Ilmuwan Peringatkan Bumi Dekati Titik Kritis Ancam Eksistensi Manusia

1 jam yang lalu 2
Ilmuwan Peringatkan Bumi Dekati Titik Kritis Ancam Eksistensi Manusia Ilustrasi.(Magnific)

PARA ilmuwan mengeluarkan peringatan keras bahwa perubahan iklim sekarang menjadi ancaman eksistensial bagi umat manusia. Masyarakat bumi saat ini tengah berjuang menghadapi tekanan nan kian intens dari lingkungan planet nan terus berubah secara drastis.

Bumi dilaporkan sedang meluncur menuju beberapa titik kritis global (global tipping points) nan berisiko memicu akibat musibah bagi kelangsungan hidup manusia. Beberapa tonggak paling mengkhawatirkan di depan mata meliputi keruntuhan rimba hujan Amazon, pencairan total lapisan es di kutub, dan lonjakan suhu dunia nan tidak terkendali.

Kondisi ini diperburuk dengan ledakan populasi manusia, nan jika digabungkan dengan elemen-elemen suasana tersebut, dapat melepaskan katastrofe nan meluas. Peringatan ini muncul saat beberapa wilayah di Eropa baru saja mengalami musim panas terpanas sepanjang sejarah.

Ancaman Kenaikan Permukaan Laut dan Migrasi Iklim

Laporan dari Daily Star menyebut bahwa seiring mencairnya lapisan es, permukaan air laut bakal naik secara dramatis. Hal ini bakal menyusutkan ruang hidup nan tersedia bagi manusia di saat populasi terus meledak, sehingga memaksa organisasi nan kehilangan tempat tinggal untuk pindah jauh ke wilayah pedalaman.

Suhu nan terus merangkak naik diprediksi bakal membikin sebagian besar wilayah Bumi tidak lagi layak huni. Fenomena ini bakal menciptakan gelombang migran suasana dalam skala besar. Di sisi lain, kehancuran Amazon dan hilangnya rimba tropis lain akan mempercepat lintasan pemanasan planet secara keseluruhan.

Analogi Titanic: Waktu Intervensi nan Kian Sempit

Will Steffen, Profesor Emeritus di Australian National University, memperingatkan bahwa kemanusiaan memerlukan setidaknya 30 tahun untuk mengubah arah. Namun, dia cemas pada titik tersebut, kerusakan nan terjadi mungkin sudah tidak dapat diperbaiki lagi.

Dalam wawancaranya dengan Voice of Action, Prof. Steffen memberikan gambaran nan mengerikan mengenai posisi manusia saat ini. "Mengingat momentum baik dalam sistem Bumi maupun sistem manusia, jarak antara 'waktu reaksi' nan dibutuhkan untuk mengarahkan kemanusiaan menuju masa depan berkepanjangan dan 'waktu intervensi' nan tersisa untuk mencegah musibah kian melebar," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dalam banyak kasus, waktu intervensi nan tersisa telah menyusut hingga lebih pendek daripada waktu nan dibutuhkan untuk bertransisi ke sistem nan lebih berkelanjutan. Prof. Steffen menggunakan afinitas kapal Titanic untuk menjelaskan krisis ini.

Analogi Krisis: "Jika Titanic menyadari bahwa dia dalam masalah dan memerlukan jarak sekitar 5 km untuk melambat dan membelokkan kapal, tetapi jaraknya hanya tinggal 3 km dari gunung es, kapal itu sudah ditakdirkan untuk hancur," jelas Prof. Steffen.

Bom Waktu Permafrost

Suhu dunia terus meningkat tanpa henti, dengan konfirmasi dari para intelektual bahwa merkuri meningkat sekitar 0,15 hingga 0,20 derajat celsius setiap sepuluh tahun. Selain hilangnya es di kutub, peneliti juga sangat mengkhawatirkan mencairnya tanah kaku alias permafrost.

Permafrost adalah lapisan tanah nan membeku secara permanen di bawah permukaan, mencakup area seluas 18 juta kilometer persegi di bagian bumi utara. Zona kaku ini menyimpan sisa-sisa kehidupan tumbuhan dan mikroorganisme nan telah terkubur selama ribuan tahun.

Masalah utamanya adalah karbon dioksida (CO2) dari vegetasi meninggal dan mikroorganisme tersebut tersimpan dalam lemari es raksasa alami Bumi. Saat permafrost mencair pada tingkat nan mengkhawatirkan, CO2 ini bakal terlepas ke atmosfer. Perkiraan saat ini menunjukkan terdapat hingga 1,5 triliun metrik ton karbon nan tersimpan di dalam permafrost, nan siap memperparah pengaruh rumah kaca jika terlepas sepenuhnya. (The Mirror US/I-2)

Selengkapnya