Ilustrasi.(Magnific)
ISRAEL dilaporkan tengah menyusun rencana operasional untuk menghadapi kemungkinan eskalasi lebih lanjut dalam bentrok antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski saat ini militer Israel dalam kondisi siaga tinggi, tiga sumber internal menyatakan bahwa negara tersebut tetap memilih untuk tetap berada di pinggir lapangan dan belum mempunyai rencana segera untuk terlibat langsung.
Hingga saat ini, Israel bukan merupakan peserta langsung dalam putaran pertempuran baru nan meletus pada awal Juli, menyusul serangan Iran di Selat Hormuz. Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa Washington belum meminta Israel untuk berasosiasi dalam kampanye militer tersebut. Namun, jika Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk memperluas serangan secara signifikan dan memanggil Israel, salah satu sumber menegaskan, "Kami bakal siap."
Skenario Keterlibatan Israel
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengadakan pertemuan keamanan terbatas pada Senin (20/7) malam untuk meninjau perkembangan terbaru mengenai Iran. Pertemuan tersebut membahas beberapa skenario nan dapat menarik Israel ke dalam pertempuran:
- Bergabung atas permintaan resmi dari Washington.
- Tindakan Iran nan memicu pembalasan langsung dari Israel.
- Serangan preventif Israel untuk menggagalkan ancaman nan dianggap mendesak.
Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Eyal Zamir, menegaskan kesiapan militer pada Minggu (19/7). "Kami siap untuk segera kembali bertempur dan bakal bertindak dengan kekuatan besar terhadap siapa pun nan merugikan kami," tegasnya.
Kepentingan Status Quo dan Tekanan Ekonomi
Terlepas dari kewaspadaan nan meningkat, Israel saat ini merasa cukup dengan kelanjutan status quo. Strategi ini membiarkan AS dan Iran saling berganti serangan sementara tekanan ekonomi terhadap Teheran terus meningkat. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyatakan bahwa konfrontasi terbatas ini justru menguntungkan kepentingan Israel.
"Cara terbaik untuk meruntuhkan rezim adalah dengan menghancurkannya secara ekonomi," ujar Smotrich pada suatu konferensi, Selasa (21/7). Ia menunjuk pada lonjakan inflasi di Iran sebagai bukti efektivitas tekanan tersebut. Penilaian Israel menunjukkan bahwa serangan AS baru-baru ini terhadap prasarana jembatan di dalam wilayah Iran telah memukul jaringan transportasi dan perdagangan negara tersebut secara signifikan.
Target Strategis dan Diplomasi
Seorang pejabat senior Israel mengatakan kepada CNN bahwa meskipun situasi tetap dinamis, kemungkinan Israel terseret ke dalam pertempuran meningkat dalam beberapa hari terakhir. Jika Israel akhirnya bergabung, konsentrasi serangan bakal diarahkan pada sasaran berbobot tinggi, terutama prasarana daya dan situs nuklir.
Target-target tersebut dianggap dapat menentukan hasil akhir perang, tetapi membawa akibat besar bagi negara-negara Teluk dan nilai minyak global, akibat nan sejauh ini dihindari oleh pihak Amerika Serikat.
Upaya Pertemuan Netanyahu-Trump
Di tengah ketegangan ini, Netanyahu dikabarkan telah mencoba mengatur pertemuan tatap muka dengan Donald Trump selama berminggu-minggu. Salah satu kesempatan nan sedang dijajaki adalah kunjungan Netanyahu ke AS minggu depan untuk menghadiri pemakaman Senator Lindsey Graham.
Hingga buletin ini diturunkan, belum ada tanggal pasti nan ditetapkan untuk pertemuan kedua pemimpin tersebut, nan terakhir kali berjumpa secara langsung pada Februari lalu, sebelum kampanye militer terhadap Iran dimulai. (CNN/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·