Investigasi Sky News: Kegagalan Intelijen AS di Balik Pengeboman Sekolah Iran

3 hari yang lalu 8
 Kegagalan Intelijen AS di Balik Pengeboman Sekolah Iran Korban pengeboman sekolah Minab, Iran.(Dok Sky News)

INVESTIGASI mendalam nan dilakukan oleh Sky News mengungkap skala kegagalan intelijen nan mengerikan di kembali serangan mematikan terhadap suatu sekolah dasar di Iran. Serangan nan terjadi pada 28 Februari di sekolah Shajareh Tayyebeh, Minab, tersebut menewaskan 156 orang, termasuk 120 siswa dan seorang bayi nan tetap dalam kandungan.

Tujuh mahir independen menyatakan bahwa seluruh bukti nan ada mengarah pada tanggung jawab Amerika Serikat (AS). Temuan ini merupakan bagian dari pengarsipan Sky News berjudul Iran School Bombing: The Search for Truth.

Kronologi Tragedi di Ruang Kelas

Peristiwa bermulai sekitar pukul 10.15 pagi waktu setempat. Wajiheh Zakari, seorang pembimbing kelas 6, mengenang saat dia memandang buletin di ponselnya bahwa Teheran telah diserang. "Kami pikir perang ada di Teheran, tidak bakal terjadi apa-apa di sini," ujarnya. Namun, situasi berubah cepat. Pukul 11.00, kepala sekolah Pouran Gholipour memanggil pertemuan darurat untuk memulangkan siswa.

Di tengah kepanikan, Zohreh Shahriyari, seorang pembimbing nan sedang mengandung enam bulan, terduduk lemas lantaran kecemasan. Sementara itu, di lantai atas, siswa wanita berjulukan Parastesh, 11, mencoba mencari adik laki-lakinya, Ali Asghar, untuk pulang bersama.

Pukul 11.22, rudal pertama menghantam gedung di sebelah sekolah. Sepuluh detik kemudian, rudal kedua menghantam langsung gedung sekolah. Parastesh mengenang momen mengerikan tersebut. "Saya terlempar ke bawah reruntuhan. Semua terbakar dan saya merasa tubuh saya tercabik-cabik."

Dalam waktu hanya 85 detik, setidaknya sembilan peledak jatuh di area tersebut. Rekaman nan diverifikasi menunjukkan potongan tubuh korban berceceran hingga radius 45 meter dari letak kejadian. Upaya pengamanan sempat tertunda ketika tiga rudal tambahan kembali menghantam area sekitar pada pukul 14.30.

Bukti Penggunaan Rudal Tomahawk

Para mahir munisi, termasuk Trevor Ball dari Bellingcat dan Umair Yunus dari Janes, mengonfirmasi bahwa bagian sirip nan terlihat dalam rekaman identik dengan rudal Tomahawk. "AS adalah satu-satunya pihak dalam perang ini nan mengoperasikan Tomahawk--bukan Iran, bukan pula Israel," tegas Yunus.

Data satelit menempatkan gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln, termasuk kapal perusak USS Spruance, berada di Laut Arab pada hari serangan. Posisi mereka hanya berjarak 716 km dari Minab, sangat masuk dalam jangkauan operasional Tomahawk nan mencapai 1.850 km.

Data Korban:

  • Total Tewas: 156 orang.
  • Siswa: 120 anak.
  • Lainnya: Guru, staf, dan penduduk sipil di akomodasi medis terdekat.

Kegagalan Sistemik dan Data Usang

Investigasi berbareng Forensic Architecture mengungkap bahwa gedung tersebut memang jejak kompleks militer Brigade Asef hingga tahun 2015. Namun, sejak Oktober 2015, gedung tersebut dipisahkan secara bentuk dengan tembok baru, menara pengawas dicopot, dan diubah menjadi sekolah serta akomodasi sipil lain, termasuk klinik medis dan taman bermain.

Dua sumber internal militer AS mengungkapkan kepada Sky News bahwa Pentagon telah lama diperingatkan mengenai info sasaran nan usang di database MIDB (Modernized Integrated Database). "Kepemimpinan di DIA (Defense Intelligence Agency) menganggap semua baik-baik saja, padahal analis mengabaikan pembaruan database demi tugas lain nan dianggap lebih bergengsi," ungkap salah satu sumber anonim.

Wes Bryant, mantan ahli penargetan Angkatan Udara AS, menambahkan bahwa unit perlindungan sipil di Pentagon justru dibubarkan saat pemerintahan Donald Trump menjabat. "Kesalahan ini bukan sekadar ketidaksengajaan, melainkan pilihan tentang gimana kita memastikan sasaran adalah sesuatu nan kita pikirkan," kata Oona Hathaway, guru besar norma internasional di Universitas Yale.

Respons Pemerintah AS

Hingga saat ini, AS belum secara terbuka mengakui tanggung jawab atas serangan tersebut. Presiden Donald Trump, saat ditanya mengenai akuntabilitas administrasinya pada 24 Juni lalu, justru menyebutnya sebagai pertanyaan aneh karena menganggap peristiwa tersebut sudah lama berlalu.

Bagi family di Minab, duka tidak pernah berakhir. Ayah Parastesh menceritakan bahwa sekarang keluarganya jarang keluar rumah selain untuk mengunjungi makam Ali Asghar. "Kami hanya mau tidur, itu saja. Itulah keadaan kami sekarang," pungkasnya. (I-2)

Selengkapnya