loading...
Mahfud MD dan Busyro Muqoddas. Foto: Dok SindoNews
JAKARTA - Kiai Kampung HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy mengusulkan Mahfud MD dan Busyro Muqoddas masuk kabinet Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pria nan berkawan disapa Gus Lilur ini menyoroti krisis kepercayaan publik terhadap penegak hukum.
“Saya tertawa membaca sebuah meme nan sedang ramai berseliweran di media sosial. Bunyinya: "Prabowo bersama: Jaksa + TNI. Jokowi bersama: Polri + KPK. Rakyat bersama: Damkar. Hidup Damkar!!" Saya tertawa—lalu tawa itu perlahan berubah getir. Sebab meme nan paling kocak selalu meme nan paling jujur,” ujar Gus Lilur dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/7/2026).
Di kembali kelakarnya, Gus Lilur menilai meme itu adalah potret aktual tentang gimana rakyat membaca peta kekuasaan hari ini: institusi-institusi penegak norma dipersepsikan telah terbelah menjadi faksi-faksi, berbanjar di belakang dua kutub kekuasaan, sementara rakyat—yang tidak kebagian tempat di barisan mana pun—hanya bisa berpelukan dengan pemadam kebakaran, satu-satunya abdi negara berseragam nan dianggap tetap tulus menolong tanpa bertanya kau berdiri di kubu mana.

HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy
Baca juga: Karier Febrie Tamat, Gus Lilur: Kejaksaan dan Kepolisian Kian Erat
“Meme ini kudu dibaca sebagai alarm, bukan hiburan. Ia menggambarkan potensi bentrok masa depan politik Indonesia nan mengerikan. Jika betul polarisasi itu mengeras—KPK dan Polri dipersepsikan condong ke Solo, TNI dan kejaksaan condong ke Kertanegara—maka nan sedang disemai hari ini adalah bibit pembelahan cebong-kampret jilid ketiga, nan bakal panen raya pada kontestasi 2029 dan membakar periode 2029-2034,” ujar penulis Buku Prabowo untuk Indonesia Raya itu.
Dia menambahkan, dua jilid sebelumnya sudah cukup menyakitkan: family pecah di grup WhatsApp, tetangga saling buang muka, ustadz dipecah-belah. Dia berpendapat, jilid ketiga bakal jauh lebih berbahaya, lantaran kali ini nan terbelah bukan hanya pendukung—melainkan dipersepsikan abdi negara bersenjata dan penegak hukumnya sekalian.
“Jalan paling realistis untuk menutup rapat pintu jilid ketiga itu adalah keberlanjutan: Prabowo-Gibran dua periode. Sebab hanya pemerintahan nan kokoh dan tidak tersandera hitung-hitungan 2029 nan punya keleluasaan membereskan akar persoalannya. Tetapi keberlanjutan elektoral saja tidak cukup. Akar persoalannya kudu dicabut sekarang,” imbuhnya.
Gus Lilur mengungkapkan bahwa sejak beberapa hari terakhir, berkembang asumsi-asumsi liar—pembusukan wacana nan meracuni kognisi rakyat Indonesia. Dia pun membujuk untuk memperhatikan polanya di linimasa: orang nan tidak suka kejaksaan menghantam kejaksaan luar biasa kerasnya; nan tidak suka Polri menghantam polisi habis-habisan; nan antitentara menghantam TNI tanpa ampun.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·