 2,5K.

Konsep tersebut membujuk peserta untuk melampaui pemisah keahlian diri sekaligus menikmati pengalaman sport tourism nan berpadu dengan keelokan alam area The Golo Mori.

Namun, daya tarik GMSR tidak hanya terletak pada panorama. Karakter lintasan nan mempunyai kontur naik-turun menjadi tantangan tersendiri bagi para pelari.

Pelari tidak hanya dituntut mengandalkan kecepatan, tetapi juga kudu bisa mengatur ritme, stamina dan strategi ketika menghadapi tanjakan maupun turunan sepanjang race.

Bagi pelari lokal, kondisi tersebut justru dapat menjadi keunggulan. Mereka telah terbiasa dengan karakter alam Golo Mori nan berbukit dan menantang.

Perwakilan Komodo Run, Febria Lazuardi, mengatakan antusiasme masyarakat lokal terhadap Golo Mori Sunset Run sangat tinggi. Bahkan sejak penyelenggaraan tahun sebelumnya, peserta dari beragam kategori banyak berasal dari penduduk lokal Flores dan Nusa Tenggara Timur.

“Ya, mereka sangat antusias sebetulnya, terutama penduduk lokal. Dari tahun lampau juga, dari tiga kategori, pelajar, master, dan umum, rata-rata nan ikut itu orang lokal Flores. nan kategori umum saja sebenarnya banyak dari NTT,” kata Febria, Jumat (7/8).

Menurut Febria, salah satu perihal menarik terlihat pada kategori master. Ada peserta nan merupakan penduduk lokal Golo Mori dan dalam kesehariannya bekerja mengejar alias menggembala ternak di area pegunungan.

“Yang menarik lagi, nan master itu penduduk lokal Golo Mori sebetulnya. Setiap harinya memang mengejar ternak di gunung. Dan beliau memang langganan podium,” ujarnya.

Kebiasaan masyarakat lokal beraktivitas di medan berbukit dinilai menjadi modal tersendiri. Mereka sudah berkawan dengan tanjakan dan turunan nan menjadi karakter area Golo Mori.

“Jadi jika ditanya antusias, sangat antusias. Keren, lantaran sudah terbiasa juga mengalami kontur seperti itu,” kata Febria.

Karakter lintasan tersebut membikin Golo Mori Sunset Run mempunyai tantangan tersendiri. Bagi pelari nan tidak terbiasa dengan medan berbukit, tanjakan dan turunan dapat menguras stamina. Sebaliknya, pelari lokal mempunyai untung lantaran lebih familiar dengan kondisi medan.

Namun, tantangan race bukan satu-satunya cerita dari Golo Mori Sunset Run 2026.

Di luar lintasan, event ini juga diarahkan untuk menciptakan pergerakan ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran peserta dalam jumlah besar membuka kesempatan bagi UMKM lokal untuk menawarkan makanan, minuman, produk lokal maupun beragam kebutuhan peserta.

Roy Nale dari Bank NTT Cabang Labuan Bajo mengatakan aktivitas seperti Golo Mori Sunset Run mempunyai akibat terhadap ekonomi lokal, khususnya UMKM nan terlibat.

“Menurut kami, aktivitas seperti Golo Mori Sunset Run ini sangat berakibat terhadap ekonomi lokal, khususnya UMKM nan terlibat. Ketika peserta datang, tentu ada kebutuhan untuk makanan, minuman, produk lokal maupun beragam kebutuhan lainnya. Ini menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk mendapatkan faedah ekonomi secara langsung,” ujar Roy.

Menurutnya, akibat ekonomi sebuah event tidak hanya terjadi di letak penyelenggaraan. Pergerakan peserta dan visitor juga dapat memberikan pengaruh terhadap sektor transportasi, akomodasi, kuliner dan beragam upaya jasa lainnya.

Karena itu, Roy berambisi keterlibatan UMKM lokal dalam event pariwisata semakin besar. Event olahraga, menurut dia, kudu dapat menjadi ruang nan mempertemukan masyarakat, pelaku upaya dan wisatawan.

“Harapan kami, ke depan keterlibatan UMKM lokal semakin besar. Jadi event ini bukan hanya tentang olahraga, tetapi gimana aktivitas ini bisa menjadi ruang berbareng untuk menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, General Manager The Golo Mori, Aji Munarwiyanto, memandang tingginya partisipasi masyarakat sebagai sinyal positif bagi pengembangan event tersebut.

Pada awalnya, penyelenggara menargetkan sekitar 400 peserta. Namun, jumlah pendaftar kemudian meningkat hingga mendekati 500 orang jumlah ini belum termasuk pelari undangan.

Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa event olahraga di area destinasi mempunyai daya tarik tersendiri. Peserta tidak hanya datang untuk berkompetisi, tetapi juga mendapatkan pengalaman berada di area Golo Mori.

Bagi penyelenggara, tantangannya kemudian adalah memastikan peningkatan jumlah peserta tersebut berbanding lurus dengan faedah nan diterima masyarakat lokal.

Sebab, semakin banyak peserta nan datang, semakin besar pula potensi perputaran ekonomi. Peserta memerlukan makanan dan minuman, transportasi, akomodasi serta beragam kebutuhan lainnya.

Dari sisi pariwisata, Golo Mori Sunset Run juga menjadi langkah untuk memperkenalkan destinasi melalui pengalaman langsung. Peserta nan sebelumnya mungkin hanya mengenal Golo Mori sebagai area wisata, sekarang dapat merasakan karakter alamnya melalui lintasan lari.

Pengalaman tersebut menjadi krusial dalam membangun sport tourism. Destinasi tidak hanya dijual melalui foto dan promosi, tetapi melalui pengalaman nan dirasakan langsung oleh visitor dan peserta.

Hal itu pula nan membikin organisasi pelari memandang Golo Mori Sunset Run mempunyai kesempatan berkembang lebih jauh.
Running Enthusiast, Etha Jemali  menilai pengalaman mengikuti race di Golo Mori memberikan tantangan tersendiri. Ia sebelumnya sempat naik podium pada penyelenggaraan tahun lalu, meski ketika itu tidak memasang sasaran khusus.

“Yang tahun kemarin itu buat senang-senang saja. Enggak ada mikir naik podium, enggak ada sasaran sama sekali,” ujar Etha.

Menurutnya, kondisi race nan mempunyai tanjakan dan turunan membikin peserta tidak bisa hanya mengandalkan kecepatan. Kemampuan mengatur tenaga menjadi aspek krusial untuk dapat menyelesaikan lintasan dengan baik.

Karakter tersebut sekaligus membikin Golo Mori Sunset Run mempunyai identitas tersendiri. Race bukan hanya tentang siapa nan paling cepat, tetapi gimana pelari bisa membaca medan dan mengelola stamina.

Dengan jumlah peserta nan meningkat, persaingan pada tahun ini diperkirakan semakin terbuka. Pelari lokal maupun peserta dari luar wilayah bakal berhadapan dengan medan nan sama, dengan tantangan kontur Golo Mori sebagai salah satu aspek penentu.

Pada akhirnya, Golo Mori Sunset Run 2026 mempunyai cerita nan lebih luas daripada sekadar podium.

Di satu sisi, pelari ditantang menaklukkan lintasan naik-turun. Di sisi lain, UMKM lokal mendapatkan ruang untuk bergerak dan memperoleh faedah ekonomi. Sementara bagi sektor pariwisata, kehadiran ratusan hingga ribuan peserta menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Golo Mori melalui pengalaman sport tourism.(H-2)

Selengkapnya