Ilustrasi(AFP)
HUJAN meteor Perseid secara konsisten menjadi salah satu pagelaran langit malam nan paling ditunggu setiap tahunnya. Namun, para astronom memprediksi puncak kejadian ini pada Agustus 2028 mendatang berpotensi menjadi salah satu pagelaran nan paling spektakuler dalam beberapa dasawarsa terakhir. Peningkatan aktivitas ini dipicu dorongan gravitasi planet terbesar di Tata Surya, Jupiter.
Hujan meteor Perseid terjadi ketika Bumi melintasi puing-puing es dan debu nan ditinggalkan Komet 109P/Swift-Tuttle. Saat material komet nan berukuran banget mini ini memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, gesekan dengan udara membuatnya terbakar dan menghasilkan kilatan sinar terang nan sering disebut sebagai "bintang jatuh".
Setiap kali Komet Swift-Tuttle mendekati Matahari dalam orbit 133 tahunnya, komet tersebut meninggalkan lautan debu dan material baru di sepanjang jalurnya. Kerapatan material inilah nan menentukan seberapa intens hujan meteor nan disaksikan dari Bumi.
Pada 2028, kalkulasi orbit menunjukkan planet Jupiter bakal melintas cukup dekat dengan jejak aliran debu utama nan ditinggalkan Komet Swift-Tuttle. Gravitasi Jupiter nan sangat kuat bertindak sebagai "penggembala" kosmik, menggeser dan memfokuskan konsentrasi partikel debu tersebut sehingga jalurnya menjadi lebih erat dan mengarah langsung ke lintasan orbit Bumi.
Interaksi gravitasi dengan Jupiter ini diproyeksikan bakal menghasilkan lonjakan tajam pada jumlah meteor nan melintas per jamnya, alias nan dikenal dengan istilah Zahr-rate (Zenthial Hourly Rate alias ZHR). Jika pada tahun-tahun biasa pengamat di letak nan gelap dapat memandang sekitar 60 hingga 100 meteor per jam, lonjakan pada 2028 diperkirakan dapat melipatgandakan jumlah tersebut.
Selain pengaruh gravitasi Jupiter, kondisi pengamatan pada pertengahan Agustus 2028 diprediksi sangat menguntungkan. Fase Bulan pada periode tersebut diperkirakan berada dalam kondisi minim cahaya, sehingga langit malam bakal menjadi jauh lebih gelap dan memudahkan pengamat untuk memandang meteor-meteor nan lebih redup sekalipun.
Meski begitu, para astronom mengingatkan kerapatan pasti dari alur debu komet selalu mempunyai tingkat ketidakpastian. Pergeseran mini dalam hubungan gravitasi dapat memengaruhi apakah Bumi bakal menembus bagian terpadat dari aliran debu tersebut alias hanya melintas di pinggirannya.
Fenomena hujan meteor Perseid dapat disaksikan dari sebagian besar bagian Bumi utara dan wilayah selatan garis khatulistiwa. Keberadaan gravitasi Jupiter nan mendorong material komet ini memberi agunan bahwa pengamatan langit pada 2028 bakal menjadi momen berhistoris bagi para pecinta astronomi dan pengamat bintang di seluruh dunia. (Space/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·