Israel Ingin Gunakan Buaya Nil untuk Cegah Tahanan Palestina Kabur

3 hari yang lalu 8
Israel Ingin Gunakan Buaya Nil untuk Cegah Tahanan Palestina Kabur Ilustrasi.(Magnific)

PEMERINTAH Israel secara resmi mencabut status perlindungan terhadap buaya Nil. Langkah ini dilaporkan sebagai upaya memuluskan rencana pembangunan akomodasi penahanan bagi penduduk Palestina nan dikelilingi oleh reptil galak tersebut.

Menteri Lingkungan Hidup Israel, Idit Silman, menandatangani dekrit pada Rabu (15/7) nan mengklasifikasikan ulang buaya Nil sebagai hewan liar nan dikelola secara khusus. Kategori norma baru ini memungkinkan negara untuk memelihara hewan tersebut demi kepentingan keamanan.

Keputusan ini menyusul tekanan selama berbulan-bulan dari Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben Gvir. Pada Desember lalu, Ben Gvir mengusulkan pembangunan penjara nan dikelilingi buaya, terinspirasi dari pusat penahanan imigrasi kontroversial di Florida nan dijuluki Alligator Alcatraz.

Penolakan dari Pakar Hukum dan Lingkungan

Langkah Silman memicu kontroversi lantaran mengabaikan saran dari penasihat norma kementeriannya sendiri serta golongan lingkungan. Neta Drori, penasihat norma Kementerian Lingkungan Hidup, menyatakan bahwa rencana tersebut tidak mempunyai dasar norma dan ahli nan memadai.

Layanan Penjara Israel (IPS) sempat berdasar bahwa staf mereka bisa menangani buaya lantaran pengalaman bekerja dengan anjing penyerang. Namun, argumen ini ditolak mentah-mentah oleh Drori.

"IPS tampaknya tidak mempunyai skill dalam memelihara hewan liar rawan seperti buaya," tulis Drori dalam pendapat hukumnya. Ia menyimpulkan bahwa persyaratan norma untuk deklarasi tersebut belum terpenuhi.

Risiko Keamanan dan Kesejahteraan Hewan

Otoritas Alam dan Taman Israel (INPA) serta beragam organisasi lingkungan turut menyatakan keberatan keras. Mereka menilai penggunaan hewan sebagai sarana penjagaan dan pencegahan adalah tindakan nan tidak sah dan membahayakan publik maupun hewan itu sendiri.

Dalam pernyataan bersama, golongan lingkungan menekankan bahwa buaya adalah makhluk hidup dengan kebutuhan kompleks bakal ruang, air, dan suhu. Mereka juga mempertanyakan efektivitas rencana tersebut, mengingat metabolisme buaya bakal melambat dan menjadi sangat lamban selama musim dingin.

"Keamanan semestinya dicapai melalui sarana nan nyata, bukan melalui hewan," tegas pernyataan tersebut.

Provokasi Ben Gvir

Menanggapi keputusan tersebut, Itamar Ben Gvir merayakannya melalui unggahan di FB pada Kamis (16/7). Ia membagikan gambar hasil kepintaran buatan (AI) nan menampilkan dirinya sedang memegang buaya dengan tali kekang.

"Teroris sialan, berpikir untuk mencoba melarikan diri? Pikirkan lagi," tulis menteri nan dikenal dengan kebijakan garis kerasnya tersebut.

Sejak bentrok di Gaza pecah pada Oktober 2023, kondisi penduduk Palestina di penjara-penjara Israel dilaporkan memburuk secara drastis. Organisasi kewenangan asasi manusia berulang kali menuduh Israel melakukan pelecehan luas, termasuk penyiksaan dan kelaparan, di akomodasi nan mereka sebut sebagai kamp penyiksaan.

Konteks Sejarah: Buaya Nil menjadi jenis nan dilindungi di Israel sejak 2013. Sebelumnya, peternakan buaya beraksi sebagai lokasi wisata sebelum beranjak menjadi industri kulit akibat penurunan jumlah pengunjung. (Middle East Eye/I-2)

Selengkapnya