(Dok. Pribadi)
TIDAK ada orangtua nan menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa angan serta kepercayaan bahwa anaknya bakal tumbuh dalam lingkungan nan mengajarkan ilmu, membentuk akhlak, dan membangun keadaban.
Karena itu, setiap kali muncul berita tentang kekerasan di lingkungan pendidikan agama, nan terluka tidak hanya korban dan keluarganya. Ada luka lain nan patut kita sadari, ialah luka atas retaknya kepercayaan masyarakat. Dan, membangun kembali kepercayaan itu jauh lebih susah daripada menjaganya sejak awal.
Peristiwa seperti ini tidak boleh berakhir sebagai buletin nan mengundang kemarahan sesaat. Ia kudu menjadi bahan renungan bersama. Sebab, di saat ruang-ruang nan diharapkan dibangun untuk membentuk adab justru melahirkan kekerasan, ada sesuatu nan perlu kita benahi, ialah tidak hanya pada pelakunya, tetapi juga pada langkah kita menjaga amanah.
Persoalan serupa sesungguhnya tidak hanya kita temukan di pesantren. Kita juga pernah menyaksikan penipuan nan mengatasnamakan syariah, investasi nan menjual simbol agama, penyalahgunaan biaya umat, hingga beragam corak pelayanan ibadah nan lebih mengutamakan untung daripada pengabdian. Kita bisa memandang bentuknya boleh berbeda, tetapi polanya sama, ialah kepercayaan masyarakat dimanfaatkan untuk kepentingan nan sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai agama.
Tidak ada kepercayaan nan mengajarkan kekerasan. Tidak ada kepercayaan nan membenarkan penipuan. Tidak ada kepercayaan nan memberi tempat bagi penyalahgunaan kepercayaan. Karena itu, setiap upaya menjadikan kepercayaan sebagai tameng alias sebagai topeng bagi perbuatan-perbuatan semacam itu sesungguhnya sedang mencederai kepercayaan itu sendiri.
Kita pahami gimana dalil-dalil nan diturunkan berbincang tentang amanah bukan sekadar pesan moral. Ia merupakan sebuah fondasi dari setiap kepercayaan nan diberikan kepada seseorang.
Masyarakat menghormati guru, ulama, pengasuh pesantren, pembimbing ibadah, dan para pelayan umat bukan semata lantaran kedudukan alias kedudukannya. Mereka dihormati lantaran dipercaya menjaga amanah. Kepercayaan itulah nan menjadi sumber kewibawaan.
Sosiolog Max Weber pernah mengingatkan bahwa ada kekuasaan nan lahir bukan dari paksaan, melainkan dari kepercayaan. Orang mengikuti lantaran percaya. Justru lantaran itulah, penyalahgunaan kepercayaan selalu meninggalkan luka nan lebih dalam daripada penyalahgunaan kekuasaan biasa.
Beberapa waktu lalu, saya menulis bahwa jemaah haji tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas. Keyakinan itu tidak berubah. Namun, semakin lama saya mencermati beragam persoalan nan muncul di ruang-ruang keagamaan, semakin saya menyadari bahwa persoalannya lebih mendasar. Sebelum manusia diperlakukan sebagai komoditas, nan lebih dulu diperdagangkan adalah kepercayaan.
Pengalaman dalam penyelenggaraan haji mengajarkan banyak hal. Praktik rente, permainan kepentingan, alias beragam corak penyimpangan tidak pernah lahir begitu saja. Semua bermulai ketika pelayanan bergeser menjadi transaksi, ketika amanah dipandang sebagai peluang, bukan tanggung jawab. Pada saat itulah kepentingan pribadi mulai mengalahkan kepentingan umat.
Pelajaran itu bertindak di mana saja. Di pesantren, di lembaga pendidikan, di lembaga filantropi, di organisasi keagamaan, maupun dalam pelayanan publik nan berangkaian dengan ibadah. Selama ada kepercayaan, di situ ada amanah nan kudu dijaga.
Karena itu, tidak boleh ada kekebalan hanya lantaran seseorang mengenakan simbol kepercayaan alias mempunyai pengaruh di tengah masyarakat. Mengoreksi penyimpangan bukanlah corak permusuhan terhadap agama. Sebaliknya, itulah langkah menjaga kehormatan kepercayaan agar tidak diperalat oleh mereka nan menjadikannya tempat berlindung.
Agama tidak bakal kehilangan kemuliaannya hanya lantaran kita berani mengoreksi penyimpangan nan terjadi atas namanya. Justru kemuliaan kepercayaan dijaga oleh keberanian untuk menegakkan keadilan dan merawat kepercayaan nan dititipkan umat. Sebab, dikala kepercayaan itu hilang, nan bakal lenyap tidak hanya wibawa sebuah lembaga. Kita kehilangan kepercayaan bahwa kepercayaan tetap menjadi tempat paling kondusif untuk menitipkan harapan.
Kita kudu menempatkan aliran kepercayaan bahwa semakin berilmu dan dekat seseorang dengan agama, dia sejatinya semakin takut kepada Allah SWT, Tuhan nan Maha Esa, bukan sebaliknya. Pemahaman nan betul bakal menumbuhkan sifat khasyyah (rasa takut nan diiringi pengagungan) nan mencegah seseorang dari melakukan dosa, sehingga sejatinya pasti bisa menjaga amanah nan diemban.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·