IMF Bilang AI Jadi Penyelamat Sistem Keuangan Global dari Efek Perang

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Kecerdasan buatan (AI) dan pendapatan perusahaan nan kuat telah melindungi sistem finansial dunia dari akibat terburuk perang Iran. Hal ini dikemukakan International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook (WEO) jenis Juli 2026.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia bakal tumbuh sebesar 3% tahun ini turun dibandingkan realisasi 2025 sebesar 3,5%. Adapun, ekonomi dunia diramal bakal kembali meningkat menjadi 3,4% pada tahun 2027.Proyeksi IMF ini sebagian besar tidak berubah dari perkiraan sebelumnya nan dirilis pada bulan April.

"Perlambatan moderat ini mencerminkan akibat perang di Timur Tengah nan sebagian diimbangi oleh momentum percepatan nan didorong oleh permintaan dalam siklus teknologi dunia berkah kemajuan dalam kepintaran buatan (AI) dan adopsinya," kata IMF, dikutip Kamis (9/12/2026).

"Dampaknya sangat bervariasi berasas paparan negara terhadap perang dan posisi dalam rantai nilai teknologi," lanjut IMF.

Dari catatan IMF, lebih dari 80% perusahaan S&P 500 melampaui perkiraan pendapatan mereka pada kuartal pertama tahun ini.

Menurut IMF, konsentrasi pasar ekuitas pada saham-saham kepintaran buatan (AI), nan telah dibahas dalam laporan stabilitas finansial dunia lembaga ini sebelumnya, terus meningkat.

IMF memandang pasar saham dengan eksposur AI nan besar-Jepang, Korea, Provinsi Taiwan, Tiongkok, dan Amerika Serikat-mengungguli pasar saham lainnya sejauh ini pada kuartal kedua tahun 2026.

Meskipun AI membantu melindungi finansial global, menariknya IMF pernah mengungkapkan akibat dari teknologi ini. Pierre-Olivier Gourinchas, Kepala Ekonom IMF, menuturkan AI dapat memicu inflasi bukan hanya dengan meningkatkan biaya chip, tetapi juga dengan membikin konsumen lebih kaya dan lebih bersedia untuk berbelanja.

"Ledakan (booming) investasi AI menghasilkan valuasi nan luar biasa bagi perusahaan-perusahaan di pasar saham AS dan di negara-negara seperti Korea Selatan, menciptakan pengaruh kekayaan nan dapat menambah tekanan harga," kata Gourinchas dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg akhir Juni lalu.

Saham teknologi nan sedang booming meningkatkan rekening pensiun dan portofolio investasi, membikin konsumen merasa lebih kaya dan lebih bersedia untuk berbelanja liburan, rumah, dan pembelian barang-barang mahal lainnya.

"Tekanan permintaan ini, mereka menghasilkan inflasi," kata Gourinchas.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya