Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kanan) di Kantor Oval, Gedung Putih, Washington DC, April 7, 2025(SAUL LOEB / AFP)
SEJUMLAH pejabat Israel dilaporkan kecewa setelah upaya besar untuk mempertahankan support masyarakat konservatif di Amerika Serikat (AS) tidak memberikan hasil nan diharapkan. Meski telah menggelontorkan biaya jutaan dolar untuk kampanye digital, tingkat support dari golongan tersebut disebut terus mengalami penurunan.
Berdasarkan investigasi nan diterbitkan TIME, Israel merekrut Brad Parscale, mantan manajer kampanye Presiden Amerika Serikat Donald Trump, melalui perusahaannya, Clock Tower X, untuk menjalankan strategi komunikasi nan menyasar pedoman pendukung konservatif, khususnya golongan Make America Great Again (MAGA).
Pada tahap awal, Israel dilaporkan mengalokasikan biaya sekitar US$1,5 juta alias setara Rp26,8 miliar guna menjalankan kampanye tersebut. Namun, meskipun beragam strategi komunikasi telah diterapkan, jajak pendapat menunjukkan bahwa pandangan penduduk konservatif AS terhadap Israel tetap mengalami penurunan.
Investigasi TIME menyebut operasi tersebut dirancang untuk mencegah generasi muda konservatif menjauh dari Israel. Secara terbuka, kampanye itu dipromosikan sebagai upaya memerangi anti-Semitisme.
Namun, tujuan strategis nan lebih luas disebut untuk mempertahankan support politik terhadap Israel di tengah meningkatnya kritik dari sebagian golongan sayap kanan Amerika terhadap kebijakan Israel dan keterlibatan Washington dalam bentrok di Timur Tengah.
Dokumen Foreign Agents Registration Act (FARA) menunjukkan bahwa pada September 2025, jaringan periklanan dunia Havas menunjuk Clock Tower X untuk menjalankan kampanye digital atas nama Israel.
Berdasarkan perjanjian tersebut, perusahaan diwajibkan memproduksi sekitar 100 konten orisinal setiap bulan. Setidaknya 80% konten ditujukan kepada Generasi Z melalui beragam platform digital seperti TikTok, Instagram, YouTube, serta podcast.
Program itu menargetkan sedikitnya 50 juta tayangan digital setiap bulan. Selain memanfaatkan media sosial, kampanye juga disebut mencakup upaya memengaruhi sistem kepintaran buatan, termasuk ChatGPT milik OpenAI, Claude dari Anthropic, dan Gemini milik Google, agar menampilkan info nan menguntungkan Israel mengenai perang nan sedang berlangsung.
Parscale juga disebut mengusulkan agar narasi kampanye diintegrasikan ke beragam aset media nan berafiliasi dengan Salem Media Network, jaringan media konservatif Kristen tempat dia menjabat sebagai kepala strategi.
Dalam perkembangan berikutnya, Israel dilaporkan meningkatkan nilai kerja sama dengan bayar sekitar US$9 juta kepada perusahaan Parscale serta memperpanjang kontraknya pada April.
Kampanye tersebut tidak hanya mengandalkan iklan digital, tetapi juga mencakup penyebaran pesan melalui jasa pesan singkat serta beragam upaya agar materi nan mendukung Israel muncul di posisi teratas dalam sumber info daring nan digunakan oleh sistem kepintaran buatan.
Tiga sumber nan mengetahui jalannya kampanye mengatakan bahwa sejumlah influencer konservatif menerima pengarahan mengenai narasi nan bakal disampaikan melalui grup percakapan tertutup.
Mereka juga memperoleh kompensasi berasas tingkat jangkauan dan keterlibatan dari setiap unggahan nan dibuat.
Clock Tower X menggambarkan pendekatan tersebut sebagai sebuah ekosistem influencer nan dirancang untuk memperkuat pesan melalui figur-figur nan terlihat independen dan dipercaya oleh audiens. Meski demikian, belum diketahui secara pasti besaran pembayaran nan diterima masing-masing pembuat konten dalam kampanye nan berangkaian dengan Israel. (Middle East Monitor/H-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·