Investigasi Serangan AS ke Sekolah Iran Mogok, Pentagon "Masuk Angin"?

4 hari yang lalu 11

Jakarta, CNBC Indonesia - Investigasi internal militer Amerika Serikat (AS) mengenai serangan nan menghantam Sekolah Shajareh Tayyiba di Minab, Iran, dilaporkan mengalami penundaan selama berbulan-bulan. Tiga sumber nan mengetahui proses tersebut mengatakan Pentagon belum memerintahkan tahap ketiga peninjauan intelijen nan lazim dilakukan setelah operasi militer besar, sehingga pertimbangan menyeluruh atas kejadian itu belum berjalan.

"Tidak ada kajian terperinci nan dilakukan dan CENTCOM mengunci investigasi serta memblokir siapa pun untuk menyelidikinya," kata salah satu sumber, seperti dikutip CNN International, Jumat (17/7/2026).

Sementara itu, pejabat Departemen Pertahanan AS hanya menyatakan bahwa "investigasi sedang berlangsung" dan belum ada pengumuman lebih lanjut mengenai perkembangan kasus tersebut.

Menurut sumber-sumber itu, dua tahap awal battle damage assessment (BDA) telah rampung dalam sepekan setelah serangan dan menunjukkan bahwa militer AS memang bertanggung jawab atas serangan nan mengenai sekolah tersebut.

Namun, fase ketiga nan biasanya dilakukan oleh Badan Intelijen Pertahanan (DIA) untuk menganalisis gambaran satelit dan beragam info intelijen secara menyeluruh hingga awal Juli belum juga diperintahkan.

Sumber tersebut menilai investigasi independen nan diluncurkan pada Maret semestinya tidak menghalang peninjauan intelijen oleh DIA.

"Keduanya dapat melangkah berbarengan jika mereka memilihnya," ujar salah satu sumber. Ia menambahkan, hasil kajian DIA memang tidak menentukan pihak nan bersalah, tetapi dapat menjadi bukti krusial dalam proses investigasi.

Seorang pejabat AS memihak langkah Pentagon dengan menyebut investigasi internal dirancang untuk menggantikan penilaian fase ketiga BDA. Menurutnya, setelah laporan awal diserahkan kepada Komando Pusat AS (CENTCOM) pada April, penyelidikan memerlukan waktu lebih lama lantaran dugaan penyebab kesalahan telah berjalan selama bertahun-tahun dan melibatkan beragam lapisan kegagalan.

Berdasarkan temuan awal, militer AS diduga keliru menggunakan intelijen nan sudah usang mengenai letak sasaran nan diyakini sebagai pangkalan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran. Akibatnya, serangan justru menghantam sekolah dasar tersebut. Media pemerintah Iran menyatakan kejadian itu menewaskan 168 anak dan 14 orang dewasa.

Media sebelumnya melaporkan bahwa sejumlah komandan senior AS mengabaikan peringatan dalam pedoman info intelijen nan menyebut info mengenai sasaran sudah kedaluwarsa. Dua sumber mengatakan keputusan itu diambil demi argumen "kepraktisan" agar sasaran dapat segera disiapkan pada awal konflik, namun justru berkontribusi pada salah sasaran.

"Pentagon sedang melakukan pengendalian kerusakan," kata salah satu sumber. Ia menilai ketua Pentagon dan CENTCOM berupaya menghindari terulangnya situasi ketika kajian DIA terhadap serangan AS ke akomodasi nuklir Iran sebelumnya bertentangan dengan klaim Presiden Donald Trump mengenai keberhasilan operasi tersebut.

Laporan itu disebut memicu kemarahan Gedung Putih dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta berujung pada pencopotan Direktur DIA saat itu, Jenderal Jeffrey Kruse.

Penundaan penyelesaian investigasi memicu protes personil Kongres AS. Sekitar dua lusin senator Demokrat dalam surat kepada Hegseth dan Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyatakan, "Lebih dari empat bulan setelah serangan itu, Kongres dan rakyat Amerika tetap belum menerima hasil investigasi Departemen. Tidak ada argumen untuk menahan laporan nan tidak diklasifikasikan mengenai apa nan terjadi, apa nan salah, dan langkah pencegahannya di masa depan."

Dalam wawancara terbaru dengan Fox News, Trump menolak berkomitmen untuk mempublikasikan hasil investigasi.

"Saya kudu berbincang dengan para jenderal. Saya rasa tidak bakal pernah ada laporan nan betul-betul konklusif," ujarnya.

Trump juga mengakui ada kemungkinan penggunaan intelijen lama berkontribusi terhadap kejadian tersebut, tetapi meragukan bukti nan beredar di publik, termasuk gambaran satelit nan menunjukkan pecahan rudal AS di letak serangan, dengan menyebut gambar tersebut bisa saja dihasilkan oleh kepintaran buatan (AI) tanpa menyertakan bukti pendukung.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya