Kapal Tanker di Laut Saudi Diserang, Iran Ancam Nihil Ekspor Minyak

1 jam yang lalu 2
Kapal Tanker di Laut Saudi Diserang, Iran Ancam Nihil Ekspor Minyak Ilustrasi.(Magnific)

KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah kembali mencapai titik kritis menyusul serangkaian kejadian militer dan ancaman ekonomi nan melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Meskipun kedua negara sempat memasuki tahap negosiasi pada Juni lalu, situasi di lapangan justru menunjukkan eskalasi nan membahayakan jalur perdagangan daya global.

Serangan Tanker di Lepas Pantai Arab Saudi

Pada Senin (24/8) pagi waktu setempat, United Kingdom Marine Trade Operations (UKMTO) melaporkan suatu kapal tanker terkena hantaman proyektil tidak dikenal saat berada di lepas pantai Arab Saudi. Insiden ini terjadi sekitar 101 km dari Yanbu.

Laporan dari petugas keamanan kapal menyebut bahwa serangan tersebut menghantam dek utama dan memicu kebakaran. Meski demikian, UKMTO memastikan bahwa seluruh kru kapal dalam kondisi kondusif dan tidak ada akibat lingkungan nan dilaporkan sejauh ini.

Ancaman Iran: Tidak Ada Setetes Minyak nan Diekspor

Di sisi lain, Teheran merespons keras tekanan ekonomi dari Washington. Mohsen Rezaee, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menegaskan bahwa negaranya bakal menghentikan seluruh ekspor minyak dari area tersebut jika perang ekonomi AS terus berlanjut.

Pernyataan Mohsen Rezaee: "Jika perang ekonomi berlanjut, tidak bakal ada satu tetes minyak pun nan diekspor, baik melalui Selat Hormuz maupun dari mana pun di Teluk Persia."

Rezaee juga memperingatkan bahwa Iran bakal menganggap negara mana pun nan mendukung operasi ekonomi Amerika Serikat terhadap rakyat Iran sebagai tindakan perang.

Eskalasi di Selat Hormuz

Selat Hormuz sekarang menjadi titik api utama. Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) mengumumkan protokol ketat bagi kapal-kapal nan melintas. Kapal nan dianggap melanggar protokol bakal menghadapi hukuman berat, mulai dari denda, penahanan, hingga penyitaan aset.

Langkah ini diambil setelah Presiden Donald Trump mengumumkan melalui platform media sosialnya bahwa pemerintahannya sedang memulai sesuatu yang dia sebut sebagai operasi ekonomi paling menghancurkan nan pernah dilakukan terhadap negara mana pun.

Latar Belakang Konflik

Konflik terbuka ini berakar dari pengumuman operasi tempur besar oleh Presiden Trump pada 28 Februari, nan melibatkan serangan campuran AS-Israel terhadap situs militer dan prasarana Iran. Walaupun nota kesepahaman (MoU) sempat ditandatangani pada Juni untuk mengakhiri perang, pertukaran serangan udara dan retorika ancaman di jalur maritim strategis terus bersambung tanpa kepastian perdamaian permanen. (ABC/I-2)

Selengkapnya