Grebeg Ageng Yaaqawiyyu 2026: Jadwal, Tradisi, dan Dampak Ekonomi di Jatinom Klaten

1 jam yang lalu 3
 Jadwal, Tradisi, dan Dampak Ekonomi di Jatinom Klaten Grebeg Ageng Yaaqawiyyu Kiai Ageng Gribig(MI/HO)

PUNCAK aktivitas tahunan Grebeg Ageng Yaaqawiyyu Kiai Ageng Gribig dijadwalkan kembali berjalan pada Jumat, 31 Juli 2026. Bertempat di Lapangan Klampeyan, Desa Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, perhelatan budaya ini rencananya bakal dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto.

Ketua Umum Yayasan Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig, KRAT Muh Ebta Tri Cahyo Dwijo Nagoro, menegaskan bahwa aktivitas ini merupakan komitmen nyata dalam menjaga warisan leluhur. Menurutnya, tradisi dan budaya adalah identitas bangsa nan kudu dipertahankan di tengah arus globalisasi.

"Tradisi mengajarkan bahwa budaya tidak boleh hanya menjadi kenangan, namun kudu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya," ujar Ebta.

Rangkaian Kegiatan Grebeg Ageng Yaaqawiyyu 2026

Secara konsep, penyelenggaraan tahun ini tetap mempertahankan pakem tahun-tahun sebelumnya. Rangkaian aktivitas telah dimulai sejak pertengahan Juli sebagai penanda masuknya bulan Safar dalam penanggalan Jawa.

Tanggal Agenda Kegiatan
16 Juli 2026 Ambuko Songsong Winadi (Pembukaan 1 Safar)
22 Juli 2026 Semakan Al Qur'an Bil Qhoib & Khataman Al Qur'an
Pekan Acara Festival Seni Budaya (Sepanjang Jalan Raya Jatinom)
Malam Puncak Kenduri Seni Malam Midodaren di Amphiteater Klampeyan
31 Juli 2026 Puncak Acara: Penyebaran Apem di Lapangan Klampeyan

Selain agenda tersebut, masyarakat juga dapat menyaksikan Kirab Gunungan Apem nan bergerak dari Kantor Kecamatan Jatinom menuju Masjid Gedhe Jatinom, serta prosesi serah terima gunungan dari Forkompincam kepada pihak yayasan.

Dampak Ekonomi dan Partisipasi Masyarakat

Grebeg Yaaqawiyyu bukan sekadar ritual, melainkan penggerak ekonomi lokal. Ebta mengungkapkan bahwa selama satu pekan rangkaian acara, pelaku UMKM, pedagang oleh-oleh, hingga penyedia jasa parkir di Jatinom mengalami lonjakan pendapatan nan signifikan.

Antusiasme penduduk juga terlihat dari kontribusi pembuatan apem. Pada tahun lalu, jumlah apem nan dibagikan mencapai 55 ribu butir alias setara dengan 5 ton. Pasokan apem ini tidak hanya datang dari penduduk Jatinom, tetapi juga dari wilayah tetangga seperti Kabupaten Boyolali.

Sekilas Tradisi Yaaqawiyyu:
Tradisi ini berakar dari dakwah Ki Ageng Gribig nan menggunakan kue apem sebagai simbol infak dan syiar Islam. Nama "Yaaqawiyyu" diambil dari penggalan angan "Ya Qawiyyu Ya Aziz Qawwina wal Muslimin, Ya Qawiyyu Warzuqna wal Muslimin" nan dipanjatkan untuk memohon kekuatan dan rezeki bagi umat.

Ebta menutup dengan pesan bahwa nilai-nilai nan diwariskan Eyang Kiai Ageng Gribig, seperti gotong royong, menghargai keberagaman, dan bersedekah, kudu menjadi prinsip dalam kehidupan sehari-hari.

"Itu semua adalah aliran nan kita teladani untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa," pungkasnya. (Z-1)

Selengkapnya