Ilmuwan Kembangkan Teknologi Menumbuhkan Kembali Gigi Asli

21 jam yang lalu 3
Ilmuwan Kembangkan Teknologi Menumbuhkan Kembali Gigi Asli Ilustrasi(Magnific)

KUNJUNGAN ke master gigi kerap menjadi momen nan dihindari banyak orang. Prosedur konvensional seperti penambalan alias pencabutan gigi sering kali memicu rasa cemas. Namun, pendekatan medis masa depan berpotensi mengubah pengalaman tersebut secara esensial melalui kedokteran regeneratif.

Para intelektual dunia sekarang tengah merintis metode untuk menumbuhkan kembali jaringan gigi nan rusak, apalagi menumbuhkan organ gigi baru secara utuh, sebagai pengganti atas bahan sintetis maupun implan.

Inovasi ini dinilai sangat krusial mengingat kesehatan mulut berakibat besar pada kesehatan tubuh secara menyeluruh. Bakteri akibat penyakit gusi, misalnya, dapat meningkatkan akibat penyakit jantung dan jangkitan saluran pernapasan. Sementara itu, kehilangan gigi berpotensi menurunkan kualitas hidup dan kesejahteraan emosional.

"Saat kami pertama kali memulai, satu perihal menjadi sangat jelas bagi saya," ujar Hannele Ruohola-Baker, Associate Director di University of Washington Institute for Stem Cell and Regenerative Medicine. "Masyarakat sudah siap untuk sesuatu nan baru dalam kedokteran gigi."

Mengatasi Kerusakan Gigi Tanpa Tambalan Sintetis

Saat ini, kerusakan gigi akibat karies umumnya ditangani dengan membuang bagian nan membusuk lampau menambalnya menggunakan bahan buatan. Namun, solusi ini berisiko memerlukan penanganan berulang lantaran daya tahan bahan tambal nan terbatas.

Professor Biologi Oral di University of Illinois Chicago, Anne George, menjelaskan bahwa prosedur tradisional hanya berfokus pada perbaikan kerusakan, bukan memulihkan kegunaan biologis. Menurutnya, kedokteran gigi regeneratif menawarkan pergeseran paradigma nan berfokus pada penyembuhan. Research nan dilakukannya menunjukkan bahwa pemahaman atas gen pembentuk dentin (lapisan di bawah email gigi) dapat merangsang gigi untuk memperbaiki dirinya sendiri secara alami.

Di sisi lain, tim Ruohola-Baker berfokus pada pembuatan "tambalan hidup" berbasis email. Melalui pemanfaatan sel punca, mereka sukses menciptakan organoid gigi nan bisa mengintegrasikan protein email dan dentin. Teknologi ini diharapkan dapat melahirkan metode penambalan alami hingga penumbuhan gigi utuh di masa depan.

Mengembangkan Gigi di Laboratorium

Untuk kasus kerusakan parah, pencabutan dan pemasangan implan kerap menjadi pilihan utama. Kendati demikian, implan tidak mempunyai saraf alami, berisiko memicu penumpukan bakteri, serta memerlukan penggantian berkala.

Dr. Ana Angelova Volponi, Director of Regenerative Dentistry di King's College London, menekankan pentingnya pengganti biologis nan lebih tahan lama.

"Daripada hanya mencoba menambal apa nan telah rusak, kita bisa menggunakan pengganti biologis," kata Volponi.

Tim peneliti lain, seperti Pamela Yelick dari Tufts School of Dental Medicine, juga sukses menumbuhkan struktur menyerupai gigi menggunakan kombinasi sel pembentuk dentin dan email pada media penyangga biologis (bioengineered scaffold).

"Bahkan jika seekor babi dipotong untuk diambil dagingnya, ada tunas gigi di rahangnya nan siap membentuk gigi lain," kata Yelick mengenai pemanfaatan sel untuk membuktikan konsep penumbuhan gigi tersebut.

Tantangan dan Prospek Masa Depan

Meskipun potensi penumbuhan kembali gigi menjanjikan, penerapannya pada manusia tetap memerlukan waktu nan panjang. Para peneliti kudu melalui tahap uji coba pada primata nonmanusia, pengetesan klinis, serta pemenuhan izin keamanan nan ketat.

Kendati demikian, riset kedokteran gigi regeneratif ini juga memberikan kontribusi krusial bagi pengembangan organ dan jaringan tubuh lainnya di bagian medis secara luas. (BBC/Z-2)

Selengkapnya