Jakarta, CNBC Indonesia - Tragedi besar terjadi di Guyana setelah sebuah kapal feri nan mengangkut 133 orang terbalik di lepas pantai negara tersebut pada Sabtu (18/7/2026) malam. Puluhan orang dikhawatirkan tewas, sementara otoritas mengungkap dugaan daftar penumpang nan tidak jeli serta penggunaan narkoba oleh awak kapal menjadi aspek nan memperparah situasi.
Hingga Minggu malam waktu setempat, operasi pencarian dan pengamanan tetap berlangsung. Namun, tidak ada lagi korban selamat nan ditemukan sejak Minggu sore, ketika otoritas Guyana mengumumkan telah menyelamatkan 67 orang, termasuk 15 anak-anak.
Menteri Pekerjaan Umum Guyana Juan Edghill mengatakan kapten kapal beserta sejumlah awak sekarang telah diamankan oleh kepolisian.
"Operasi pencarian dan pengamanan tetap berlangsung," kata Edghill dalam konvensi pers pada Minggu malam, dilansir Reuters.
"Kepada family nan tetap menunggu berita orang-orang tercinta mereka, kami melakukan segala sesuatu nan secara manusiawi mungkin dilakukan untuk menemukan mereka," tambahnya.
Kapal feri MV Barima membawa 116 penumpang dan 17 awak saat berlayar dari ibu kota Georgetown menuju desa Port Kaituma. Menurut otoritas, kapal tersebut terbalik di perairan Samudra Atlantik Utara sekitar tujuh mil alias sekitar 11 kilometer dari garis pantai.
Menara pengawas lampau lintas udara menerima panggilan darurat dari kapal sekitar pukul 23.00 pada Sabtu malam, nan kemudian memicu operasi pencarian dan pengamanan besar-besaran.
Namun, Edghill mengakui respons awal terkendala kondisi gelap gulita dan minimnya kapal nan dilengkapi pemindai, sehingga tim penyelamat hanya mengandalkan penglihatan dan bunyi untuk mencari korban.
Sejak itu, sejumlah perusahaan sektor minyak dan gas mengerahkan kapal nan mempunyai peralatan pemindai untuk membantu operasi pencarian. Pemerintah juga mengaktifkan tim penyelam guna memasuki buntang kapal untuk mencari korban.
Wilayah pencarian pun diperluas secara signifikan dari sekitar 400 kilometer persegi menjadi 1.040 kilometer persegi.
Pada Minggu sore, Edghill sempat menegaskan tidak ada indikasi kelalaian dari operator kapal. Namun beberapa jam kemudian, dia mengungkap perkembangan baru nan mengejutkan.
Kapten kapal serta sedikitnya satu awak lainnya dinyatakan positif mengonsumsi ganja setelah menjalani pemeriksaan. Temuan tersebut sekarang menjadi salah satu konsentrasi penyelidikan aparat.
Masalah lain nan memperumit operasi pengamanan adalah ditemukannya sejumlah korban selamat nan rupanya tidak tercantum dalam manifes penumpang.
Hal tersebut mengindikasikan adanya ketidakakuratan daftar penumpang kapal sehingga otoritas kesulitan memastikan berapa jumlah pasti orang nan tetap hilang.
Akibatnya, tim penyelamat belum dapat memastikan secara pasti jumlah korban nan tetap kudu dicari.
Edghill mengatakan MV Barima telah menjalani perawatan pada 2024. Kapal tersebut juga dijadwalkan menjalani dry docking alias proses pengangkatan kapal dari air untuk pemeriksaan menyeluruh dan perbaikan pada akhir tahun ini.
Salah satu penumpang nan selamat, Leon Murray, menceritakan kepada media lokal Ignite News bahwa sekitar empat jam setelah kapal meninggalkan Georgetown, seseorang tiba-tiba berteriak bahwa kapal sedang tenggelam.
Setelah kapal terbalik, Murray sukses berenang ke permukaan dan menggunakan jaket pelampung agar tetap mengapung. Ia terus hanyut sembari berteriak meminta pertolongan hingga akhirnya menemukan putranya berbareng tiga orang lainnya nan berpegangan pada sebuah kotak terapung.
Murray dan putranya sukses selamat. Namun istrinya, putrinya, serta empat cucunya hingga sekarang belum ditemukan.
"Enam dari mereka hilang," ujarnya.
Perdana Menteri Guyana Mark Phillips mengatakan kapal tersebut melaporkan membawa muatan kargo seberat 268 ton, tetap di bawah kapabilitas maksimal 284 ton.
Menurutnya, kapal juga mempunyai izin mengangkut lebih dari 300 penumpang serta dilengkapi 250 jaket pelampung, enam rakit penyelamat tiup, dan dua rakit penyelamat kaku.
Meski demikian, pemerintah sekarang membuka penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran nan melibatkan personel kepolisian, angkatan pertahanan, hingga otoritas manajemen maritim.
"Izinkan saya menegaskan dengan sangat jelas: andaikan ditemukan adanya kelalaian, pelanggaran, alias tindak pidana, maka pihak nan bertanggung jawab bakal menghadapi balasan sesuai ketentuan norma nan berlaku," tegas Phillips.
(luc/luc)
Addsource on Google

1 hari yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·