Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan untung perusahaan industri China kembali kehilangan momentum pada Juni 2026. Meski tetap tumbuh dua digit, kenaikan untung melambat untuk bulan kedua berturut-turut seiring turunnya nilai daya nan mengurangi dorongan terhadap pendapatan sektor industri.
Mengutip CNBC International, berasas info Biro Statistik Nasional (NBS) nan dirilis Senin (27/7/2026), untung perusahaan industri China naik 15,1% pada Juni dibandingkan periode nan sama tahun lalu. Namun, nomor tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 21,1% pada Mei, nan sebelumnya menjadi perlambatan pertama sejak November tahun lalu.
Secara kumulatif, untung industri pada semester I-2026 meningkat 18,7% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Angka itu sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 18,8% nan tercatat pada periode Januari-Mei.
Meski melambat, keahlian industri China sepanjang tahun ini tetap menunjukkan pemulihan nan signifikan. Setelah hanya mencatat pertumbuhan tipis pada 2025, untung perusahaan sekarang kembali tumbuh dua digit berkah lonjakan investasi di sektor kepintaran buatan (AI), khususnya pada industri semikonduktor dan manufaktur peralatan.
Pemulihan tersebut juga didukung oleh berakhirnya nyaris tiga tahun deflasi nilai di tingkat produsen. Tahun lalu, untung industri justru turun 3,6% pada Juni dan menyusut 2,8% sepanjang semester pertama 2025, sehingga pedoman komparasi nan rendah turut membantu kenaikan tahun ini.
Harga produsen juga sempat naik 3,6% secara tahunan pada kuartal II-2026. Ini menjadi kenaikan pertama sejak akhir 2022.
Namun, para ahli ekonomi menilai momentum tersebut mulai melemah. Pemulihan nilai sebelumnya banyak didorong oleh lonjakan nilai daya global, sementara permintaan domestik China tetap belum cukup kuat untuk menopang pertumbuhan secara berkelanjutan.
Data LSEG menunjukkan nilai produsen turun 0,3% secara bulanan pada Juni, menjadi penurunan pertama sejak Juli 2025. Pelemahan ini dipicu normalisasi arus pengiriman kapal melalui Selat Hormuz nan menekan nilai minyak mentah, bahan bakar olahan, dan produk petrokimia.
Pasar Tunggu Arah Kebijakan Beijing
Pelaku pasar sekarang menanti hasil rapat Politbiro Partai Komunis China nan biasanya digelar pada akhir Juli. Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin China bakal mengevaluasi keahlian ekonomi semester pertama sekaligus menentukan arah kebijakan untuk sisa tahun ini.
Sejumlah ahli ekonomi memperkirakan Beijing bakal memberikan sinyal pelonggaran kebijakan nan lebih kuat menyusul perlambatan ekonomi pada kuartal II. Namun, kesempatan munculnya paket stimulus besar dinilai tetap kecil.
Pemerintah China diperkirakan tetap berhati-hati lantaran ekspor tetap cukup kuat. Beijing tetap berupaya mengurangi kelebihan kapabilitas produksi di sektor manufaktur.
Kepala Ekonom China Morgan Stanley, Robin Xing, mengatakan support kebijakan kemungkinan bakal difokuskan pada percepatan shopping fiskal. Sehingga bukan melalui stimulus besar-besaran.
"Kami memperkirakan bakal ada peningkatan support kebijakan secara bertahap, bukan stimulus besar dalam satu kali langkah," ujar Xing.
Ia menambahkan pertumbuhan ekonomi China diperkirakan tetap cukup handal berkah kuatnya ekspor, meski permintaan domestik tetap lemah. Menurutnya, siklus investasi nan didorong perkembangan AI, di mana China menjadi pemasok utama perangkat keras, serta meningkatnya investasi industri di Asia bakal terus menjadi penopang pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
(sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
5







English (US) ·
Indonesian (ID) ·