Petani mengangkut hasil perkebunan sawit.(MI/Rudi Kurniawansyah)
BALAI Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menerima info mengenai dugaan kejadian hubungan negatif antara Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) dengan seorang penduduk di Desa Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau, nan terjadi pada Selasa (14/7).
Menindaklanjuti info tersebut Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, menugaskan tim untuk melakukan pemantauan lapangan serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak mengenai guna memperoleh info nan jeli mengenai kejadian tersebut.
Berdasarkan hasil pengumpulan info di lapangan, pekerja kebun milik Ahmad Rokani ialah Agus, saat itu sedang mengangkut hasil panen kelapa sawit menggunakan sepeda motor pada tanggal 14 Juli 2026 sekitar pukul 10.00 WIB, secara tiba-tiba seekor Harimau Sumatra muncul dari arah belakang dan melompat ke arah kendaraan korban hingga mencakar keranjang nan dibawa.
“Korban kemudian segera memacu kendaraannya untuk menyelamatkan diri sehingga sukses menghindari serangan lebih lanjut,” ujarnya, Selasa (21/7).
Selanjutnya, kata Supartono, berasas keterangan Amir dan Dodi, pada tanggal 18 Juli 2026 sekitar pukul 12.00 WIB, keduanya memandang seekor Harimau Sumatra di sekitar Kilometer 4 Desa Mengkapan.
"Satwa tersebut terlihat melompat dari parit di seberang jalur pipa menuju badan jalan. Namun, saat berhadapan dengan kendaraan nan dikendarai Bapak Amir, harimau tersebut kembali ke arah parit dan tidak melanjutkan penyeberangan,” jelasnya.
Dalam kejadian tersebut, lanjutnya, satwa tidak menunjukkan perilaku garang terhadap kendaraan maupun pengemudi. Menindaklanjuti info tersebut, Tim BBKSDA Riau melakukan pengecekan di lokasi, namun tidak menemukan jejak maupun tanda-tanda keberadaan Harimau Sumatra.
“Berdasarkan keterangan penduduk setempat, Bapak Gianto, kemunculan Harimau Sumatra di sekitar letak tersebut bukan merupakan kejadian baru. Satwa tersebut diketahui beberapa kali melintas di area tersebut, namun selama ini tidak pernah menunjukkan perilaku menyerang masyarakat,” jelasnya.
BBKSDA Riau bakal terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, serta para pihak mengenai untuk melakukan pemantauan secara intensif di letak kejadian. Selain itu, langkah-langkah mitigasi bentrok satwa liar juga bakal terus dilakukan sebagai upaya mencegah terjadinya kejadian serupa sekaligus memastikan keselamatan masyarakat nan beraktivitas di sekitar area tersebut.
“BBKSDA Riau mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan, menghindari aktivitas seorang diri di area nan berpotensi menjadi lintasan satwa liar, terutama pada sore hingga malam hari, melakukan patroli siskamling dimalam hari serta segera melaporkan kepada petugas BBKSDA Riau alias abdi negara setempat andaikan mengetahui keberadaan Harimau Sumatra maupun satwa liar lainnya di sekitar permukiman alias area aktivitas masyarakat,” pungkasnya.(RK/E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·