Pagar di perbatasan Maroko dan Spanyol.(Dok AFP)
JUMLAH korban meninggal dalam upaya masuk ke wilayah kantong Spanyol, Ceuta, nan berada di Afrika Utara dari arah Maroko, dilaporkan mencapai 90 orang. Informasi tersebut disampaikan oleh stasiun radio Spanyol Cadena Ser pada Minggu (2/8), dengan mengutip sejumlah sumber.
Berdasarkan laporan itu, abdi negara penegak norma Spanyol telah menemukan sebanyak 74 jenazah migran. Sementara itu, otoritas Maroko melaporkan telah menemukan 16 jenazah lainnya.
Gelombang besar migrasi terjadi di Ceuta pada akhir Juli 2026. Situasi tersebut meningkat setelah puluhan ribu orang berupaya memasuki wilayah tersebut dari Maroko. Pada Jumat, Presiden-Wali Kota Ceuta Juan Jesus Vivas menyebut sekitar 60.000 orang telah masuk ke kota itu dari Maroko hanya dalam kurun waktu satu hari.
Kondisi tersebut kemudian memicu kerusuhan di sejumlah titik. Pemerintah Spanyol merespons dengan mengerahkan tambahan personel kepolisian, Garda Sipil, serta pasukan militer untuk membantu mengendalikan keadaan.
Ceuta merupakan wilayah enklave Spanyol nan berada di pesisir utara Afrika dan berbatasan langsung dengan Maroko. Bersama Melilla, wilayah ini menjadi satu-satunya perbatasan darat nan menghubungkan Uni Eropa dengan Afrika.
Karena posisinya nan strategis, Ceuta dan Melilla dikenal sebagai salah satu jalur krusial nan sering digunakan dalam upaya migrasi tidak resmi menuju wilayah Uni Eropa.
"Pada Jumat, walikota-presiden Ceuta, Juan Jesus Vivas, mengatakan sekitar 60.000 orang telah memasuki kota dari Maroko dalam satu hari." (Ant/E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·