Kekeringan di Jawa Tengah: 148 Desa Terdampak, 6,8 Juta Liter Air Disalurkan

16 jam yang lalu 7
 148 Desa Terdampak, 6,8 Juta Liter Air Disalurkan Penyaluran air bersih untuk penduduk Jateng.(Dok. MI)

PEMERINTAH Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) mempercepat penanganan akibat musim kemarau dengan menyalurkan 6,8 juta liter air bersih ke 25 kabupaten/kota nan terdampak kekeringan. Langkah ini diambil untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi cuaca ekstrem.

Hingga 24 Juli 2026, support tersebut tercatat telah menjangkau 61.139 kepala family alias sekitar 184.643 jiwa. Kepala BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, memaparkan bahwa wilayah terdampak tandus saat ini mencakup 83 kecamatan dan 148 desa. Selain itu, sebanyak 11 kabupaten/kota telah menetapkan status siaga darurat kekeringan.

“Total nan sudah diperbantukan alias terdistribusi sampai 24 Juli 2026 adalah 6,8 juta liter air bersih,” ujar Bergas saat melaporkan perkembangan situasi kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, Senin (27/7/2026).

Sumber Bantuan dan Wilayah Terdampak

Dari total pengedaran tersebut, sebanyak 4.853.800 liter berasal dari APBD Provinsi Jawa Tengah serta pemerintah kabupaten/kota. Sementara itu, 1.951.500 liter lainnya merupakan kontribusi dari support CSR, PMI, TNI-Polri, dan beragam lembaga terkait. Kabupaten Klaten, Pemalang, dan Banjarnegara tercatat sebagai wilayah dengan volume pengedaran air bersih terbesar.

Meski penyaluran terus dilakukan, Bergas menegaskan bahwa stok air bersih tetap sangat mencukupi. Dari total 44,9 juta liter nan disiapkan melalui APBD, tetap tersedia sekitar 40 juta liter cadangan.

“Yang perlu diperhatikan adalah ritme distribusinya. Dari sisi kesiapan air maupun anggaran tetap mencukupi,” tambahnya.

Selain kekeringan, BPBD mengingatkan lonjakan kasus kebakaran. Selama periode 5 Juni hingga 19 Juli 2026, tercatat 275 kejadian kebakaran nan terdiri dari 56 kebakaran rimba dan lahan (karhutla) serta 219 kebakaran gedung dan rumah. Kerugian materiil akibat karhutla mencapai Rp607 juta, sementara kebakaran gedung menelan kerugian hingga Rp27 miliar.

Mitigasi dan Ketahanan Pangan

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa mitigasi akibat tandus telah dipersiapkan sejak dini. Ia menginstruksikan seluruh kepala wilayah untuk memetakan wilayah rawan secara presisi agar pengedaran support tepat sasaran.

“Intinya kebutuhan air bersih tetap cukup, tinggal distribusi,” tegas Luthfi.

Selain kebutuhan domestik, pemerintah juga memprioritaskan pasokan air untuk sektor pertanian guna menjaga sasaran produksi padi Jawa Tengah tahun 2026. Luthfi mengungkapkan bahwa usulan support pompa air kepada Menteri Pertanian telah disetujui.

“Kemarin saya sudah ajukan ke Menteri Pertanian untuk support pompa air. Sudah disetujui, tinggal ditindaklanjuti oleh Dinas Pertanian dan Peternakan agar segera dikirim ke wilayah nan membutuhkan,” pungkasnya. (H-3)

Selengkapnya