Jika Harga Minyak Dunia Turun, Bahlil Minta SPBU Sesuaikan Harga BBM

1 hari yang lalu 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka bunyi mengenai penyesuaian nilai Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi nan biasa terjadi pada akhir bulan. Saat ini, pihaknya sudah melakukan rapat berbareng dengan badan upaya baik BUMN seperti PT Pertamina (Persero) dan juga swasta untuk segera melakukan penyesuaian jika nilai minyak bumi menurun.

Yang pasti, kata Bahlil, nilai BBM subsidi tidak mengalami kenaikan.

"Kita juga memastikan bahwa kenaikan terhadap BBM subsidi Insya Allah enggak ada kenaikan sama sekali. Bahkan ada berpotensi untuk beberapa jenis BBM nan ketika nilai bumi bakal turun kita sudah mulai meminta kepada badan upaya swasta termasuk Pertamina untuk segera melakukan penyesuaian," kata Bahlil, di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (20/7/2026).

Saat ditanya kemungkinan penurunan produk BBM non subsidi seperti Pertamax pada bulan depan, Bahlil menyatakan sedang melakukan kalkulasi terhadap nilai minyak dunia.

"Kita bakal melihat, saya sudah menghitung dan saya bakal melakukan rapat dengan badan upaya dari Pertamina maupun beberapa badan upaya lain. Ketika nilai minyak bumi turun, kita bakal menyesuaikan. Karena teman-teman tahu kab bahwa nilai kadang-kadang nilai ICP hari ini besok turunm enggak sama 2 hari naik lagi," tuturnya.

Meski begitu pemerintah dengan badan upaya tetap mencari formulasi nan bijak agar tidak memberatkan rakyat, khususnya pengguna BBM non subsidi.

"Ini kan totalnya 20% (kuota BBM non subsidi keseluruhan), saudara-saudara kita nan mampu, Tapi juga kita tidak memberatkan pelaku upaya di sektor perminyakan," tutur Bahlil.

Harga ICP Juni Turun US$83,45 per Barel

Kementerian ESDM menetapkan nilai minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Juni 2026 sebesar US$ 83,45 per barel. Angka ini mengalami penurunan dari ICP bulan sebelumnya nan dipatok sebesar US$ 106,56 per barel.

Penurunan nilai minyak mentah referensi di pasar internasional antara lain dipengaruhi oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah nan sebelumnya sempat memicu gejolak di pasar minyak dunia.

Seiring pulihnya jalur pengedaran dan berangsur stabilnya pasokan global, nilai minyak mentah Indonesia turut mengalami penurunan.

Penetapan ICP Juni tercantum dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 282.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Juni 2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi aspek utama nan menekan nilai ICP selama Juni 2026.

"Angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar US$22,50 per barel dibandingkan bulan sebelumnya nan berada di level US$106,56 per barel. Penurunan ini secara umum dipengaruhi oleh tensi bentrok antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran nan condong mereda sepanjang bulan Juni," kata Laode dalam keterangan tertulis, Senin (20/7/2026).

Selain meredanya ketegangan di Timur Tengah, gencatan senjata dan kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz secara berjenjang turut memengaruhi pasar. Pembukaan jalur tersebut memperlancar pasokan minyak bumi dan menekan nilai di pasar internasional.

Harga minyak turut dipengaruhi aspek esensial pasar. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan permintaan minyak bumi tumbuh 1,1 juta barel per hari (bph), sementara OPEC+ kembali meningkatkan produksi.

Rusia berencana meningkatkan pasokan minyak untuk memenuhi sasaran OPEC+ 2026. Kenaikan pasokan dan perlambatan permintaan menekan nilai minyak dunia.

Secara rinci, perkembangan rata-rata nilai minyak mentah utama pada Juni 2026 dibandingkan Mei 2026 adalah sebagai berikut:

- ICP minyak mentah Indonesia turun US$23,11 per barel, dari US$106,56 menjadi US$83,45 per barel.

- Brent di ICE turun US$18,73 per barel, dari US$103,71 menjadi US$84,98 per barel.

- WTI di Nymex turun US$16,11 per barel, dari US$98,51 menjadi US$82,41 per barel.

- Dated Brent turun US$21,42 per barel, dari US$107,55 menjadi US$86,13 per barel.

- Basket OPEC turun US$23,52 per barel, dari US$114,55 menjadi US$91,03 per barel berasas info hingga 28 Juni 2026.

Untuk Juli 2026, pemerintah memproyeksikan ICP berada pada kisaran US$67 hingga US$71 per barel. Realisasi nilai bakal berjuntai pada perkembangan pasar dan situasi geopolitik global.

Risiko nan tetap perlu diperhatikan antara lain kemungkinan eskalasi serangan baru nan dapat mengganggu produksi minyak. Di sisi lain, peningkatan pasokan dari Timur Tengah setelah pembukaan Selat Hormuz berpotensi kembali menekan harga.

"Pemerintah terus memantau perkembangan pasar minyak internasional secara berkala guna memastikan kestabilan nilai dan ketahanan daya nasional tetap terjaga dengan baik. Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi finansial negara dan aktivitas upaya hulu migas," ujar Laode.

Pemerintah bakal menjadikan perkembangan pasokan, permintaan, serta kondisi geopolitik sebagai dasar pemantauan ICP pada periode berikutnya. Perubahan ketiga aspek tersebut bakal menentukan arah nilai minyak mentah Indonesia sepanjang Juli 2026.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya