Aktivitas bongkar muat beras di salah satu pasar tradisional di Medan.(MI/Yoseph Pencawan)
SUMATRA Utara diperkirakan kembali mencatatkan inflasi pada Juli 2026 akibat lonjakan nilai sejumlah komoditas pangan utama, khususnya beras. Beras menjadi pendorong utama tekanan inflasi pada bulan ini meski beberapa komoditas hortikultura lain juga mengalami koreksi harga.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai lonjakan, harga beras nan berkisar 1,5% hingga 5% di pasaran menjadi motor penggerak utama inflasi Sumut di Juli 2026. Selain beras, sejumlah komoditas pangan lain turut mencatatkan kenaikan.
Di antaranya bawang putih naik sekitar 2,1%, susu serbuk hingga 7%, tomat 10%, wortel 14% serta cabe rawit hijau nan melonjak hingga mencapai 54%.
Komoditas penunjang dapur lain seperti bayam, sawi hijau dan kentang juga terpantau mengalami tren kenaikan harga.
"Sumut berkesempatan mencetak inflasi di atas 0,17% pada Juli ini," ungkap Gunawan, Kamis (30/7).
Gunawan memandang tekanan inflasi pada Juli ini juga merembet ke sektor non-pangan. Sejumlah kebutuhan rumah tangga seperti sampo, pembalut, popok bayi, hingga kebutuhan bahan gedung seperti besi, semen dan cat tembok turut mengalami kenaikan.
Kendati demikian, nilai batu bata terpantau sempat mengalami penurunan dan condong lebih murah dibandingkan periode lonjakan serentak sebelumnya. Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami penurunan nilai sepanjang Juli 2026.
Bawang merah turun sekitar 16% dan cabe merah turun sekitar 19%. Khusus untuk cabe merah di pasar modern, harganya terpantau tetap mengalami kenaikan akibat aspek manajemen pasokan alias stok nan dikelola oleh pihak ritel modern itu sendiri.
Penurunan nilai juga terjadi pada sabun deterjen dan tiket pesawat kelas premium. Sementara tiket pesawat kelas ekonomi justru mencatatkan kenaikan.
Adapun komoditas emas di lapangan terpantau mengalami kenaikan nilai sekitar 10%. Sementara itu, komoditas daging dan telur ayam nan sempat dikhawatirkan melonjak akibat musim libur sekolah nan usai dan kembali disalurkannya program Makan Bergizi Gratis (MBG), diproyeksikan belum bakal memicu inflasi besar pada Juli ini.
Kenaikan rata-rata nilai daging ayam terpelihara di kisaran 1% sehingga dampaknya dinilai sangat mini terhadap inflasi bulanan. Keduanya diprediksi baru bakal menyumbang inflasi nan signifikan pada Agustus mendatang.
Dengan dinamika tersebut Gunawan mengingatkan pemerintah agar mewaspadai tren inflasi hingga penutupan akhir 2026. Proyeksi inflasi ke depan dinilainya bakal lebih banyak dipengaruhi oleh aspek cuaca serta akibat pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.
Adapun komoditas pangan diproyeksikannya tetap bakal memberi kontribusi dominan terhadap laju inflasi. Dia menambahkan, kenaikan nilai pokok produksi (HPP) di tingkat petani saat ini memberi ruang bagi kenaikan nilai produk pertanian.
Komponen pembentukan HPP itu telah terkerek naik seiring imbas pelemahan rupiah pasca memanasnya situasi geopolitik global. Kendati demikian, Gunawan mengingatkan adanya ancaman serius jika realisasi nilai pangan di tingkat petani ke depan justru berada di bawah nilai keekonomian produksi.
Jika perihal itu terjadi, dampaknya bakal sangat menakut-nakuti pengendalian inflasi jangka panjang. Petani terancam kandas modal sehingga kesulitan bercocok tanam kembali, penumpukan utang petani, hingga terjadinya alih kegunaan lahan.
"Maka inflasi ke depan bakal semakin susah dikendalikan," pungkasnya. (H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·