Ilustrasi(Magnific.com)
TREN olahraga di kalangan anak muda dinilai dapat menjadi penyeimbang terhadap style hidup nan minim mobilitas akibat kebiasaan scrolling media sosial nan berkepanjangan. Namun, faedah olahraga bagi kesehatan otak tidak hanya ditentukan oleh intensitas aktivitas fisik, melainkan juga oleh langkah tubuh menjaga aliran darah dan oksigen menuju otak.
Dosen Fisiologi FK-KKM UGM Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, mengatakan persoalan menurunnya kegunaan otak bukan terletak pada aktivitas scrolling itu sendiri, melainkan kebiasaan duduk terlalu lama nan menyertainya. “Otak manusia memerlukan sekitar 20 persen dari seluruh oksigen nan digunakan tubuh. Oleh lantaran itu, kata kunci pertama untuk menjaga kesehatan otak adalah oksigen,” ujarnya, Kamis (16/7).
Manusia sebagai makhluk bipedal, jelasnya menghadapi tantangan gravitasi nan memengaruhi pengedaran darah di dalam tubuh. Ketika seseorang berdiri secara tiba-tiba setelah berbaring, aliran darah menuju otak dapat berkurang hingga sekitar 60 persen sehingga tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri.
Ia menyarankan untuk tidak langsung berdiri setelah bangun tidur. Sebaliknya, disarankan memulai dengan berebahan miring selama sekitar 30 detik, dilanjutkan duduk sembari bermohon selama 30 detik, kemudian berdiri perlahan sembari melakukan aktivitas jinjit sekitar delapan kali untuk membantu memompa darah kembali ke otak.
Selain itu, kata Zaenal kebiasaan duduk dalam waktu lama disebut menjadi ancaman serius bagi kesehatan otak. Menurutnya, posisi duduk nan terlalu lama menyebabkan darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi sehingga suplai darah ke otak menjadi kurang optimal. “Masalah utamanya bukan semata-mata aktivitas scrolling, tetapi lantaran posisi duduk nan terlalu lama membikin darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi,” jelasnya.
Dokter Zaenal kemudian menyarankan masyarakat membatasi waktu duduk tidak lebih dari satu jam. Setelah itu, seseorang sebaiknya berdiri, berjalan, alias melakukan peregangan ringan selama sekitar dua menit sebelum kembali beraktivitas.
Dari penelitiannya menggunakan orthostatic test, menunjukkan keahlian tubuh beradaptasi terhadap perubahan posisi sangat dipengaruhi oleh kondisi organ-organ tubuh di bawahnya, terutama jantung, paru-paru, serta sistem sirkulasi darah. “Jika sistem dasar ini bekerja dengan baik, maka kegunaan otak juga bakal optimal. Sebaliknya, jika dasar ini terganggu, maka otak pun bakal mengalami gangguan,” katanya.
Lebih lanjut dia menjelaskan olahraga sekarang dipandang sebagai bagian dari terapi kesehatan melalui konsep Exercise is Medicine. Seperti halnya obat, olahraga juga kudu mempunyai jenis, dosis, intensitas, frekuensi, dan lama nan tepat agar memberikan faedah optimal.
“Selain meningkatkan kebugaran, olahraga juga merangsang produksi hormon endorfin nan membantu meningkatkan suasana hati serta mengurangi rasa nyeri,” jelasnya.
Ia mengingatkan tidak semua jenis olahraga mempunyai karakter nan sama dalam menjaga kesehatan otak. Olahraga kompetitif seperti futsal, tenis, alias bulu tangkis mempunyai pola mobilitas nan berubah-ubah sehingga memerlukan kesiapan bentuk nan baik. Ia mencontohkan tetap banyak kasus kematian mendadak nan terjadi saat berolahraga akibat ketidakseimbangan kerja sistem tubuh, terutama ketika seseorang berolahraga setelah makan.
“Apabila pusat nan mengatur sistem pencernaan terlalu dominan, misalnya lantaran seseorang berolahraga setelah makan, maka jantung bisa menjadi tidak optimal sehingga meningkatkan resiko gangguan jantung apalagi kematian mendadak,” jelasnya. Ia mengingatkan masyarakat untuk menghindari olahraga berat sesaat setelah makan, termasuk aktivitas seperti berenang nan berisiko menimbulkan kram maupun gangguan jantung andaikan dilakukan pada waktu nan tidak tepat.
Agar olahraga betul-betul memberikan faedah bagi kesehatan otak dan tubuh, dia menyebut terdapat tiga prinsip utama nan perlu diperhatikan. Pertama, olahraga kudu melibatkan golongan otot-otot besar, seperti tungkai dan lengan. Kedua, gerakannya berkarakter ritmis, misalnya melangkah cepat, jogging, alias bersepeda dengan irama nan stabil.
Ketiga, aktivitas dilakukan secara kontinu selama sekitar 30–40 menit tanpa sering berakhir alias mengalami perubahan intensitas nan drastis. "Dengan langkah seperti itulah olahraga dapat meningkatkan kebugaran tubuh sekaligus membantu menjaga kegunaan otak tetap optimal," pungkasnya.(H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·