Jakarta, CNBC Indonesia - Pergantian perdana menteri (PM) bakal kembali terjadi di Inggris. Sejumlah laman menulis gimana Andy Burnham bakal menjadi PM Inggris menggantikan Keir Starmer nan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh, Senin (20/7/2026).
Burnham, 56 tahun, sebelumnya terpilih sebagai pemimpin Partai Buruh tanpa musuh setelah Starmer mengumumkan pengunduran dirinya. Hal ini otomatis akan menjadikan dirinya PM ke-59 Inggris, sekaligus orang ketujuh nan menghuni 10 Downing Street dalam satu dasawarsa terakhir.
Sebelum kembali ke Westminster, Burnham menghabiskan nyaris satu dasawarsa sebagai Wali Kota Greater Manchester. Di sana, dia mendapat julukan "King of the North" alias "Raja Utara", berkah sikap vokalnya memihak wilayah utara Inggris, terutama saat pandemi Covid-19, serta dorongannya untuk meningkatkan investasi di luar London.
PM Inggris, Andy Burnham. (REUTERS) Foto: PM Inggris, Andy Burnham. (REUTERS)
Pada Senin ini, Burnham dijadwalkan berjumpa Raja Charles III di Istana Buckingham. Setelah Raja menerima pengunduran diri Starmer, Burnham bakal diminta membentuk pemerintahan baru.
Dalam sistem parlementer Inggris, seseorang resmi menjadi perdana menteri begitu menerima mandat tersebut dari raja. Setelah itu, Burnham bakal menuju kediaman resmi perdana menteri di 10 Downing Street untuk menyampaikan pidato pertamanya sebagai kepala pemerintahan dan langsung mengumumkan susunan kabinet.
Berbeda dengan Amerika Serikat (AS) nan mempunyai masa transisi pemerintahan selama berbulan-bulan, pergantian PM di Inggris berjalan sangat cepat. Seluruh proses pergantian kekuasaan biasanya selesai hanya dalam hitungan jam.
Dalam pidato pertamanya sebagai pemimpin Partai Buruh, Burnham berjanji membawa "jalan baru" bagi Inggris. Ia bakal konsentrasi pada penurunan biaya hidup, pemerataan pembangunan antarwilayah, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Perubahan hari ini merupakan momen politik paling krusial dalam 40 tahun terakhir. Kami bakal membangun negara di mana biaya hidup lebih terjangkau dan seluruh wilayah dapat berkembang bersama," ujarnya.
Ia juga berjanji bakal menjadi pemimpin bagi seluruh wilayah Inggris, termasuk Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara. Salah satu kebijakan pertama nan diperkirakan bakal diambil Burnham adalah menempatkan perusahaan air, Thames Water, di bawah pengawasan unik pemerintah guna mempercepat restrukturisasi perusahaan nan selama ini menuai banyak kritik.
Sementara itu, Burnham mewarisi sejumlah tantangan besar. Mulai dari pertumbuhan ekonomi nan melambat, tingginya biaya hidup, hingga tuntutan pemerataan pembangunan antarwilayah.
Sebelumnya, pengunduran diri Starmer terjadi setelah pemerintahannya menghadapi tekanan politik dalam beberapa bulan terakhir, termasuk kontroversi pengangkatan Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk AS serta kekalahan besar Partai Buruh dalam pemilihan lokal. Meski demikian, pergantian pemimpin tidak memerlukan pemilu baru lantaran Partai Buruh tetap menguasai kebanyakan bangku di House of Commons.
Sesuai sistem parlementer Inggris, pemimpin baru partai kebanyakan otomatis menjadi PM. Sementara pemilu berikutnya dijadwalkan paling lambat pada 2029.
(sef/sef)
Addsource on Google

1 hari yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·