Jelajahi Google Maps, Seorang Pria Temukan Kawah Meteor Berusia 390 Juta Tahun

3 hari yang lalu 9
Jelajahi Google Maps, Seorang Pria Temukan Kawah Meteor Berusia 390 Juta Tahun Kawah meteor berumur 390 juta tahun nan tertangkap kamera satelit Google Earth.(CBC/Gordon Osinski)

SAAT merencanakan liburan berkemah pada 2024, seorang astronom amatir berjulukan Joël Lapointe tidak sengaja menemukan susunan lingkaran mencurigakan di wilayah Côte-Nord, Quebec, melalui Google Maps. Penemuan tersebut sekarang telah dikonfirmasi tim peneliti sebagai kawah meteor berumur 390 juta tahun dengan diameter mencapai 25 kilometer. 

Gordon Osinski, seorang guru besar pengetahuan bumi planet di Western University nan memimpin tim peneliti, mengaku sangat terkesan dengan penemuan ini. Ia menjelaskan meskipun dirinya sering menerima laporan potensi kawah baru dari masyarakat, kebanyakan berhujung dengan kekecewaan. 

“Itu adalah penemuan nan cukup menarik,” ujar Osinski. “Ini menunjukkan meskipun 9 dari 10, alias 99 dari 100 laporan mungkin bukan kawah, selalu ada satu nan bakal mengejutkan Anda. Ini adalah nan pertama bagi saya.”

Osinski, nan telah bekerja di enam benua, menyebut ekspedisi ini sebagai salah satu nan tersulit nan pernah dia lakukan. Medannya sangat terjal dan tertutup semak belukar, apalagi tim kudu mengarungi air setinggi 50 meter dengan membawa peralatan komplit lantaran pesawat amfibi nan mereka tumpangi tidak bisa mendarat langsung di daratan.

Di lokasi, tim menemukan bukti geologis nan spektakuler, termasuk tebing batu leleh akibat suhu dan tekanan tinggi dari hantaman asteroid, serta pola shatter cones nan terbentuk akibat gelombang kejut hantaman meteor. Penemuan ini merupakan salah satu kawah terbesar nan ditemukan dalam beberapa tahun terakhir. 

Joël Lapointe merasa sangat senang mengetahui temuan awalnya sekarang telah diakui secara ilmiah. Kawah tersebut sekarang diberi nama Uhackatik, sebuah nama nan dipilih melalui konsultasi dengan Dewan Innu Ekuanitshit. 

“Bukan setiap hari penduduk biasa menemukan kawah berumur 390 juta tahun,” tulis Lapointe. Ia pun membujuk masyarakat untuk tidak mengabaikan intuisi alias observasi mereka, meskipun perihal tersebut berada di luar bagian skill masing-masing.

Saat ini, kawah tersebut menjadi sorotan di bumi sains internasional. Bulan depan, tim peneliti dijadwalkan untuk mempresentasikan absurd penelitian mereka di kongres tahunan Meteoritical Society di Jerman. 

Meskipun penelitian lebih lanjut di laboratorium dan lapangan mungkin tetap diperlukan, pengakuan resmi ini menandai tonggak sejarah krusial dalam memahami peristiwa purba nan turut membentuk permukaan bumi kita. (CBC/Business Today/Z-2)

Selengkapnya