Israel Pakai Buaya Nil untuk Jaga Tahanan Palestina

1 hari yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Israel dilaporkan tengah menyiapkan langkah kontroversial untuk meningkatkan keamanan penjara tahanan Palestina. Sejumlah media memberitakan gimana Israel bakal memanfaatkan buaya Sungai Nil sebagai bagian dari sistem pengamanan.

Mengutip rangkuman RT Senin (20/7/2026), rencana tersebut mencuat setelah pemerintah Israel mengubah status norma buaya Nil dari satwa liar menjadi "tended wild animal" alias satwa liar nan dipelihara. Perubahan status ini dinilai membuka jalan bagi penggunaan reptil tersebut di akomodasi nan lebih luas, termasuk kompleks penjara.

"Gagasan penggunaan buaya pertama kali diusulkan pada akhir 2025 oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Politikus sayap kanan itu mengusulkan agar penjara dikelilingi parit berisi buaya untuk mencegah upaya pelarian narapidana," muat laman Rusia itu.

Saat itu, usulan tersebut ditolak lantaran buaya Nil tetap diklasifikasikan sebagai satwa liar nan hanya boleh dipelihara di kebun hewan alias area konservasi. Namun, menurut laporan media Israel, pekan ini Menteri Perlindungan Lingkungan Israel, Idit Silman, mengubah pengelompokkan norma buaya Nil menjadi satwa liar nan dipelihara.

"Keputusan tersebut disebut menghapus halangan norma utama bagi penerapan rencana tersebut," tambah laporan tersebut.

Meski demikian, keputusan itu menuai keberatan. Penasihat norma Kementerian Perlindungan Lingkungan dilaporkan telah memperingatkan bahwa sang menteri tidak mempunyai kewenangan untuk secara sepihak mengubah status norma buaya maupun membuka jalan bagi penggunaannya di penjara.

Lokasi Pertama

Lebih rinci, laporan menyebut Ben-Gvir mau menerapkan program tersebut pertama kali di Penjara Ketziot, akomodasi pemasyarakatan di wilayah selatan Israel nan sebagian besar dihuni tahanan Palestina. Setelah usulan itu disampaikan, Israel Prison Service (IPS) disebut melakukan kajian internal.

Meski begitu, sejak Januari lalu, sejumlah petugas penjara sudah dikirim ke peternakan buaya Hamat Gader untuk mempelajari karakter reptil tersebut. Media Israel, Maariv, melaporkan IPS memberikan respons positif terhadap usulan tersebut.

Otoritas penjara apalagi mempertimbangkan menggunakan buaya berukuran lebih mini dengan nilai sekitar US$8.000 (sekitar Rp130 juta, dugaan kurs Rp16.300/US$) per ekor, dibandingkan buaya dewasa nan harganya mencapai US$20.000 (sekitar Rp326 juta) per ekor. Seorang sumber IPS nan dikutip Maariv mengatakan biaya tersebut relatif mini dibandingkan investasi keamanan nan dibutuhkan sebuah penjara.

Hingga sekarang belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Israel mengenai kapan alias apakah rencana tersebut bakal betul-betul diterapkan. Namun, wacana tersebut telah memicu perhatian luas lantaran dinilai sebagai salah satu usulan pengamanan penjara nan paling tidak lazim di Israel.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya