JD Vance dan Jenderal Caine Peringatkan Trump Bahaya Eskalasi Perang Iran

14 jam yang lalu 7
JD Vance dan Jenderal Caine Peringatkan Trump Bahaya Eskalasi Perang Iran JD Vance.(Al Jazeera)

WAKIL Presiden Amerika Serikat JD Vance dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dilaporkan menyuarakan kekhawatiran serius mengenai rencana eskalasi perang terhadap Iran. Peringatan ini disampaikan saat Presiden Donald Trump mempertimbangkan beragam opsi militer dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat (24/7/2026).

Menurut laporan CNN nan mengutip sumber pejabat AS, Jenderal Caine secara spesifik menyoroti kondisi stok amunisi AS nan kian menipis. Meskipun Caine menegaskan bahwa militer AS bisa melaksanakan opsi serangan nan diinginkan Trump dengan sukses, dia memperingatkan ada implikasi negatif jangka panjang jika kampanye militer terus ditingkatkan.

Jeda Serangan Udara

Menyusul pertemuan tersebut, AS tampak menghentikan sementara pengeboman terhadap Iran pada Jumat malam. Langkah ini diambil setelah nyaris dua minggu berturut-turut AS melancarkan serangan udara. Sumber dari Departemen Pertahanan mengonfirmasi pada Sabtu bahwa operasi saat ini sedang dalam status ditangguhkan (on a hold).

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah kekhawatiran mengenai stok senjata alias akibat eskalasi menjadi argumen utama di kembali jarak serangan tersebut. Namun, penipisan persediaan senjata utama AS memang menjadi perhatian internal Pentagon sejak sebelum bentrok meluas.

Diplomasi di Tengah Ancaman Militer

Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menyatakan bahwa Presiden Trump tetap konsisten mengutamakan solusi diplomatik. Namun, Trump tetap mempertahankan semua opsi militer jika Iran terus melanjutkan aktivitas teror di Selat Hormuz alias terhadap sekutu AS.

"Dikombinasikan dengan hukuman sukses nan melumpuhkan ekonomi Iran dan 13 hari serangan berturut-turut terhadap sasaran militer, bakal bijak bagi Iran untuk mengupayakan kesepakatan negosiasi. Jika tidak, mereka tahu apa nan bakal terjadi," tegas Cheung dalam pernyataan resminya.

Di sisi lain, Trump mengungkapkan kepada wartawan bahwa pejabat AS sedang aktif bermusyawarah dengan Teheran. Ia mengeklaim Iran mulai menunjukkan sikap lebih serius dalam pembicaraan nan sedang berlangsung. Meski demikian, Trump tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan pengeboman alias apalagi memberikan dosis nan lebih berat jika negosiasi menemui jalan buntu.

Tekanan dari Negara Teluk

Selain pertimbangan internal, negara-negara Teluk juga dilaporkan mendesak AS untuk menahan diri. Meskipun mereka mengakui keahlian unik militer AS untuk meningkatkan konflik, stabilitas area menjadi prioritas utama nan disampaikan kepada pejabat manajemen Trump.

Di kembali retorika kerasnya di depan publik, Trump secara pribadi menginstruksikan para negosiatornya untuk terus berbicara. Hal ini menunjukkan pergulatan sang presiden dalam menghadapi realitas operasi militer nan terbatas tanpa kudu mengerahkan pasukan darat (boots on the ground).

Catatan Pentagon: Juru Bicara Utama Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa militer AS tetap nan terkuat di dunia. Ia menyatakan bahwa AS mempunyai persenjataan nan cukup untuk melindungi kepentingan dan rakyatnya kapan pun Presiden memilih untuk bertindak. (I-2)

Selengkapnya